
JAKARTA, Supersemar News – Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS), Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan sejumlah temuan terkait jejak Kota Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Di sistem permukimannya, penduduk Majapahit diduga memiliki akses ke sumber air bersih. Hal tersebut disampaikan Peneliti PRAPS BRIN, Yusmaini Aryawati dalam webinar Forum Kebhinnekaan Seri #37 “Wawasan Baru di Metropolitan Majapahit”, dikutip dari laman BRIN, Kamis (23/7).
Ia mengungkapkan, gambaran akses ke air bersih tersebut tampak dari temuan kembali 63 sumur kuno di kawasan Nglinguk Wetan, salah satu area Kota Majapahit di sana.
Kota Majapahit di Mojokerto
Berdasarkan sebaran tinggalan arkeologi, Yusmaini menjelaskan, luas Kota Majapahit di Trowulan mencapai sekitar 10 km x 10 km persegi. Kawasannya meliputi beberapa desa dan kecamatan di Mojokerto.
Ia menggarisbawahi, kawasan Trowulan sendiri sudah dihuni jauh sebelum Kerajaan Majapahit muncul. Berdasarkan jejak permukiman di sana, para warga sudah bermukim sejak abad ke-10 Masehi, saat Kerajaan Mataram Kuno berdiri.
Permukiman warga di Trowulan kemudian berlanjut pada masa Kerajaan Singhasari, hingga puncak perkembangannya di masa berdirinya Kerajaan Majapahit.
Peneliti PRAPS BRIN, Sugeng Riyanto, mengatakan, ada dugaan bahwa karakter permukiman Majapahit di Trowulan merupakan kelanjutan dari era Singhasari.
Dugaan tersebut berangkat dari perkiraan bahwa Singhasari dan Majapahit berasal dari satu garis keturunan, yaitu Wangsa Rajasa. Garis keturunan ini diperkirakan bermula sejak Ken Arok menaklukkan Kerajaan Kediri pada 1222 Masehi.
Pola Permukiman di Majapahit
Di kawasan Trowulan tersebut, peneliti mendapati ada pola permukiman setingkat kota.
“Data arkeologi menunjukkan adanya pola permukiman setingkat kota yang terbagi dalam sejumlah klaster, seperti Sentonorejo, Segaran, Pendopo Agung, Nglinguk, Grogol, Pakis, dan Puri,” kata Yusmaini.
Kawasan Elite di Sentonorejo
Kawasan Sentonorejo diduga peneliti sebagai kawasan elite. Para raja dan bangsawan tinggal di kawasan ini.
Kawasan ini juga dilengkapi Pamerajan Agung, area sakral seperti pura yang dimiliki istana. Diketahui, Kerajaan Majapahit bercorak Hindu-Buddha.
63 Sumur Kuno
Sementara itu, di Nglinguk Wetan, peneliti menemukan kembali 63 sumur kuno, yang memberikan gambaran akses warga ke sumber air bersih. Sumur-sumur ini dibuat dengan teknologi, bentuk, dan ukuran berbeda-beda.
Masih Banyak Misteri soal Majapahit
Kepala PRAPS BRIN Irfan Mahmud mengatakan, proyek Indonesian Field of Archaeology di Trowulan pada 1990-an telah menghasilkan sangat banyak data arkeologi. Namun, masih banyak hal yang belum terungkap, seperti batas kota, struktur permukiman, sistem pengelolaan air, jaringan jalan, kawasan industri, hingga lanskap budaya Majapahit.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya penelitian Majapahit yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, seperti geologi, geografi, arsitektur, ilmu lingkungan, teknologi digital, penginderaan jauh, hingga kecerdasan artifisial.
Pendekatan multidisiplin ini diharapkan dapat menghasilkan rekonstruksi sejarah yang lebih komprehensif sekaligus mendukung pelestarian kawasan warisan budaya. Terlebih, perkembangan kota Majapahit dinilai kompleks, sehingga tidak dapat dijelaskan hanya melalui kajian arkeologi.
“Majapahit merupakan memori kolektif bangsa yang merekam perkembangan politik, ekonomi, teknologi, tata kota, hingga interaksi budaya Nusantara,” ucapnya.
Agar penelitian beriringan dengan pelestarian kawasan Majapahit, Irfan mengatakan, BRIN butuh bersinergi dengan berbagai pihak. Termasuk di antaranya yaitu dengan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Hery Jogaswara, mengatakan, BRIN masih terus berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan untuk mendukung ekskavasi di kawasan Majapahit.
Ia menambahkan, pihaknya juga tengah mempersiapkan program penelitian jangka panjang di Situs Liyangan, Jawa Tengah.
Sementara itu, ia menekankan perkembangan penelitian di berbagai situs arkeologi, termasuk Sentonorejo, perlu terus disampaikan kepada masyarakat berdasarkan temuan ilmiah. Harapannya, warga semakin memahami nilai penting warisan budaya Indonesia.
Sumber : detik.com
