SAMPIT, Supersemar News – Di saat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meningkat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Kalimantan Tengah (Kalteng), alat pemantau kualitas udara justru tidak dapat berfungsi. 

‎Kondisi ini membuat pemerintah daerah kesulitan memantau kondisi udara secara akurat di tengah musim kemarau yang mulai memicu munculnya titik-titik kebakaran.

‎Alat pemantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), yang berada di bawah pengelolaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, dilaporkan mengalami kerusakan dan hingga kini belum dapat digunakan. 

‎Padahal, data kualitas udara menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan langkah mitigasi dampak asap karhutla terhadap masyarakat.

‎Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazammengatakan, pihaknya telah beberapa kali mengingatkan agar perbaikan alat tersebut segera dilakukan. 

‎Namun proses servis masih menunggu tindak lanjut dari kementerian.

‎“ISPU kita mengalami gangguan pada peralatan. Alatnya ada di DLH. Kami sudah beberapa kali mengingatkan agar segera diperbaiki. DLH juga sudah berkirim surat ke kementerian untuk servis alat, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujar Multazam, Sabtu (18/7/2026).

‎Menurutnya, keberadaan alat ISPU menjadi sangat penting saat musim kemarau dan karhutla mulai meluas. 

‎Melalui alat tersebut, pemerintah dapat mengetahui kondisi kualitas udara secara real time dan mengambil keputusan yang tepat apabila tingkat pencemaran udara mulai membahayakan.

‎Ia menjelaskan, data dari alat pemantau kualitas udara menjadi dasar dalam menentukan berbagai kebijakan, termasuk terkait aktivitas belajar mengajar di sekolah maupun imbauan kepada masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan.

‎“Alat ini penting sekali. Sangat penting, karena menjadi dasar menentukan apakah anak-anak masih bisa bersekolah atau tidak, sekaligus memberi peringatan kepada masyarakat ketika kualitas udara sudah membahayakan,” katanya.

‎Multazam menilai dampak paling serius dari karhutla bukan hanya kebakaran yang menghanguskan lahan, melainkan asap yang dihasilkan. 

‎Asap tersebut mengandung partikel-partikel berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

‎“Yang paling berbahaya sebenarnya bukan apinya, tetapi asapnya. PM2,5 dan PM10 itu yang harus dipantau karena sangat berpengaruh terhadap kesehatan,” tegasnya.

‎Di tengah belum berfungsinya alat ISPU, situasi karhutla di Kotim sendiri terus menunjukkan peningkatan.

‎Berdasarkan data BPBD, jumlah hotspot yang terdeteksi hingga pertengahan Juli 2026 telah menembus lebih dari 300 titik. 

‎Dari jumlah tersebut, sekitar 115 titik muncul hanya selama Juli, menjadikan bulan ini sebagai periode dengan kemunculan titik panas tertinggi sepanjang tahun.

‎BPBD Kotim berharap perbaikan alat ISPU dapat segera dilakukan sehingga pemerintah memiliki data kualitas udara yang akurat sebagai dasar pengambilan keputusan selama musim kemarau. 

‎Terlebih, puncak musim kering diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan dan berpotensi meningkatkan risiko kabut asap apabila kebakaran terus terjadi.

‎“Harapan kami alat ini bisa segera berfungsi kembali. Dengan adanya data kualitas udara yang akurat, pemerintah bisa mengambil langkah yang tepat dan masyarakat juga mendapatkan informasi yang jelas terkait kondisi udara yang mereka hirup setiap hari,” tutup Multazam.

Sumber : Tribunnews Kalteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *