Tumpukan sampah di sekitar permukiman liar ini menjadi potret nyata tantangan pengelolaan limbah di Indonesia. Di baliknya, tersimpan potensi besar untuk diubah menjadi sumber energi alternatif seperti yang telah dilakukan China dan Swedia.

SUPERSEMAR NEWS — Banyak negara telah membuktikan bahwa sampah bisa menjadi sumber energi alternatif. Kini, saatnya Indonesia menyusul.

Negara Maju Ubah Sampah Jadi Energi

China memiliki lebih dari 300 fasilitas Waste-to-Energy (WtE). Kota seperti Shanghai menghasilkan listrik dari ribuan ton sampah per hari. Hal serupa terjadi di Swedia, yang bahkan mengimpor sampah dari Norwegia dan Inggris.

Jepang juga memanfaatkan insinerasi berteknologi tinggi dengan emisi minim. Sementara Singapura karena keterbatasan lahan, telah lama mengandalkan insinerator WtE.

Yang unik, Denmark membangun CopenHill, fasilitas WtE yang juga difungsikan sebagai area rekreasi dengan jalur ski dan taman di atapnya.

Peluang dan Tantangan Indonesia

Indonesia menghasilkan lebih dari 18 juta ton sampah per tahun. Sayangnya, baru 10% yang didaur ulang. Sisanya berakhir di TPA atau mencemari lingkungan.

Beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali mulai merintis WtE. Namun, regulasi, dana, dan edukasi masyarakat menjadi tantangan utama.

Menurut Dr. Rimun Wibowo dari UIKA Bogor, Indonesia butuh komitmen pemerintah, pendanaan publik-swasta, dan perubahan perilaku masyarakat. Edukasi soal pilah sampah sejak rumah menjadi kunci utama.

Saatnya Ubah Paradigma

Mengubah sampah jadi energi bukan sekadar urusan teknis, tapi soal paradigma. Negara-negara lain telah sukses. Dengan gotong royong dan regulasi berani, Indonesia bisa menyusul.

Seperti kata Dr. Rimun, “Kalau China bisa, Singapura bisa, Indonesia pasti bisa.”

Sampah bukan beban. Ia bisa jadi awal dari energi baru—asal kita mau berubah.

Baca juga: Kolong Flyover Cileungsi Dibersihkan

SupersemarNewsTeam
SanggaBuana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *