SAMPIT, Supersemar News – Kepastian pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April 2026  ini tentu menjadi angin segar dan melegakan bagi masyarakat di seluruh daerah di Indonesia.

Tak terkecuali masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.

‎Sempat diwarnai isu kenaikan, pemerintah melalui Pertamina Patra Niaga akhirnya memastikan seluruh jenis BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, tetap dijual dengan harga sebelumnya di seluruh SPBU.

‎Keputusan ini menjadi angin segar bagi warga yang menggantungkan aktivitas harian pada stabilitas Harga BBM, mulai dari sektor transportasi hingga distribusi barang.

‎Berdasarkan rilis resmi, Harga BBM subsidi masih berada pada level yang sama, yakni Pertalite Rp 10.000 per liter dan Solar Rp 6.800 per liter.

‎Di Sampit, kabar ini langsung terasa dampaknya di tengah masyarakat. Salah satunya dirasakan Ridwan, driver ojol atau ojek online yang setiap hari bergantung pada BBM untuk mencari nafkah.

‎Ia mengaku sempat khawatir dengan isu kenaikan yang beredar, apalagi di tengah kabar terganggunya distribusi minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

‎”Kalau BBM sampai naik, mungkin saya bisa berhenti narik. Soalnya penghasilan tidak sebanding dengan biaya operasional, kecuali tarif jasa ikut naik,” ujarnya.

‎Ridwan menuturkan, dalam kondisi normal, ia menghabiskan sekitar Rp 35 ribu untuk sekali pengisian penuh tangki motornya, yang biasanya cukup untuk tiga hari operasional.

‎Menurutnya, kenaikan harga BBM akan sangat berdampak langsung terhadap penghasilannya.

‎“Saya sudah sempat pusing membayangkan kalau benar naik. Alhamdulillah tidak jadi,” katanya.

‎Ia pun menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya Presiden RI, Prabowo Subianto, atas kebijakan yang dinilai meringankan beban masyarakat kecil.

‎Rasa syukur serupa juga disampaikan Dewi, seorang ibu rumah tangga di Sampit.

‎Dalam kesehariannya, Dewi menggunakan mobil pribadi untuk mengantar dan menjemput anak.

‎Ia mengaku pengeluaran BBM cukup besar, mencapai sekitar Rp 300 ribu setiap kali pengisian.

‎“Alhamdulillah tidak jadi naik. Kalau naik pasti terasa sekali di pengeluaran rumah tangga,” ungkapnya.

‎Ia pun mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat.

‎Keputusan untuk menahan harga BBM ini dinilai memberikan kepastian sekaligus menjaga daya beli masyarakat, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Sumber : TribunKalteng