
SAMPIT, Supersemar News – Kabut asap menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu 30 Agustus 2026 pagi. Kondisi tersebut membuat jarak pandang di wilayah Sampit sangat terbatas dan mengganggu aktivitas pengguna jalan.
Berdasarkan data kondisi cuaca dari BMKG Kotim melalui pengamatan SMQ (WAGS) Sampit pada pukul 07.00 WIB, jarak pandang tercatat hanya 0,05 kilometer atau sekitar 50 meter.
Pada waktu yang sama, kondisi cuaca tercatat kabut asap, dengan suhu udara 22,8 derajat Celsius dan kelembapan mencapai 96 persen.
Sementara itu, kondisi angin dilaporkan calm atau tenang, dengan kecepatan angin 0 kilometer per jam.
Pantauan di lapangan, kabut tebal terlihat menyelimuti sejumlah ruas jalan di Sampit, termasuk Jalan Tjilik Riwut dan Jalan HM Arsyad atau jalur Trans Kalimantan.
Sejumlah pengendara terpaksa mengurangi laju kendaraan karena jarak pandang yang terbatas. Kendaraan yang berada di depan maupun dari arah berlawanan terlihat tidak dapat dikenali dengan jelas dari jarak jauh.
Kondisi tersebut turut dikeluhkan pengemudi travel. Salah seorang sopir travel, Wahyudi Ismail, mengatakan kabut asap membuat perjalanan menjadi lebih berisiko sehingga dirinya harus mengurangi kecepatan.
“Kalau seperti ini kita harus ekstra hati-hati. Jarak pandangnya pendek sekali, jadi terpaksa mengurangi kecepatan. Kendaraan di depan juga kadang baru terlihat ketika sudah cukup dekat,” keluh Wahyudi.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup menyulitkan bagi pengemudi yang harus melakukan perjalanan pada pagi hari, terlebih di jalur Trans Kalimantan yang merupakan salah satu akses utama masyarakat.
“Harapannya kabut asap ini cepat hilang. Kami sebagai sopir tentu ingin perjalanan aman, tetapi kalau jarak pandang hanya sekitar 50 meter memang harus benar-benar pelan dan waspada,” ujarnya.
Dengan kondisi jarak pandang yang sangat terbatas, para pengguna jalan diimbau meningkatkan kewaspadaan, mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman dengan kendaraan lain serta menggunakan lampu kendaraan saat melintas.
Kabut asap yang terjadi juga kembali menjadi perhatian di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim.
