
Jakarta, Supersemar News– Kekayaan dua Konglomerat pemilik emiten dengan harga saham termahal di Bursa Efek Indonesia, PT DCI Indonesia Tbk (DCII), ikut tergerus seiring dengan auto reject bawah (ARB) berjilid-jilid. Saham DCII juga sudah masuk di papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme full call auction (FCA).
Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index per 11 Agustus 2025, dua nama pengendali DCII yaitu Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman kompak mencatatkan penurunan kekayaan.
Harta Otto Toto Sugiri tercatat sebesar US$11,4 miliar, turun US$1,22 miliar atau setara Rp19,83 triliun (kurs Rp16.253). Sementara itu, kekayaan Marina Budiman turun US$921 juta atau setara Rp14,97 triliun menjadi sekitar US$8,41 miliar.
Meski kekayaan keduanya anjlok saat ini, secara year to date atau sejak awal tahun, Toto dan Marina masih mencatatkan kenaikan harta yaitu masing-masing sebanyak US$9,37 miliar dan US$6,97 miliar.
Keduanya merupakan pengendali DCII bersama Han Arming Hanafia. Hingga 31 Juli 2025, Toto menggenggam saham DCII sebesar 29,90% atau sebanyak 712,78 juta saham. Kemudian Marina tercatat memegang 22,51% saham DCII serta Han Arming Hanafia sebesar 14,11%.
Selain itu masih ada nama Anthoni Salim dengan porsi 11,12% serta saham yang beredar di masyarakat lebih dari 20% dari seluruh saham yang ditempatkan di bursa efek.
Sebagai pengendali, Toto dan Marina terdampak penurunan saham DCII. Pada perdagangan hari ini, Selasa (12/8/2025), saham DCII amblas 9,94% menyentuh batas bawah (ARB) ke level Rp227.825/saham.
Penurunan ini melanjutkan periode downtrend DCII selama tiga hari perdagangan di PPK FCA. Sejak perdagangan Jumat (7/8/2025) saham DCII jatuh ARB. Alhasil secara akumulasi, DCII melorot 34,34% atau sebesar Rp199.175/saham.
DCII sendiri telah masuk PPK FCA sejak perdagangan Rabu (6/8/2025), setelah sebelumnya di suspensi BEI 9 hari perdagangan sejak 24 Juli 2024.
Saham DCII dibuka stagnan pada perdagangan pagi ini di level Rp252.975/saham. Beberapa saat setelah pembukaan, harga sempat jatuh ke level Rp227.825/saham, sebelum akhirnya kembali sentuh auto reject atas (ARA) usai naik 9,99% ke level Rp252.275/saham.
(bloombergtechnoz.com)
(Lilis Susanti)
