SAMPIT, Supersemar News – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, dan merugikan manusia, tetapi juga menimbulkan ancaman serius bagi keberlangsungan satwa liar di wilayah tersebut.

‎​Sejumlah hewan dilaporkan ditemukan mati, baik karena terbakar langsung maupun akibat paparan asap tebal yang menyelimuti kawasan terdampak.
‎​Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengungkapkan bahwa jumlah pasti satwa liar yang menjadi korban karhutla hingga kini belum dapat dipastikan.

‎​”Berdasarkan laporan yang masuk dari masyarakat dan petugas di lapangan, sedikitnya belasan ekor satwa telah ditemukan dalam kondisi mati,” kata Muriansyah, Rabu 26 Agustus 2026.

‎​Menurut Muriansyah, angka tersebut diyakini belum mencerminkan kondisi sebenarnya. Banyak satwa yang kemungkinan tidak terdata karena lokasi bangkainya sulit ditemukan, terutama jenis reptil seperti ular yang hidup dan bersembunyi di dalam tanah serta biawak.

‎​Ia menjelaskan, hasil pemantauan petugas serta laporan dari regu pemadam menunjukkan bahwa ular menjadi satwa yang paling sering ditemukan mati setelah kebakaran berhasil dipadamkan.

‎​Beberapa jenis yang tercatat antara lain sanca batik atau sanca kembang (Malayopython reticulatus), sanca depung (Python breitensteini), hingga ular berbisa seperti kobra dan king cobra.

‎​Selain reptil, kelompok burung juga menjadi salah satu satwa yang terdampak cukup besar. Anak-anak burung yang belum mampu terbang menjadi kelompok paling rentan karena tidak dapat menyelamatkan diri saat api menjalar maupun ketika asap pekat menyelimuti habitat mereka.

‎​BKSDA menilai dampak karhutla terhadap satwa liar tidak hanya terbatas pada kematian yang terlihat di lapangan. Banyak hewan lain diperkirakan mengalami luka-luka, kehilangan tempat hidup.

‎​”Mereka terpaksa berpindah ke wilayah lain karena habitatnya sudah rusak karena kebakaran, yang selama ini menjadi sumber makanan dan tempat berlindung,” tegasnya.

‎​Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa karhutla bukan hanya persoalan kerusakan hutan, tetapi juga ancaman nyata terhadap keseimbangan ekosistem dan kelangsungan hidup berbagai spesies satwa liar yang ada di Kotim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *