
SAMPIT, Supersemar News – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menargetkan pembangunan drainase di Jalan DI Pandjaitan memasuki tahap pekerjaan fisik pada akhir Agustus 2026, sebagai upaya mengatasi persoalan banjir yang selama ini kerap terjadi di kawasan tersebut.
“Saat ini kontraktor masih menyiapkan besi tulangan dan menunggu hasil pengujian material sebelum digunakan. Kegiatan terakhir di lokasi adalah pengukuran detail pekerjaan,” kata Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar Tistama, sebagaimana disampaikan PPK Proyek Drainase Jalan DI Pandjaitan Satria Wijaya di Sampit, Rabu.
Ia menjelaskan pembangunan drainase dilakukan pada dua ruas agar sistem aliran air di kawasan tersebut dapat berfungsi lebih optimal. Di sisi barat, pekerjaan dimulai dari Simpang Jalan Pelita menuju Pasar Sejumput hingga Jembatan Sungai Mentawa.
Sementara itu, pada sisi timur, pembangunan saluran dilakukan mulai dari Jembatan Sungai Mentawa melewati kawasan Masjid Pasar Sejumput hingga sekitar Rocket Chicken. Proyek drainase tersebut memiliki masa pelaksanaan hingga 7 Desember 2026 dengan nilai kontrak mencapai Rp7,177 miliar.
Selama proses pembangunan, pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kotim untuk menyiapkan rekayasa lalu lintas di sepanjang Jalan DI Pandjaitan, baik melalui sistem buka tutup maupun penutupan sementara sesuai kondisi di lapangan.
“Kami akan berkoordinasi dengan Dishub mengenai pola pengaturan lalu lintas. Nantinya mereka yang membantu menentukan skema paling tepat agar pekerjaan tetap berjalan tanpa mengganggu mobilitas masyarakat secara berlebihan,” ujarnya.
Sebelum proyek dilaksanakan pemerintah telah beberapa kali menggelar sosialisasi dan rapat koordinasi bersama masyarakat, pemerintah kelurahan, kecamatan, serta instansi terkait.
Langkah tersebut dilakukan agar pelaksanaan proyek dapat berjalan lancar dan meminimalkan dampak terhadap aktivitas warga.
“Hasil pertemuan menunjukkan masyarakat pada prinsipnya mendukung pembangunan ini. Bahkan ada pemilik beberapa toko yang menyampaikan dukungan karena kawasan tersebut, termasuk lokasi TPA, sering terdampak banjir. Mereka hanya meminta dibuatkan akses sementara selama proses pekerjaan berlangsung,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, kontraktor akan menyediakan akses sementara berbahan kayu bagi pejalan kaki maupun aktivitas menuju pertokoan selama proses penggalian berlangsung.
Setelah pekerjaan selesai, saluran drainase akan ditutup menggunakan penutup beton sehingga akses masyarakat kembali normal.
Ia menyampaikan saat ini kontraktor juga menyelesaikan tahapan administrasi berupa penimbangan ulang besi tulangan yang akan digunakan. Proses tersebut diperlukan untuk memastikan volume material sesuai dengan dokumen kontrak sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.
Setelah seluruh persiapan dan administrasi rampung, pekerjaan akan langsung memasuki tahap penggalian, dilanjutkan pemasangan pembesian, bekisting, hingga pengecoran agar pelaksanaan dapat berlangsung lebih efisien.
“Perkiraan paling cepat pekerjaan fisik dimulai pada minggu ketiga Agustus. Namun karena berdekatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan, jadwal itu masih bisa bergeser sehingga kemungkinan pelaksanaan dimulai pada akhir Agustus, tergantung hasil uji material dan penyelesaian administrasi,” terangnya.
Ia mengakui proyek drainase DI Pandjaitan menjadi salah satu pekerjaan yang paling kompleks karena berada di kawasan perdagangan dengan aktivitas masyarakat yang sangat padat. Namun, proyek tersebut dinilai menjadi prioritas karena menjadi kunci penanganan banjir di pusat Kota Sampit.
“Drainase DI Pandjaitan harus diselesaikan lebih dahulu. Kalau saluran ini belum dibuka, kami tidak berani mengerjakan drainase di Jalan Pelita karena air justru akan menumpuk di kawasan DI Pandjaitan dan memperparah banjir,” ungkapnya.
Disamping itu, pemerintah juga telah menyiapkan solusi bagi para pedagang yang terdampak pembangunan. Pedagang yang belum memiliki tempat berjualan sementara diarahkan memanfaatkan area di dalam pagar masjid, sedangkan pemilik lapak yang berdiri di atas saluran diminta membongkar bangunannya secara mandiri agar materialnya masih dapat digunakan kembali.
Sementara itu, Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah mengatakan sosialisasi telah dilakukan kepada pemilik rumah dan pedagang di sepanjang jalur proyek.
Warga yang terdampak proyek telah menyatakan bersedia apabila sebagian bangunan maupun penutup drainase harus dibongkar demi kelancaran pekerjaan.
Proyek yang membentang dari Jembatan Sungai Mentawa hingga Jalan Pelita itu diharapkan dapat mengatasi persoalan banjir, terutama jika pembangunan saluran di Jalan Pelita juga dilanjutkan.
“Harapan kami setelah drainase di Jalan D.I. Pandjaitan selesai, pembangunan saluran di Jalan Pelita juga dilanjutkan. Kalau tidak, air tetap akan tertahan karena masih ada saluran yang tersumbat sehingga genangan masih terjadi,” demikian Irpansyah.
Sumber : ANTARANews Kalteng
