
SOLO, Supersemar News – Kawat berduri terpasang di pagar Sasana Nalendra, Kompleks Keraton Solo.
Lembaga Dewan Adat (LDA) menilai, hal ini sebagai isyarat bahwa pihak Pakubuwono (PB) XIV Purbaya menutup diri.
Sementara kubu PB XIV Purbaya mengklaim pemasangan dilakukan untuk menjaga keamanan tempat tinggal raja.
Ketua LDA, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng) mengatakan, semula ia hanya melihat kawat saja pada Selasa (9/6/2026).
”Nah, itu saya juga baru lihat. Kemarin tuh saya masuk, itu masih hanya kawat saja. Ternyata hari ini, ya mungkin tadi malam atau kemarin sore ya itu dipasang pakai apa seng,” ujarnya kepada awak media Rabu (10/6/2026).
Ia mengatakan, kawat berduri tersebut dipasang di Sasana Nalendra, Keputren menuju Keraton Kilen.
Gusti Moeng menilai, pemasangan kawat berduri tersebut secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa pihak PB XIV Purbaya mencoba menutup diri.
”Jadi ini mengulangi yang lalu itu, diseng itu. Jadi dia sudah enggak mau berinteraksi dengan kami toh mestinya, gitu,” kata Moeng.
Namun demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti maksud dan tujuan pemasangan kawat berduri itu.
Menurutnya pemasangan kawat berduri biasanya untuk menghalau pengerahan massa saat terjadi kerusuhan.
”Saya enggak tahu. Enggak tahu no, enggak tahu. Mungkin mereka mikir kita mau bikin kerusuhan apa gimana. Kalau setahu saya, kawat berduri seperti itu kan untuk menghalau kalau ada pengerahan massa, terus akan terjadi kerusuhan gitu, untuk membatasi supaya tidak anu, kan?,” ungkapnya.
Saat ditanya pemasangan kawat berduri di Keraton Solo yang merupakan cagar budaya, Moeng enggan berkomentar lebih.
”Saya enggak bisa ini ya. Biar aja nanti, mungkin karena dia merasa aman kalau pakai itu, gitu,” katanya.
Tanggapan Pihak PB XIV Purbaya
Juru Bicara PB XIV Purbaya, KPA Singonagoro membenarkan adanya pemasangan kawat berduri di Sasana Nalendra Kompleks Keraton Solo.
Singonagoro mengatakan pemasangan kawat berduri dilakukan untuk menjaga keamanan tempat tinggal Raja Keraton Solo, PB XIV Purbaya.
”Jadi gini, di situ kan tempat tinggalnya Raja. Tempat tinggalnya Raja dan Juga tempat tinggalnya Gusti Kanjeng Ratu Ageng, istri sawargo PB XIII. Maka kan itu juga untuk keamanan. Karena kan kita juga melihat di wilayah situ kan juga sering ada lalu lalang kan gitu juga,” terangnya.
Ia menepis isu mengenai pemasangan kawat berduri dilakukan lantaran adanya ancaman keamanan maupun tindakan yang berpotensi membahayakan.
Pemasangan Disebut Lumrah
Menurutnya pemasangan kawat berduri lumrah dilakukan oleh beberapa orang penting.
”Oh ndak, ya biasa aja. Jangan kan kok di Nalendro sini, wong saya lihat di beberapa rumah dinas Bupati, Wali Kota, atau Kapolres itu juga ada kok hal-hal semacam itu. Kan enggak masalah juga,” katanya.
Dia kembali mempertanyakan pemasangan seng yang pernah dilakukan oleh Gusti Moeng.
”Yang perlu dipertanyakan itu malah mungkin kalau contoh umpama kayak dulu, Keraton diseng sama Gusti Moeng, lah itu baru bisa katakan heboh. Kalau cuman kawat berduri dan itu ditempatkan kan juga penempatannya di atas pagar kan juga enggak masalah gitu lho,” terangnya.
Ia mengatakan bahwa pemasangan kawat berduri di pagar Sasana Nalendra tidak membuat akses pintu tertutup.
Namun ia menegaskan bahwa pintu tersebut bersifat privat.
Sumber : kompas.com