Supersemar News – Kalimat itu selalu muncul dalam ingatan saya setiap kali mengenang Desa Bajulan, sebuah desa di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ada kerinduan untuk kembali ke kampung halaman, sekaligus menelusuri kembali jejak perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman bersama pasukannya.

Sejak masih anak-anak hingga remaja, saya sering mengayuh sepeda ontel melewati bukit, lembah dan hutan menuju kawasan yang menyimpan kisah perjuangan Panglima Besar Soedirman.

Setiap memperingati Hari TNI pada 5 Oktober, ingatan saya selalu kembali ke sebuah rumah sederhana yang pernah menjadi bagian dari perjalanan gerilya Pak Dirman.

Rumah itu merupakan rumah rakyat yang digunakan sebagai tempat persinggahan. Letaknya tidak jauh dari aliran sungai dengan batu-batu hitam khas kawasan Gunung Wilis. Di antara bebatuan dan pepohonan di tepi sungai yang airnya mengalir jernih, tersimpan cerita tentang perjuangan mempertahankan Republik Indonesia ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung.

Jejak Pak Dirman di Bajulan

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II dan menduduki Yogyakarta yang ketika itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pemimpin Republik ditangkap. Namun, perjuangan tidak berhenti.

Jenderal Soedirman memilih bergerilya bersama pasukannya. Dalam kondisi kesehatan yang buruk karena penyakit paru-paru, bahkan harus ditandu ketika melakukan perjalanan, ia tetap memimpin perjuangan dari satu tempat ke tempat lain. Perang gerilya menjadi pilihan untuk mempertahankan eksistensi Republik Indonesia ketika kekuatan militer konvensional menghadapi keterbatasan.

Bajulan menjadi salah satu tempat yang memiliki arti penting dalam perjalanan tersebut. Bagi saya, kisah itu bukan sekadar cerita sejarah yang dibaca dalam buku. Saya pernah berada di kawasan yang diyakini menjadi bagian dari jejak perjuangan tersebut.

Masih terbayang dalam ingatan saya sebuah batu hitam di tepi sungai yang pernah menjadi tempat Panglima Besar Soedirman beribadah Sholat. Lokasinya berada di kawasan Bajulan, tidak jauh dari Air Terjun Roro Kuning, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.

Catatan sejarah mengenai perjalanan gerilya tersebut antara lain dapat ditelusuri melalui buku Laporan dari Banaran karya T.B. Simatupang. Buku yang pertama kali diterbitkan pada 1961 itu merupakan catatan pengalaman langsung Simatupang selama Perang Kemerdekaan Indonesia.

Dalam perjalanan gerilya itu, rakyat desa bukan sekadar penonton. Mereka menjadi bagian penting dari perjuangan. Rumah, makanan, informasi, tenaga dan perlindungan rakyat menjadi modal yang sangat berarti bagi pasukan yang bergerak dalam keterbatasan.

Dari Bajulan saya semakin memahami bahwa perang tidak selalu dimenangkan oleh pihak yang memiliki senjata paling canggih. Ada faktor lain yang jauh lebih fundamental, yakni keberanian, pengetahuan medan, kreativitas, disiplin, kepemimpinan dan dukungan rakyat.

Sumber : kompasiana.com

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *