
Supersemar News – Bagi Rusdianto, waktu seolah berhenti sore itu. Tubuhnya terbaring di lantai hutan, dipenuhi luka gigitan dan cakaran. Tiga meter di hadapannya, seekor harimau sumatera terus mengawasi gerakannya.
“Saya pasrah. Kalau saya bergerak, ia akan mencakar,” kenangnya, Sabtu (25/7/26).
Hampir lima jam, sejak pukul 15.00 WIB hingga malam 20.00 WIB, ranger Forum Konservasi Leuser (FKL) itu, hidup dalam ketidakpastian. Harimau tidak membunuhnya, tetapi juga tidak membiarkannya pergi.
Pengalaman itu terjadi 28 Januari 2023, ketika Rusdianto bersama tiga rekannya, Hari Kafri, Ardiman, dan Asyari, patroli rutin di hutan Sempali, Kemukiman Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh.
Kawasan tersebut bagian Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), rumahnya harimau, gajah, badak, dan orangutan sumatera. Tugas mereka memusnahkan jerat, mendokumentasikan keberadaan satwa liar berupa jejak, bekas cakaran, sisa makanan, kotoran, hingga ancaman perburuan.
“Setelah istirahat siang, kami melanjutkan perjalanan. Kami tidak pernah memperkirakan malapetaka akan terjadi,” ungkap lelaki asal Desa Koto, Kluet Tengah, Aceh Selatan itu.
Sepanjang perjalanan tidak ada tanda keberadaan satwa besar. Tidak ada jejak harimau, gajah, maupun beruang. Namun, ketenangan itu berubah dalam hitungan detik. Seekor harimau tiba-tiba muncul dari balik pepohonan dan langsung menerjang tim.
Semua berusaha menyelamatkan diri. Ada yang lompat ke sungai, manjat pohon, maupun lari mencari bantuan.
“Saya sempat melawan. Tapi, setelah harimau menerkam kepala, saya pilih menyerah.”
Setelah Rusdianto tidak lagi memberikan perlawanan, harimau betina tersebut menghentikan serangan. Dalam kondisi terluka, Rusdianto tetap sadar, bahkan sempat berpikir jika harimau itu akan memangsanya.
“Kalau mau membunuh saya, pasti dari awal menyerang tengkuk atau leher.”
Satu rekannya yang meminta bantuan, datang bersama tim gabungan FKL, warga Manggamat, dan aparat penegak hukum. Proses evakuasi menegangkan, karena auman harimau terus terdengar dari sekitar lokasi. Rusdianto akhirnya diselamatkan sekitar jam delapan malam.
“Alhamdulillah, tim berhasil mengevakuasi saya,” tuturnya.
Tidak pernah menyalahkan harimau
Rusdianto butuh satu tahun untuk pemulihan fisik. Meski sembuh, kondisinya tidak lagi memungkinkan patroli jarak jauh dan membawa perlengkapan berat. Dia tetap bekerja di FKL, tetapi dipindahkan ke program restorasi hutan di Sarah Baru, Kluet Tengah.
Yang menarik, pengalaman di ambang kematian itu tidak membuatnya membenci harimau.
“Saya menganggap, harimau itu sedang marah kepada manusia. Kejadian yang saya alami, karena sebelumnya ada manusia yang berbuat salah kepada harimau tersebut.”
Informasi yang diterimanya dari rekan-rekan FKL memperkuat keyakinan itu. Harimau yang menyerangnya, diketahui memiliki bekas luka sayatan akibat benda tajam.
“Saya memahami kenapa ia sangat agresif.”
Ibnu Hasyim, Koordinator Database, Pendidikan, dan Penelitian Forum Konservasi Leuser, mengatakan peristiwa itu serangan pertama terhadap ranger selama patroli di kawasan Leuser.
“Tim patroli sudah bekerja sangat lama, bahkan sebelum FKL berdiri,” ujarnya, Kamis (23/7/26).
Menurut Ibnu, perjumpaan antara ranger dengan harimau bukan hal langka. Namun, dalam sebagian besar kasus kedua pihak memilih menghindar.
“Biasanya, harimau hanya memperlihatkan diri, lalu pergi. Atau tim patroli yang menjauh.”
Beberapa waktu setelah menyerang Rusdianto, harimau yang sama dilaporkan menyerang dua warga, sekitar dua kilometer dari lokasi Rusdianto diserang. Setelah harimau ditangkap dan diperiksa, ditemukan bekas luka lama akibat benda tajam, selain luka lebih baru.
“Kami menduga, harimau tersebut trauma akibat interaksi buruk dengan manusia.”
Dugaan tersebut sejalan dengan kearifan masyarakat Aceh.
“Harimau tidak akan menyerang manusia, bila manusia tidak lebih dulu berbuat salah pada harimau.”
Populasi harimau sumatera
Ujang Wisnu Barata, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, mengatakan hingga kini belum ada sensus terbaru yang menetapkan jumlah pasti populasi harimau sumatera di Aceh. Berdasarkan estimasi terakhir, jumlahnya pada kisaran 160-170 individu.
“Jumlahnya tidak jauh berbeda dengan data lama,” jelasnya, kepada Mongabay Indonesia, Selasa (28/7/26).
Ujang menilai, kondisi harimau sumatera di Aceh yang berada di Kawasan Ekosistem Leuser dan Ulu Masen, relatif konstan. Namun, meningkatnya interaksi manusia dengan harimau menjadi indikator bahwa tekanan habitat terus terjadi.
“Ini menunjukkan harimaunya ada, tetapi kerusakan habitat membuat mereka masuk ke area yang bersinggungan dengan aktivitas manusia. Sebagian besar interaksi, terjadi di dalam atau sekitar kawasan konservasi, termasuk hutan lindung.”

Berbeda dengan gajah sumatera yang dapat bertahan cukup lama di suatu lokasi ketika menemukan sumber pakan, harimau memiliki karakter jelajah lebih luas dan umumnya hanya melintas. Saat bertemu manusia, terjadilah interaksi.
Kemunculan harimau di sekitar permukiman seringkali dipicu ternak yang dilepas di sekitar hutan. Dalam kondisi tertentu, terutama saat harimau muda belajar berburu atau ketika mencari mangsa, peluang terjadinya konflik lebih besar.
“Secara umum, harimau lewat saja.”
Terkait perburuan harimau di hutan Leuser, Ujang menyebut aktivitas tersebut untuk sementara relatif mereda, setelah aparat melakukan operasi penegakan hukum bersama sejumlah instansi.
“Kita berharap tidak ada lagi perburuan.”
BKSDA Aceh berharap penguatan patroli, penegakan hukum, serta perlindungan habitat menjadi langkah penting untuk menjaga populasi harimau sumatera di Aceh, sekaligus mengurangi konflik dengan masyarakat.
Sumber : mongabay
