
Supersemar News – Penghentian operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selama masa libur sekolah tak hanya menghentikan aktivitas memasak Makan Bergizi Gratis (MBG). Bahkan, sejumlah relawan di dapur SPPG Kutawaringin, Kabupaten Bandung, kini harus menghadapi persoalan ekonomi karena kehilangan pemasukan, bahkan ada yang kesulitan membayar cicilan.
Asisten Lapangan (Aslap) Dapur SPPG Kutawaringin, Restu Risnadi Abdillah mengaku mengetahui langsung kondisi anak buahnya yang terdampak setelah operasional dapur dihentikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurut Restu, para relawan yang selama ini bekerja di dapur SPPG mengandalkan insentif dari kegiatan MBG untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
”Tentunya sangat jelas, kalau tidak operasional, tidak ada insentif untuk relawan dan mitra. Ini jadi hambatan ekonomi, seluruh aspek, lalu ada UMKM dan relawan kehilangan mata pencarian satu bulan ini karena inkonsistensinya keputusan BGN,” ucap Restu seusai mengikuti konsolidasi Serikat Pekerja MBG se-Jawa Barat di kawasan Jalan Leuwipanjang, Kota Bandung, Senin (22/6/2026).
Sulit Penuhi Kewajiban Keuangan
Dampak paling terasa, kata dia, mereka kesulitan memenuhi kewajiban keuangan karena tidak lagi memiliki pemasukan dari kegiatan MBG.
”Kalau misalnya di Kutawaringin salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung, ada beberapa relawan yang pada akhirnya berhadapan dengan hukum karena memang bermasalah terkait pemasukan dia sehingga pada akhirnya karena tidak adanya MBG ini tidak ada pemasukan untuk menunaikan tanggung jawab dia,” ucapnya.
Melihat kondisi tersebut, Restu berharap BGN lebih mempertimbangkan nasib relawan dan mitra saat mengambil keputusan.
Menurutnya, para relawan merupakan ujung tombak keberlangsungan program MBG sehingga perlu dilibatkan dalam setiap kebijakan.
”Yang pertama bagaimana BGN itu bisa lebih kooperatif dalam membuat sebuah keputusan tentunya keberpihakannya itu harus kepada relawan itu sendiri dan mitra,” tutur Restu.
Dampak B3
Restu berharap BGN tidak hanya mengeluarkan keputusan secara satu arah, tetapi juga membuka ruang dialog dengan para relawan dan mitra yang menjalankan program di lapangan.
Selain nasib relawan, Restu juga mempertanyakan penghentian distribusi MBG bagi kelompok B3, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, yang sebelumnya menjadi kelompok prioritas penerima manfaat.
”Hari-hari ini malah B3 tidak mendapatkan distribusi MBG malah disesuaikan dengan libur sekolah gitu. Sebenarnya kan tidak konsisten statement dari BGN,” tuturnya.
Sumber : kompas.com