JAKARTA, Supersemar News – Miftah Maulana Habiburrahman atau disapa Gus Miftah masuk jajaran pengurus PBNU setelah organisasi ini mengumumkan susunan kepengurusan baru untuk masa khidmah 2026-2031.

Penunjukan pendakwah kondang ini menandai langkah strategis PBNU dalam merangkul aspirasi umat dari berbagai kalangan. Tokoh kelahiran Lampung ini memang dikenal memiliki gaya dakwah yang membumi dan merangkul kaum marjinal.

Kendati demikian, keterlibatan sang dai dalam jajaran pimpinan pusat ormas menandai babak baru dalam karier dakwahnya.

Diketahui, lembaga Islam tersebut mengukuhkan sebanyak 210 nama tokoh dalam susunan kepengurusan masa bakti teranyar. Selain itu, komposisi baru ini sengaja memadukan ulama sepuh dengan figur populis yang digemari Generasi Z.

Kehadiran pendakwah 44 tahun ini di kursi Ketua PBNU diharapkan mampu memecah kebuntuan komunikasi antargenerasi. Karena itu, jajaran pengurus pusat menaruh harapan besar pada pengaruh kultural yang dia miliki di akar rumput.

Publik mengenal dekat Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji berambut gondrong lewat relasi harmonisnya dengan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Alhasil, posisinya di tubuh organisasi keagamaan ini bakal memperkuat jembatan komunikasi antara umat dengan pemerintah.

Ketua PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau akrab disapa Gus Kikin membeberkan alasan mendasar di balik perombakan kabinet kepengurusan tersebut. Pengasuh Pesantren Tebuireng ini menegaskan tekad organisasi dalam menciptakan representasi yang adil bagi seluruh kelompok usia.

“Ini dimaksudkan kita ingin ada apa, pemerataan. Pemerataan dari semua jajaran, dari generasi-generasi yang awal sampai akhir,” ujar Gus Kikin, Kamis (1/10/2026).

Pihak internal juga mengintegrasikan berbagai badan otonom seperti Ansor, IPNU, hingga IPPNU agar roda organisasi bergerak harmonis.

“Kemudian dari seluruh jajaran-jajaran maupun lembaga-lembaga yang ada di lingkungan Nahdlatul Ulama, itu ada IPNU, IPPNU, maupun Ansor, itu kita seimbangkan sehingga semuanya kira-kira kurang lebih kita dari tiga unsur itu ditambah dengan unsur-unsur yang lain itu kita seimbang semuanya,” ungkap Gus Kikin.

Penetrasi syiar sang dai kondang yang masif terbukti efektif menyebarkan narasi toleransi ke kalangan pelajar hingga pekerja muda. Sementara itu, sebagian pengamat memandang keterlibatannya bakal membawa angin segar bagi modernisasi syiar Islam di perkotaan.

Di sisi lain, tantangan besar tetap menanti sang penceramah untuk menyelaraskan ritme dakwah lapangan dengan birokrasi organisasi formal. Figur tersebut harus mampu mempertahankan ciri khas dakwah yang luwes di tengah ketatnya tata kelola kelembagaan.

Sumber : SINDONews Nasional

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *