JAKARTA, Supersemar News – Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), dan pelaku usaha untuk memperkuat hilirisasi komoditas hortikultura. Kolaborasi ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing dan kinerja ekspor produk hortikultura Indonesia.
Agenda strategis ini dibahas mendalam dalam Pertemuan Kolaborasi Penguatan Ekspor dan Hilirisasi Komoditas Hortikultura. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, Yogyakarta, Kamis (10/9). Pertemuan ini menjadi langkah nyata mempercepat integrasi sektor pertanian dari hulu hingga hilir.

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan Freddy Lumban Gaol menyebut peningkatan ekspor membutuhkan kerja bersama lintas lembaga. Penguatan hilirisasi tidak cukup sekadar menggenjot angka produksi semata. Aspek krusial seperti mutu, kontinuitas pasokan, hingga pemenuhan syarat ketat negara tujuan mutlak harus diperhatikan. Freddy mengatakan hilirisasi komoditas hortikultura ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

“Kita harus mengintegrasikan rantai pasok dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan bahan baku yang memenuhi standar, penerapan teknologi pascapanen, perlakuan karantina, hingga penetrasi pasar ekspor,” tutur Freddy pada keterangan tertulisnya, Minggu (13/9/2026).

Kolaborasi lintas instansi ini diarahkan untuk menjawab sejumlah tantangan komoditas hortikultura segar Indonesia di pasar global. Kendala utama lazimnya terkait durasi masa simpan, konsistensi mutu bahan baku, serta pemenuhan regulasi fitosanitari negara tujuan ekspor.

Dalam forum tersebut, BRIN memaparkan perkembangan teknologi iradiasi fitosanitari menggunakan electron beam di Cikarang. Teknologi canggih ini disiapkan untuk menangani komoditas unggulan seperti mangga, salak, dan buah naga. Langkah preventif ini menjamin komoditas ekspor benar-benar bebas dari organisme pengganggu tumbuhan.

Penerapan teknologi modern tersebut turut didukung oleh penyusunan pedoman nasional dan peningkatan kapasitas para inspektur. Penguatan sistem jaminan mutu ini sangat penting untuk memastikan produk hortikultura Indonesia memenuhi standar karantina internasional.

Selain penanganan produk segar, hilirisasi juga merambah pemanfaatan teknologi pengolahan canggih seperti freeze drying. Metode pengeringan ini dinilai ampuh meningkatkan nilai tambah komoditas. Umur simpan produk bisa diperpanjang secara signifikan tanpa mengurangi kualitas nutrisinya.

Saat ini, sejumlah produk olahan berbahan nangka, durian, salak, nanas, hingga pisang telah berhasil menembus pasar ekspor. Negara tujuannya mencakup Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, Inggris, hingga Arab Saudi. Capaian positif ini menunjukkan besarnya peluang produk hortikultura olahan merajai etalase internasional.

Di sisi akademis, FTP UGM memegang peran penting lewat riset analisis kandungan nutrisi dan senyawa fungsional. Riset komprehensif ini diarahkan untuk menghasilkan karakterisasi produk unggulan. Hasil riset tersebut nantinya diandalkan untuk mendongkrak nilai jual komoditas Indonesia di pasar global.

Menindaklanjuti pertemuan ini, Kementan bersama para mitra telah menyepakati sejumlah langkah percepatan di lapangan. Salah satunya melalui peninjauan langsung ke fasilitas teknologi iradiasi milik PT Oneject Indonesia bersama tim BRIN.

Integrasi rantai pasok juga segera dikerjakan lewat identifikasi komoditas prioritas dan kelompok tani paling potensial. Langkah teknis ini diyakini sanggup memberikan kepastian mutu dan keterlacakan produk secara transparan dari hulu ke hilir.

Kementan bersama seluruh mitra berharap ekosistem hilirisasi hortikultura ke depan menjadi lebih inovatif dan berorientasi pada ekspor. Produk hortikultura Indonesia ditargetkan mampu bersaing secara kompetitif secara global sekaligus memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Sumber : detikFinance

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *