
SupersemarNews, Jakarta – Kepolisian Negara Republik Indonesia membangun Laboratorium Sosial Sains Kepolisian di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang sebagai bagian dari langkah transformasi menuju institusi yang modern, adaptif, dan berbasis ilmu pengetahuan.
Fasilitas ini dirancang menjadi ruang integrasi antara teori dan praktik melalui pendekatan data, riset, serta simulasi. Dengan demikian, diharapkan lahir kebijakan dan tindakan kepolisian yang presisi sekaligus humanis dalam menjawab berbagai tantangan di masyarakat.
Wakil Kepala Polri, Dedi Prasetyo, menegaskan bahwa kehadiran laboratorium tersebut menjadi krusial di tengah perubahan cepat akibat digitalisasi dan dinamika global. Menurut dia, institusi kepolisian perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui penguatan pendekatan ilmiah dalam setiap pengambilan kebijakan.
Selain pembangunan fasilitas, Polri juga memperkuat jejaring akademik dengan menggandeng 15 perguruan tinggi yang memiliki 30 Pusat Studi Kepolisian yang siap operasional dan telah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS), meski masih menunggu peluncuran.
Di samping itu, terdapat 17 perguruan tinggi lain yang juga telah menjalin PKS.Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan berbagai rekomendasi kebijakan dan inovasi melalui forum diskusi kelompok terarah (FGD).
Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan profesionalitas, kualitas pelayanan publik, serta menjaga keamanan masyarakat secara adaptif dan berbasis bukti.“Transformasi Polri tidak hanya menyentuh aspek struktural, tetapi juga menyasar perubahan cara berpikir, budaya kerja, dan tindakan yang selaras dengan tuntutan zaman serta ekspektasi masyarakat,” ujar Dedi, seperti dikutip dari Tribratanews Polri, Minggu. 29/3/2026
