TEHERAN, Supersemar News – Iran kini memanfaatkan konflik militer yang berkobar selama enam bulan terakhir untuk mengejar ambisi strategisnya di Timur Tengah.

Alih-alih berfokus pada isu nuklir yang selama ini disorot Amerika Serikat (AS) dan Israel, Teheran mengarahkan kekuatan utamanya untuk mengamankan kendali permanen atas Selat Hormuz.

Status penguasaan tersebut berpeluang segera diformalkan melalui kesepakatan antara Iran dan Oman terkait penetapan sistem biaya layanan bagi kapal yang melintasi koridor perdagangan tersebut.

Direktur Studi Teluk Persia di Pusat Penelitian Ilmiah dan Studi Strategis Timur Tengah di Teheran, Javad Heirannia menilai, langkah ini sebagai bagian dari kalkulasi keuntungan strategis jangka panjang bagi Republik Islam Iran.

“Tujuan terpenting Iran adalah mengubah pencapaian militernya dan tekanan perang menjadi keuntungan permanen dan diakui secara strategis, yaitu kendali atas Selat Hormuz,” kata Heirannia, dikutip dari Newsweek, Selasa (4/8/2026).

Pergeseran aliansi regional
Meski sempat mengalami pukulan telak akibat gempuran militer AS dan Israel, Iran berupaya menghidupkan kembali koalisi “Poros Perlawanan”.

Kelompok milisi seperti Houthi di Yaman dan milisi Perlawanan Islam Irak (al-Hashd ash-Sha’bi) kini mulai membuka front baru, termasuk melancarkan tekanan ke wilayah Arab Saudi demi memperkuat posisi tawar Teheran.

“Dalam strategi barunya, Iran bahkan menyatakan bahwa serangan terhadap anggota poros ini sama dengan serangan terhadap infrastruktur vitalnya sendiri dan berkomitmen untuk membalasnya,” jelas Heirannia.

Iran bukanlah satu-satunya negara di kawasan ini yang berinvestasi dalam kemitraan.

Namun, kekacauan yang timbul dari krisis bertahun-tahun dan perang yang aktif telah menciptakan pergeseran baru, serta mempercepat perubahan geopolitik Timur Tengah.

Arab Saudi yang kini terancam dari berbagai sisi, semakin mendekatkan diri pada kuartet informal kekuatan Muslim yang juga mencakup Mesir, Turkiye, dan Pakistan, dengan menandatangani pakta pertahanan formal pada September lalu.

Uni Emirat Arab telah mengejar kerja sama yang lebih erat dengan Israel sesuai dengan Kesepakatan Abraham dan semakin bersekutu dengan India yang juga mencakup hubungan strategis dengan Yunani dan Siprus.

Keterlibatan AS dalam pertempuran berkepanjangan ini berdampak serius pada kesiapan tempurnya secara global.

Mantan pejabat Pentagon dan analis militer memperingatkan, pengerahan alutsista AS ke Timur Tengah telah menguras cadangan amunisi pertahanan udara, sekaligus mengalihkan perhatian Washington dari titik rawan lain seperti Taiwan dan Ukraina.

Mantan Juru Bicara Pentagon, Chris Meagher, menyoroti risiko pertahanan AS yang kian terbuka di kawasan lain akibat terbelahnya fokus militer Washington.

“China terus melakukan latihan militer besar-besaran di Indo-Pasifik, mengancam Taiwan,” ujarnya.

“Mereka melihat apa yang kita lakukan di tempat lain di dunia, dan melihat itu sebagai peluang. Rusia melanjutkan perangnya di Ukraina karena mereka tahu bahwa kita teralihkan perhatiannya,” tambahnya.

Kondisi tersebut mempercepat keputusan negara-negara Teluk untuk mendiversifikasi kemitraan strategis mereka ke luar AS.

CEO Gulf State Analytics, Giorgio Cafiero menyebut krisis ini bermuara pada terbentuknya tatanan regional baru yang kian condong ke Beijing.

“Salah satu tren yang paling signifikan adalah meningkatnya tekad di antara mitra Washington di Teluk untuk mendiversifikasi hubungan mereka dengan memperdalam hubungan dengan China,” kata dia.

“Pertumbuhan pengaruh Tiongkok dengan mengorbankan supremasi Amerika sangat selaras dengan kepentingan geopolitik Iran,” pungkasnya.

Sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *