
Titik ke-25 dari rangkaian pelayanan di wilayah Baamang, Ketapang, dan Seranau menjadi bagian dari strategi memperluas penemuan kasus tuberkulosis sekaligus mendekatkan layanan kesehatan preventif kepada masyarakat
SAMPIT, Supersemar News – Upaya memperkuat deteksi dini penyakit dan meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui Dinas Kesehatan. Salah satunya diwujudkan melalui pelaksanaan Tracing TB Terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan di wilayah Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Sampit, Kamis, 1 Oktober 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Puskesmas Baamang 2 dengan dukungan dan fasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, bertempat di rumah Ketua RT 23/RW 05, Kelurahan Baamang Barat.
Kegiatan ini menjadi titik ke-25 dalam rangkaian pelaksanaan pelayanan yang mencakup wilayah kerja Baamang, Ketapang, dan Seranau.
Pelaksanaan kegiatan mengacu pada pemberitahuan resmi Puskesmas Baamang 2 tertanggal 24 September 2026 mengenai Pelaksanaan Kegiatan Tracing TB Terintegrasi Program CKG (Cek Kesehatan Gratis). Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa kegiatan ditujukan untuk meningkatkan penemuan kasus TB melalui tracing kontak serumah sekaligus memperluas manfaat pelayanan CKG bagi masyarakat.
Secara nasional, integrasi antara CKG dan penanggulangan TB merupakan bagian dari penguatan pendekatan promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan.
Kementerian Kesehatan pada 2026 menyebutkan bahwa integrasi data CKG dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) telah dilakukan untuk memperkuat kesinambungan layanan, penemuan kasus, serta tindak lanjut pasien.
Kegiatan di Baamang Barat memperlihatkan bagaimana kebijakan kesehatan nasional diterjemahkan ke dalam pelayanan berbasis komunitas di tingkat lokal.
Masyarakat tidak harus selalu mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan akses pemeriksaan. Sebaliknya, tenaga kesehatan bergerak mendekati lingkungan tempat tinggal masyarakat melalui titik-titik pelayanan yang telah ditentukan.
Pendekatan tersebut memiliki arti penting dalam konteks pengendalian tuberkulosis. TB merupakan penyakit menular yang penemuannya tidak cukup hanya mengandalkan pasien yang datang berobat secara mandiri.
Pelacakan kontak erat dan pemeriksaan kelompok yang memiliki risiko paparan menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai penularan.
Kementerian Kesehatan pada Juli 2026 juga menekankan pentingnya pelacakan kontak erat pasien TB secara menyeluruh sebagai bagian dari strategi mempercepat eliminasi TB di Indonesia.
Pendekatan tersebut diintegrasikan dengan pemanfaatan CKG, pemeriksaan penunjang, dan mekanisme penemuan kasus secara aktif.
Dengan demikian, kegiatan di tingkat RT/RW bukan sekadar kegiatan pemeriksaan kesehatan rutin, melainkan bagian dari intervensi kesehatan masyarakat berbasis deteksi dini, pencegahan, surveilans, dan tindak lanjut.
Kolaborasi Dinkes, Puskesmas dan Pemerintah Lingkungan
Pelaksanaan kegiatan melibatkan unsur Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur dan Puskesmas Baamang 2.

Dari informasi pelaksanaan di lapangan, terdapat enam personel dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur dan enam personel dari Puskesmas Baamang 2 yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Unsur Dinas Kesehatan juga melakukan pemantauan langsung di lapangan, termasuk kehadiran Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nugroho Kuncoro Yudho, S.Ikom., MPH.
Pelayanan teknis di lapangan dilaksanakan oleh jajaran Puskesmas Baamang 2, dengan tenaga kesehatan yang datang langsung ke lokasi pelayanan.
Keterlibatan pemerintah lingkungan juga menjadi faktor penting. Ketua RW 05, Ricky Fahri, mengoordinasikan penyampaian informasi kepada para ketua RT agar masing-masing lingkungan dapat mengirimkan perwakilan warga untuk mengikuti pemeriksaan.
Model kolaborasi tersebut memperlihatkan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam program kesehatan masyarakat. Pemerintah daerah menyediakan dukungan kebijakan dan koordinasi, Dinas Kesehatan menjalankan fungsi pengendalian dan pembinaan, Puskesmas memberikan pelayanan teknis, sementara struktur RT/RW membantu membangun komunikasi dan partisipasi masyarakat.
Untuk menjaga keteraturan pelayanan dan menyesuaikan kapasitas pemeriksaan, jumlah peserta dalam kegiatan tersebut dibatasi maksimal 100 orang per hari.
Masyarakat yang hadir juga diwajibkan membawa Kartu Keluarga (KK) atau Kartu Tanda Penduduk (KTP). Persyaratan administratif tersebut diperlukan untuk mendukung ketepatan identifikasi peserta serta pencatatan pelayanan kesehatan.
Selain memperoleh pelayanan pemeriksaan, peserta juga mendapatkan snack/konsumsi serta dukungan transportasi berupa uang bensin sebesar Rp30.000 per orang, sebagaimana informasi yang disampaikan kepada warga melalui koordinasi Ketua RW 05.
Dukungan tersebut pada prinsipnya menjadi bagian dari fasilitasi kegiatan agar masyarakat dapat berpartisipasi dengan lebih mudah dan pelayanan dapat berlangsung secara tertib.
Secara epidemiologis, tuberkulosis masih merupakan salah satu persoalan kesehatan utama di Indonesia. Karena sifatnya yang menular dan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga maupun komunitas, pengendalian TB membutuhkan kombinasi antara penemuan kasus, pengobatan yang tepat, pelacakan kontak, pencegahan, serta edukasi masyarakat.
Kementerian Kesehatan pada 2026 menegaskan bahwa strategi pengendalian TB semakin diarahkan pada penemuan kasus secara aktif dan pemutusan rantai penularan, bukan semata-mata menunggu masyarakat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan ketika telah mengalami keluhan.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, contact tracing memiliki nilai strategis karena memungkinkan tenaga kesehatan mengidentifikasi individu yang memiliki riwayat kontak dengan kasus TB untuk kemudian dilakukan penilaian dan pemeriksaan sesuai indikasi.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan paradigma preventive medicine, yakni menggeser orientasi pelayanan dari sekadar pengobatan penyakit menuju pencegahan dan deteksi masalah kesehatan sedini mungkin.

Hal tersebut sejalan dengan perkembangan CKG di tingkat nasional. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa CKG terus diarahkan sebagai instrumen deteksi dini berbagai masalah kesehatan dan secara bertahap diperkuat dengan mekanisme tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan.
Kegiatan ini merupakan titik ke-25 dari rangkaian pelayanan yang direncanakan menjangkau 48 titik di wilayah Baamang, Ketapang, dan Seranau.Artinya, strategi pelayanan yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada satu lokasi atau satu komunitas, tetapi menggunakan pendekatan desentralisasi pelayanan berbasis titik komunitas.
Secara akademik, pola seperti ini dapat dipahami sebagai pendekatan community-based health service, ketika intervensi kesehatan dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik sosial, geografis, dan aksesibilitas masyarakat.
Pendekatan tersebut sangat relevan bagi wilayah perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk dan dinamika mobilitas masyarakat yang tinggi. RT dan RW menjadi salah satu simpul sosial yang strategis untuk membangun komunikasi kesehatan karena memiliki kedekatan langsung dengan warga.
Kehadiran unsur pimpinan teknis Dinas Kesehatan di lapangan juga memberikan dimensi penting terhadap kegiatan tersebut.

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Nugroho Kuncoro Yudho, diketahui memang memiliki tanggung jawab pada bidang pencegahan dan pengendalian penyakit. Dalam berbagai kegiatan kesehatan di Kotawaringin Timur, ia juga tercatat menyampaikan informasi terkait upaya pengendalian penyakit dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Turunnya unsur Dinas Kesehatan bersama tenaga Puskesmas ke lingkungan masyarakat menunjukkan bahwa pengendalian penyakit membutuhkan pengawasan, koordinasi, komunikasi, dan evaluasi langsung, bukan hanya perencanaan administratif.
Kehadiran petugas di tengah masyarakat sekaligus dapat menjadi sarana edukasi. Masyarakat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan tenaga kesehatan, menyampaikan kondisi kesehatan, serta memahami pentingnya pemeriksaan dan tindak lanjut apabila ditemukan faktor risiko atau indikasi penyakit.
Membangun Kesadaran bahwa Sehat Dimulai dari Deteksi Dini
Lebih jauh, kegiatan CKG dan tracing TB memiliki dimensi edukatif yang tidak kalah penting.
Masyarakat perlu didorong untuk memahami bahwa kesehatan bukan hanya persoalan ketika seseorang telah sakit.
Pemeriksaan berkala dapat membantu mengidentifikasi berbagai kondisi kesehatan lebih awal sehingga langkah tindak lanjut dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Dalam konteks TB, kesadaran masyarakat menjadi bagian penting karena gejala penyakit dapat tidak selalu segera dikenali. Karena itu, pendekatan berbasis kontak erat dan komunitas dapat membantu menemukan individu yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Program CKG sendiri pada 2026 telah berkembang dari sekadar skrining menuju penguatan tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa hingga 5 Juli 2026 sekitar 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan melalui CKG secara nasional.
Angka tersebut menggambarkan besarnya skala transformasi pelayanan kesehatan preventif yang sedang berlangsung secara nasional.
Dari perspektif pembangunan kesehatan masyarakat, keberhasilan program semacam ini tidak hanya ditentukan oleh kapasitas tenaga kesehatan.
Dalam konteks kegiatan di RW 05, peran Ketua RW dan para Ketua RT menjadi penghubung antara tenaga kesehatan dan warga. Informasi mengenai jadwal, lokasi, jumlah peserta, persyaratan administrasi, hingga koordinasi kehadiran dapat disampaikan melalui struktur sosial yang sudah dikenal masyarakat.
Model tersebut menciptakan hubungan tiga arah:
Pemerintah/Dinas Kesehatan , Puskesmas dan Masyarakat melalui RT/RW.
Jika pola komunikasi tersebut berjalan konsisten, program kesehatan tidak berhenti pada aktivitas pemeriksaan, tetapi dapat berkembang menjadi ekosistem kesehatan masyarakat berbasis partisipasi.
Hal yang tidak kalah penting dari kegiatan skrining adalah apa yang dilakukan setelah pemeriksaan.
Dalam pendekatan kesehatan masyarakat modern, pemeriksaan awal bukan merupakan tujuan akhir. Apabila ditemukan hasil yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan, peserta perlu memperoleh informasi mengenai langkah berikutnya dan diarahkan kepada fasilitas pelayanan kesehatan sesuai prosedur.
Karena itu, integrasi antara CKG dan sistem penanggulangan TB memiliki nilai strategis. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa integrasi data CKG dengan Sistem Informasi Tuberkulosis dimaksudkan untuk memperkuat kesinambungan pelayanan, penemuan kasus, serta tindak lanjut pasien.
Sekretariat Kemenkes
Dengan pendekatan tersebut, data hasil pemeriksaan diharapkan tidak berhenti sebagai angka statistik, tetapi menjadi dasar pengambilan keputusan kesehatan yang lebih tepat.
Meneguhkan Paradigma Preventif di Tingkat Lokal
Pelaksanaan Tracing TB Terintegrasi CKG di Baamang Barat pada akhirnya memberikan gambaran bahwa transformasi pelayanan kesehatan dapat dimulai dari lingkungan masyarakat paling dekat.
Rumah warga yang dijadikan lokasi pelayanan, koordinasi melalui RT/RW, keterlibatan Puskesmas, serta supervisi Dinas Kesehatan merupakan bagian dari rangkaian sistem yang saling berkaitan.
Kegiatan di RT 23/RW 05 Kelurahan Baamang Barat sebagai titik ke-25 sekaligus memperlihatkan kesinambungan program yang dirancang untuk menjangkau puluhan titik di wilayah Baamang, Ketapang, dan Seranau.
Bagi masyarakat, kegiatan tersebut bukan sekadar kesempatan memperoleh pemeriksaan kesehatan secara gratis. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa pencegahan penyakit, deteksi dini, pelacakan kontak, dan tindak lanjut merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian TB tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pasien yang ditemukan dan diobati, tetapi juga oleh kemampuan sistem kesehatan dalam menemukan kasus sedini mungkin, mencegah penularan, memastikan kesinambungan pelayanan, dan membangun budaya hidup sehat di tengah masyarakat.
Melalui sinergi Dinas Kesehatan, Puskesmas Baamang 2, pemerintah kelurahan, RW, RT, dan masyarakat, kegiatan di Baamang Barat menjadi salah satu contoh konkret bagaimana agenda kesehatan nasional diterjemahkan ke dalam aksi nyata di tingkat komunitas.
Dari satu titik pelayanan, tumbuh kesadaran. Dari kesadaran, lahir pencegahan. Dan dari pencegahan yang dilakukan secara konsisten, terbentuk masyarakat yang semakin sehat dan tangguh.
(Az_na)
tim redaksi
1 Oktober 2026
