SAMPIT, Supersemar News – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, berharap keberadaan Rice Milling Plant (RMP) atau pabrik penggilingan padi mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah selatan.

“Kami berharap dengan adanya fasilitas ini dapat meningkatkan perekonomian di wilayah selatan, terlebih bagi petani gabah di Kecamatan Teluk Sampit,” kata anggota DPRD Kotim Akhyannoor di Sampit, Sabtu.

Hal tersebut ia sampaikan usai mendampingi Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran serta rombongan meninjau langsung progres pembangunan RMP di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit.

Anggota DPRD Daerah Pemilihan (Dapil) III Kotim ini menilai keberadaan RMP tidak hanya berpotensi dalam mendukung pengolahan hasil pertanian, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat dan meningkatkan nilai ekonomi sektor pertanian.

Pembangunan fasilitas tersebut relevan dengan potensi Teluk Sampit sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan di Kotim. Terlebih, Kotim merupakan salah satu daerah yang berperan sebagai lumbung pangan di Kalimantan Tengah.

Ia berharap operasional RMP nantinya dapat memberikan dampak nyata terhadap pendapatan petani.

“Dengan nilai jual gabah yang lebih baik, petani diharapkan memiliki kemampuan ekonomi lebih kuat untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, keterbatasan biaya masih menjadi salah satu kendala bagi sebagian masyarakat di wilayah tersebut untuk melanjutkan pendidikan anak-anak mereka.

Oleh sebab itu, peningkatan pendapatan dari sektor pertanian diharapkan tidak hanya memperbaiki taraf hidup keluarga petani, tetapi juga membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.

“Harapannya, ekonomi masyarakat semakin maju sehingga anak-anak mereka bisa melanjutkan pendidikan ke SMP, SMA hingga perguruan tinggi tanpa terlalu terkendala biaya,” ujarnya.

Di sisi lain, Akhyannoor mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas harga gabah agar manfaat pembangunan RMP dan dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian benar-benar dirasakan petani.

Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini menilai perlu dibentuk asosiasi petani gabah di Kotim sebagai wadah untuk memperkuat posisi tawar petani dalam menghadapi pembeli, termasuk pembeli dari luar daerah.

Menurutnya, keberadaan asosiasi dapat membantu mengawasi perkembangan harga di tingkat petani sekaligus mencegah praktik pembelian yang merugikan petani.

“Kalau RMP ini terealisasi dan beroperasi, asosiasi petani gabah juga perlu dibentuk. Dengan begitu, petani memiliki wadah untuk menjaga stabilitas harga dan tidak mudah dipermainkan oleh pembeli dari luar daerah,” jelasnya.

Ia melanjutkan, pemerintah pusat telah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani.

Ketentuan tersebut diharapkan menjadi salah satu acuan dalam menjaga agar transaksi gabah berlangsung sesuai ketentuan yang berlaku.

Akhyannoor juga mengingatkan, kenaikan harga yang dinikmati petani memang menjadi hal positif, tetapi pengawasan tetap diperlukan agar mekanisme perdagangan berjalan sehat dan tidak menimbulkan persoalan dalam pelaksanaan program bantuan pemerintah.

“Mungkin nanti asosiasi itu juga bisa bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk bersama-sama mengawasi itu, supaya apabila ditemukan praktik perdagangan yang merugikan bisa segera ditindak,” demikian Akhyannoor.

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *