
Supersemar News – Nama Sugianto Kusuma, atau yang lebih dikenal sebagai Aguan, terus menjadi sorotan publik.
Bukan hanya karena keberhasilannya membangun imperium bisnis properti raksasa, tetapi juga peran strategisnya dalam berbagai proyek nasional.
Termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN), dan kolaborasinya dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait.
Aguan dikenal sebagai figur visioner yang mampu melihat peluang di tengah tantangan, menempatkan dirinya sebagai salah satu konglomerat properti paling berpengaruh di Indonesia.
Melalui Agung Sedayu Group (ASG), perusahaan yang ia dirikan pada tahun 1971, Aguan telah menorehkan jejak yang tak terhapuskan di lanskap properti Tanah Air, mulai dari kawasan bisnis elite hingga kota mandiri yang ambisius.
Proyek Ikonik Menara Jakarta
Kiprah Aguan sebagai pengusaha cerdas dan strategis terlihat jelas dari kemampuannya mengambil alih proyek-proyek yang dianggap “mati” dan mengubahnya menjadi aset berharga.
Salah satu langkah paling berani Aguan adalah mengakuisisi Menara Jakarta, sebuah megaproyek di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang sempat terhenti selama bertahun-tahun.
Melalui Agung Sedayu Realestat Indonesia (ASRI), Aguan menggelontorkan dana sekitar Rp 7 triliun untuk melanjutkan pembangunan.
Akuisisi ini bukan sekadar investasi, melainkan bukti nyata keberaniannya mengambil risiko dan mengubah aset bermasalah menjadi potensi keuntungan yang menjanjikan.
Sementara itu, di jantung kawasan bisnis Jakarta, Sudirman Central Business District (SCBD), Aguan bersama Tomy Winata melalui Danayasa Arthatama memainkan peran sentral.
Kemitraan dua konglomerat ini menghasilkan superblok-superblok mewah seperti Pacific Place dan District 8, yang kini menjadi simbol modernitas dan daya tarik bagi perusahaan multinasional dan kalangan atas.
Kontribusi ini tidak hanya memperkuat posisi ASG di kelas properti premium, tetapi juga membentuk wajah Jakarta sebagai kota metropolitan global.
Ambisi Aguan tidak terbatas pada proyek-proyek individual, tetapi juga meluas pada pembangunan skala kota dan negara.
Proyek Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, contohnya, menjadi salah satu mahakarya Aguan yang paling ambisius.
Ia berkolaborasi dengan raksasa beraset lebih dari Rp 4.000 triliun, Salim Group di bawah bendera PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) untuk mengembangkan kota mandiri di Tangerang tersebut.
Kemitraan strategis ini menggabungkan kekuatan finansial dan jaringan luas dari dua konglomerasi raksasa, menciptakan sebuah kawasan terpadu dengan fasilitas lengkap, mulai dari hunian, mal, perkantoran, destinasi wisata, hingga rekreasi.
Pemimpin Konsorsium Nusantara
Sementara itu, di kancah proyek strategis nasional, Aguan dipercaya menjadi pemimpin Konsorsium Nusantara, kelompok investor dalam negeri yang mendukung pembangunan IKN.
Bersama nama-nama besar lain seperti Prajogo Pangestu, Boy Thohir, Pui Sudarto, Prajogo Pangestu, Anthoni Salim, Djoko Susanto, Eka Tjandranegara, Kuncoro Wibowo, Soejadjaya, dan Franky Widjaja, Aguan mengkoordinasikan investasi vital.
Salah satu proyek awal mereka adalah pembangunan Swissotel Nusantara, yang menjadi fasilitas kunci untuk operasional IKN.
Keterlibatan Aguan menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap kapabilitasnya dalam merealisasikan visi besar Indonesia.
Di balik citranya sebagai pengusaha tangguh, Aguan juga dikenal memiliki sisi humanis yang kuat, yang ia wujudkan melalui berbagai kegiatan sosial berskala besar.
Kedekatannya dengan Menteri Ara mengantarkannya pada keterlibatan dalam program ambisius pemerintahan Prabowo Subianto, yaitu pembangunan 3 juta rumah untuk mengatasi backlog perumahan.
Aguan secara langsung berkomitmen untuk menyumbangkan Rp 60 miliar per tahun melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaannya.
“Kalau kita nunggu dulu kriteria, data penerima, waduh habis berapa bulan,” ujarnya, menunjukkan filosofi pragmatisnya untuk segera bertindak.
Tak hanya itu, ia juga memulai pembangunan 250 unit rumah gratis tipe 36 di atas lahan yang dihibahkan, di Tangerang.
Setelah Tangerang, Aguan juga merambah sejumlah kota, membangun dan merenovasi rumah rakyat. Termasuk 500 unit rumah rakyat miskin di Bandung.
Filantropis
Sejak lama, Aguan adalah pendukung aktif Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Melalui yayasan ini, ia berkontribusi dalam berbagai misi kemanusiaan, mulai dari renovasi ratusan rumah di Jakarta dan Bandung hingga pembangunan infrastruktur kesehatan vital.
Pembangunan Rumah Sakit Tzu Chi di PIK menjadi salah satu bukti nyata komitmennya untuk menyediakan fasilitas kesehatan modern bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang kurang mampu.
Aguan adalah sosok multifaset yang tidak hanya piawai dalam membaca tren pasar, tetapi juga memiliki insting kuat dalam membangun kemitraan strategis dan mewujudkan tanggung jawab sosialnya.
Dari “menghidupkan” proyek yang terbengkalai, membangun kota-kota baru, hingga berkontribusi pada program perumahan rakyat, Aguan adalah cerminan seorang maestro properti yang berperan aktif dalam membentuk masa depan bisnis dan sosial Indonesia.
(Kompas.com)
(Lilis Susanti)