JAKARTA, Supersemar News — Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov menegaskan rencana kerja sama Rusia dan Indonesia dalam pengembangan bandar antariksa di Biak, Papua, masih berada pada tahap pembicaraan awal. Ia sekaligus membantah isu bahwa fasilitas tersebut akan digunakan sebagai pangkalan militer Rusia.

Tolchenov mengatakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengundang dan berdiskusi dengan badan antariksa Rusia, Roscosmos, mengenai kemungkinan keterlibatan Rusia dalam pengembangan bandar antariksa tersebut.

Kami bahkan belum sampai pada tahap awal kerja sama. Pertemuan itu baru sebatas diskusi awal,” kata Tolchenov dalam media briefing di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, hingga kini belum ada satu pun perjanjian kerja sama yang ditandatangani Indonesia dan Rusia terkait proyek tersebut. Tolchenov juga membuka kemungkinan BRIN sedang melakukan penjajakan serupa dengan sejumlah negara lain sebelum menentukan mitra.

Rusia, kata dia, tetap siap mendukung rencana Indonesia membangun bandar antariksa pertamanya. Moskow menawarkan pengalaman dan teknologi keantariksaan yang telah lama dikembangkan melalui Roscosmos.

“Keputusan sepenuhnya ada di tangan BRIN untuk memilih mitra. Namun, jika Roscosmos dan Rusia yang dipilih, kami akan sangat senang dan saya yakin kami mampu mewujudkan proyek ini untuk Indonesia,” ujar Tolchenov.

Bantah Isu Pangkalan Militer
Tolchenov secara khusus membantah isu yang mengaitkan rencana pengembangan bandar antariksa Biak dengan kemungkinan pembangunan pangkalan udara atau fasilitas militer Rusia di Indonesia.

Menurut dia, bandar antariksa tersebut sepenuhnya merupakan fasilitas milik Indonesia. Kerja sama dengan Rusia, apabila nantinya disepakati, tidak berarti memberikan fungsi ganda fasilitas tersebut untuk kepentingan militer negara asing.

Ia menilai Indonesia sebagai negara berdaulat juga tidak akan membiarkan wilayahnya digunakan sebagai pangkalan militer negara lain.

“Kalaupun nanti Indonesia menggunakan bandar antariksa itu untuk meluncurkan satelit militer atau fasilitas keantariksaan lainnya, itu adalah keputusan Indonesia,” kata Tolchenov.

Pernyataan tersebut sekaligus membedakan antara pemanfaatan teknologi antariksa untuk kepentingan pertahanan Indonesia dan keberadaan fasilitas militer negara asing. Menurut Tolchenov, keputusan mengenai jenis satelit maupun misi yang kelak diluncurkan dari Biak sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Indonesia.

Rencana pembangunan bandar antariksa di Biak sendiri menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat kemampuan nasional di sektor keantariksaan. Pemerintah telah menyediakan landasan regulasi bagi penyelenggaraan fasilitas tersebut melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Bandar Antariksa yang diterbitkan pada Mei 2026.

Regulasi tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah untuk mempercepat realisasi bandar antariksa Indonesia. Kehadiran bandar antariksa diharapkan memungkinkan Indonesia memiliki fasilitas peluncuran dari wilayahnya sendiri, seiring berkembangnya kebutuhan pemanfaatan teknologi satelit dan kegiatan keantariksaan.

Meski Rusia menyatakan kesiapan terlibat, pernyataan Tolchenov menunjukkan bahwa belum ada keputusan mengenai negara atau lembaga asing yang akan menjadi mitra Indonesia. Tahapan pembicaraan saat ini masih berupa penjajakan kemampuan teknologi dan kemungkinan bentuk kolaborasi.

Indonesia juga tidak hanya membuka komunikasi dengan Rusia. Pemerintah tengah menjajaki penguatan kerja sama keantariksaan dengan India, negara yang juga memiliki kemampuan peluncuran satelit dan program antariksa.

Pembahasan mengenai kerja sama tersebut mengemuka dalam kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta pada awal Juli 2026. Penjajakan dengan sejumlah negara menunjukkan Indonesia masih memiliki pilihan sebelum menentukan skema pengembangan bandar antariksa Biak.

Dengan demikian, proyek Biak tidak serta-merta identik dengan kerja sama eksklusif Indonesia-Rusia. Pemerintah masih dapat mempertimbangkan teknologi, kebutuhan nasional, skema pembiayaan, transfer pengetahuan, serta kepentingan strategis Indonesia sebelum menentukan mitra.

Tolchenov menegaskan Rusia akan menghormati keputusan tersebut. Bagi Moskow, keterlibatan Roscosmos baru dapat berlangsung apabila Indonesia memutuskan memilih Rusia sebagai salah satu mitra pengembangan bandar antariksa.

Polemik mengenai kemungkinan penggunaan Biak sebagai pangkalan asing, menurut penjelasan Tolchenov, juga tidak sesuai dengan pembicaraan yang berlangsung saat ini. Ia menekankan pembicaraan Rusia dan Indonesia masih berfokus pada kemungkinan kerja sama keantariksaan, sementara kendali atas bandar antariksa maupun penggunaannya tetap berada sepenuhnya di tangan Indonesia.

Sumber : republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *