
JAKARTA, Supersemar News – Di industri properti, garis antara “perintis” dan “pewaris” sering kali menjadi pembeda karakter manajemen.
PT Prints Triniti Properti Tbk atau Triniti Land, yang melantai di bursa dengan kode emiten TRIN, dengan tegas memposisikan diri sebagai generasi perintis.
Berawal dari proyek rumah tapak sederhana di Ciledug pada 2009, perusahaan kini bertransformasi menjadi pengembang perumahan skala kota yang ambisius.
Namun, yang paling menyedot perhatian pasar modal belakangan ini, bukanlah proyek perumahan tapak di Sentul, Bogor, Jawa Barat, melainkan masuknya sosok Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dalam struktur puncak organisasi perusahaan.
Apa Saja Kewajiban Alumni Awardee LPDP?
Rahayu merupakan keponakan anak Hashim Djojohadikusumo, sekaligus keponakan dari Presiden Prabowo Subianto, sebagai mitra strategis yang menjabat Presiden Komisaris. Langkah korporasi ini menandai lahirnya era “Triniti Land 2.0”.
Magnet Saraswati
Masuknya Rahayu Saraswati, tentu saja, bukan sekadar pajangan di struktur organisasi.
Direktur Utama Triniti Land, Ishak Chandra, mengakui bahwa brand awareness perusahaan melonjak hingga sepuluh kali lipat pasca-keterbukaan informasi mengenai keterlibatan keluarga Djojohadikusumo.
Menurutnya, kehadiran Saraswati memberikan dua dampak krusial. Pertama adalah legitimitasi dan kepercayaan pasar.
Di industri dengan highly regulated seperti properti, profil tinggi pemegang saham memberikan rasa aman bagi investor dan konsumen, terutama dalam proyek jangka panjang.
Kedua, akselerasi pertumbuhan inorganik. Triniti Land kini tidak lagi hanya mengandalkan greenfield atau membangun dari nol, tetapi mulai bergeser ke arah brownfield melalui akuisisi dan kemitraan strategis.
“Koneksi luas yang dibawa Saraswati diharapkan mampu membuka pintu bagi penguasaan lahan-lahan matang dan proyek ultra-luxury hospitality,” ujar Ishak menjawab Kompas.com, Selasa (24/6/2026).
Pertaruhan Proyek 10 Kali Lipat
Sementara itu, Direktur Triniti Land, Bong Chandra, menngungkapkan, jika periode 2009-2020 adalah masa pemanasan dengan proyek hunian vertikal seperti Brooklyn, Springwood, dan The Smith, maka tahun 2026 adalah panggung bagi Sequoia Hills.
Ada pergeseran strategi yang tajam di sini. Dari sebelumnya fokus pada high-rise (apartemen), Triniti kini beralih ke landed house (rumah tapak).
“Alasannya logis secara finansial, rumah tapak memiliki risiko pembangunan yang lebih rendah dan siklus pembukuan pendapatan (book revenue) yang lebih cepat dibandingkan apartemen yang baru bisa dicatat sebagai pendapatan setelah serah terima unit sesuai PSAK 72,” jelas Bong Chandra.