epa13126898 Door marshallers stand by the remains of First Lieutenant Tyler James Feehan (C-R), who was killed in an Iranian airstrike in Jordan, and Staff Sergeant Michael Emmanuel Swinton (C-L), who was killed in Iraq during the controlled detonation of an Iranian drone, during a dignified transfer at Dover Air Force Base in Dover, Delaware, USA, 22 July 2026. Four US service members have been killed since the ceasefire between Iran and the US fell apart. EPA/JIM LO SCALZ

TEHERAN, Supersemar News — Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Jumat (24/7/2026) seperti dikutip Yeni Safak, mengimbau warga di kawasan Timur Tengah hindari gedung-gedung yang diduga dijadikan tempat persembunyian oleh tentara Amerika Serikat (AS). IRGC mengeklaim pasukan AS terpaksa diungsikan dari pangkalan dan “telah meninggalkan pangkalan-pangkalan mereka ke gedung-gedung di area padat penduduk.”

Menurut IRGC, warga sipil harus “segera berada dalam jarak sedikitnya 500 meter” dari lokasi-lokasi tempat tentara AS berada, sembari mengingatkan bahwa infrastuktur atau gedung tersebut menjadi target sah untuk diserang. Perintah IRGC itu dikeluarkan berdasarkan hasil asesmen yang menyimpulkan bahwa saat ini AS memindahkan infrastruktur komandonya ke pusat kota di Timur Tengah.

IRGC menuduh pasukan AS telah menargetkan infrastruktur sipil di Iran, termasuk jembatan, galangan kapal, kapal-kapal, dan rel kereta mengalami kerusakan. Tudingan Iran itu menunjukkan meluasnya dampak konflik melebihi aset militer.

Pernyataaan pada Jumat menjadi imbauan langsung dari IRGC yang jarang diberikan kepada warga di Timur Tengah. Pusat Komando AS (CENTCOM) tidak merespons tuduhan Iran tersebut saat laporan ini dibuat.

Iran pada Kamis (23/7/2026) dilaporkan menolak proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat (AS) yang dikirim ke Teheran melalui Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi. Penolakan itu dilaporkan The New York Times (NYT), beberapa jam sebelum Pusat Komando AS (CENTCOM) mengakhiri serangan malam ke-13 terhadap target-target di Iran.

Menurut pejabat Iran yang dikutip NYT, Teheran tidak tertarik dengan sebuah “kesepakatan sementara” yang menyisakan status Selat Hormuz tanpa resolusi, titik pangkal persoalan yang belakangan membuat memorandum Iran dan AS gagal diimplementasikan. Proposal yang dibawa Zaidi ke Teheran pada Rabu, disusun setelah PM Irak itu bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada awal bulan ini.

Beberapa jam sebelum penolakan dari Iran, Trump mensinyalkan bahwa dia tidak dalam posisi terburu-buru untuk sebuah kesepakatan. Dalam sebuah taklimat, Trump mengatakan kepada Axios, bahwa dia menimbang sebuah “serangan masif”. Serangan itu menurut Trump akan lebih besar dari sebelumnya dan Iran “belum cukup menerima rasa sakit”.

Pada Kamis malam, CENTCOM merampungkan serangan ke-13 dengan menargetkan pusat komando militer Iran, tempat penyimpanan drone, jaringan komunikasi, situs pengawasan pantai, dan kemampuan maritim. CENTCOM juga mengeklaim bahwa Selat Hormuz tetap terbuka dan lebih dari 50 ribu tentara AS beroperasi di Timur Tengah.

Sumber : republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *