JAKARTA, Supersemar News – Roda kehidupan berputar untuk mereka yang mau benar-benar berusaha.

Kalimat tersebut cocok untuk menggambarkan lika liku kehidupan pria bernama Zahroni (45), warga Muara Angke, Jakarta Utara.

Dulu, ia dan istrinya tinggal di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, dan bekerja sebagai sopir odong-odong.

Setiap hari, Zahroni mengangkut puluhan penumpang ibu-ibu dan anak-anak yang ingin berjalan-jalan di kawasan Cilincing.

Penghasilan menarik odong-odongnya tersebut bisa mencapai Rp 200.000-an per hari, sehingga Zahroni bisa menghidupi keluarganya.

Meski terjadi lockdown, Zahroni masih bertahan menjadi sopir odong-odong di tahun 2019 tersebut.

“Namun, melihat kondisi yang tidak kunjung membaik selama bertahun-tahun, saya merasa bingung bagaimana caranya mencukupi kebutuhan anak dan istri,” tutur dia ketika diwawancarai Kompas.com di kediamannya, Kamis (23/7/2026).

Kondisi semakin sulit karena istrinya saat itu sedang hamil empat bulan, sehingga Zahroni harus berpikir bagaimana mencari penghasilan yang lebih stabil.

Pindah ke Muara Angke
Di tengah himpitan ekonomi, Zahroni pun nekat memboyong anak dan istrinya untuk berpindah tempat tinggal di Muara Angke.

Sebab dulu, ketika masih bujangan, Zahroni sempat tinggal dan bekerja serabutan di Muara Angke.

Jadi, ia berpikir peluang pekerjaan akan jauh lebih banyak di Muara Angke, asalkan mau berusaha.

Sekitar tahun 2021 ketika Pandemi Covid-19 tak kunjung selesai melanda Indonesia, ia pun resmi pindah ke Muara Angke.

Ketika pertama kali datang ke Muara Angke lagi, Zahroni hanya mampu menyewa rumah sepetak dengan harga Rp 700.000 per bulannya.

“Ketika itu mencari makan dan uang untuk biaya kontrakan saja terasa sulit. Akhirnya, saya bekerja sebagai kuli pasar lagi,” ungkap dia.

Ia bisa mendapat tawaran pekerjaan sebagai kuli pasar tersebut, karena bertemu dengan teman lamanya yang merupakan pedagang seafood.

Ia pun dipercaya untuk membantu rekannya tersebut untuk mengangkut dagangan dan menjualnya di pasar.

Upah berkurang
Zahroni, mengaku sangat bersyukur karena masih bisa bekerja sebagai kuli pasar yang dibayar sekitar Rp 200.000 per hari.

Pendapatan tersebut, cukup untuk memberi makan tiga orang anak dan istrinya yang sedang hamil.

Di sisi lain, ia juga bisa menabung sedikit demi sedikit untuk membayar kontrakan setiap bulannya.

Tapi, seiring berjalannya waktu, upah Zahroni menjadi kuli pasar justru berkurang.

“Namun, lama-kelamaan upah saya berkurang menjadi Rp 150.000, lalu Rp 100.000, karena bos menambah karyawan baru sehingga gaji saya dipotong,” ungkap dia.

Tak mau gajinya terus dipotong, Zahroni berusaha mencari cara lain agar memiliki penghasilan sampingan.

Akhirnya, ia memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram untuk memasarkan dagangan bosnya tersebut.

Ternyata banyak orang yang berminat untuk membeli dagangannya usai diunggah di media sosial.

Seiring berjalannya waktu, Zahroni memiliki pelanggan sendiri yang selalu membeli beraneka ragam seafood ke dirinya.

Semakin banyaknya pelanggan, membuat Zahroni memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai kuli pasar.

Ia pun langsung mengambil seafood dari para nelayan untuk dijual kembali ke para customer-nya.

Puluhan restoran
Selain menjual ke per orangan, ia juga memasok seafood ke 20 restoran di Jakarta, meski tak semuanya memesan setiap hari.

Selain itu, Zahroni juga menyuplai seafood ke 10 pedagang yang ada di Pasar Muara Angke dan Muara Baru.

Fokus utama seafood yang dijualnya adalah 20 jenis kerang, mulai dari kerang hijau, dara, bambu, batik, macan, dan lain sebagainya.

“Namun, jika ada permintaan dari restoran untuk menyediakan kepiting, lobster, ikan, udang, atau cumi-cumi, saya siap membantu mencarikannya,” ucap Zahroni.

Ayah empat orang anak itu bilang, apabila ada permintaan selain kerang, ia hanya bantu membelanjakannya saja, namun tetap ada biaya jasa yang harus dibayarkan customer.

Zahroni berfokus untuk menyetok kerang di gudang yang disewa dekat rumah, karena banyak peminatnya.

Dalam satu hari, kini ia bisa menjual sekitar 100 hingga 300 kilogram berbagai jenis kerang.

Namun, di momen-momen seperti tahun baru, permintaan kerangnya bisa melonjak hingga tembus satu ton per hari.

Hidup tercukupi
Berkat kerja kerasnya itu, kini ia mampu memenuhi segala kehidupan istri dan empat orang anaknya.

Rumah Zahroni tak lagi mengontrak, tapi sudah dibangun lantai dua, karena juga diperuntukkan untuk usaha seafoodnya.

Di sisi lain, Zahroni juga bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

Tak hanya itu, pendapatan yang berlebih juga membuatnya lebih mudah menyengkan keluarga.

Jika dulu untuk makan saja sulit, kini Zahroni bisa mengajak istri dan anak-anaknya rutin pergi ke mal setiap bulan.

Perkembangan usaha seafood frozen
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Provinsi Jakarta Hasudungan Sidabalok, melihat dalam beberapa tahun terakhir memang terjadi perkembangan yang cukup pesat dalam pemanfaatan digitalisasi UMKM seafood frozen di Muara Angke.

“Semakin banyak pelaku usaha yang tidak lagi hanya mengandalkan penjualan secara konvensional atau offline, tetapi mulai memanfaatkan marketplace, media sosial, layanan pesan instan, hingga platform pengiriman instan untuk memperluas jangkauan pasar,” jelas dia ketika dihubungi Kompas.com, Kamis.

Dengan digitalisasi produk seafood frozen menjadi lebih mudah dipasarkan, karena didukung oleh kemajuan sistem logistik rantai dingin atau cold chain.

Oleh karena itu, Hasudungan mengapresiasi langkah Zahroni yang mau mengikuti perkembangan teknologi dalam berjualan seafood forzen.

Sebab, belum semua pedagang mau memanfaatkan teknologi digital untuk menjual produknya.

Beberapa masih lebih senang menjual seafood secara konvensional di pasar dan menunggu para pembeli yang datang.

Program dari pemerintah
Hasudungan mengatakan, Dinas KPKP selalu berusaha meningkatkan minat pedagang untuk memanfaatkan digitalisasi.

Oleh karena itu, Dinas KPKP memiliki program untuk mendorong para pelaku UMKM beralih ke digital dengan memberikan pelatihan.

“Pelatihan digital marketing, meliputi pemanfaatan media sosial, marketplace, fotografi produk, pembuatan konten, hingga strategi branding agar produk olahan perikanan memiliki jangkauan pasar yang lebih luas,” ucap Hasudungan.

Selain itu, Dinas KPKP juga tak henti melakukan pendampingan terhadap peningkatan kapasitas dan kualitas UMKM seafood frozen.

Peningkatan kapasitas dan kualitas dilakukan melalui pelatihan pengemasan atau packaging, desain label, dan penyusunan katalog agat produk seafood frozen lebih kompetitif di pasar daring.

Selain itu, Dinas KPKP juga memfasilitasi pemasaran produk para pedagang melalui JakPreneur dan pameran UMKM.

Dengan cara tersebut, para UMKM dapat mempromosikan produknya baik secara luring maupun melalui kanal digital yang disediakan Pemprov DKI Jakarta.

Kegiatan pelatihan tersebut pun diikuti oleh berbagai komoditas, tidak hanya produk perikanan.

Sumber : Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *