Supersemar News – Pohon kelapa dijuluki sebagai pohon seribu manfaat lantaran memang dari ujung ke ujung bagiannya bisa berguna untuk mendukung kehidupan manusia. Sebagai negara tropis, pohon kelapa tumbuh subur di berbagai wilayah Indonesia khususnya daerah pesisir. Namun, ada risiko keselamatan di balik proses pemetikan buahnya yang sering menjadi bahan konsumsi.

‎Dosen Departemen Teknologi Kedokteran Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ir. Achmad Syaifudin S.T., M.Eng., PhD IPM AEng memahami keresahan tentang populasi persebaran lahan kelapa di Indonesia yang merupakan terbesar di dunia namun tingkat produktivitas perkebunannya belum seimbang.

‎Dosen ITS Ciptakan Alat Panjat Pohon Kelapa, Ada Fitur Keamanan

‎​Selain karena risiko keselamatan kerja, dipengaruhi pula oleh faktor upah yang cenderung rendah.

‎​Syalfudin pun mencoba menjawab realita tersebut dengan melakukan pengembangan alat panjat kelapa yang diberi nama Moto Climber ITS (Mocits).
‎​Pengembangan alat panjat pohon kelapa ini merupakan permintaan dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI.

‎​3 versi prototype

‎​Syalfudin menuturkan, alat mesin pertanian (alsintan) yang dikembangkannya melalui proses riset yang lebih singkat dibandingkan inovasi lainnya.

‎​”Sebab memang perancangan ini didasari oleh kebutuhan pertanian di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas panen kelapa di Indonesia,” ujar Syalfudin, dikutip dari situs ITS, Selasa (30/6/2026).

‎​Selama proses riset Syalfudin dan tim membuat sebanyak tiga versi prototipe. Masing-masing menghadapi fitur yang memerlukan perbaikan dan penyempurnaan.

‎​Prototipe versi pertama masih mengalami keterbatasan alat, komponen, bahkan bahan saat proses manufaktur dan desain awal.

‎​”Rodanya juga terlalu besar, bisa dibilang ini versi yang dibuat terburu-buru meskipun sudah melalui perhitungan,” ungkap dosen dari Laboratorium Mekanika Benda Padat ITS itu.

‎​Prototipe Beta alias versi kedua berhasil mencapai proses memanjat pohon kendati pergerakannya masih lamban dan bobot yang cukup berat.

‎​”Namun, prototipe kedua ini yang menjadi wujud pertama dipesan dan dipamerkan sekaligus disaksikan oleh Pak Menteri Pertanian,” jelas Syalfudin.

‎​Dari percobaan pemakaian oleh para petani kelapa langsung, tim inovator ITS diminta untuk menambahkan beberapa fitur dan terciptalah prototipe versi paling kini dan sudah melalui uji coba di Lumajang.

‎”Ini adalah versi optimasi terbaru yang kami lakukan setelah proses wawancara dengan para petani sebelumnya, versi terakhir ini sudah jauh lebih optimal dan telah diuji di Lumajang,” ungkapnya.

‎Fitur keamanan

‎​Dengan fitur meningkatkan produktivitas dan keamanan operasional serta sistem pengereman ganda (double brake) yang dapat mengunci alat pada pohon kelapa.
‎​Ada pula sabuk pengaman (harness) untuk operator dan mesin yang diikat menggunakan sistem tali pengikat (lashing) yang kuat.

‎​Meskipun jika rem tangan tidak dioperasikan, alat dan pengemudi akan tetap aman tertahan di atas pohon.
‎​”Untuk naik, pengguna dapat menekan rem dan menarik gas, selanjutnya untuk turun cukup melepas gas dan rem perlahan,” terang alumnus Teknik Mesin ITS tersebut.

‎​Alat tersebut dapat menyesuaikan diameter pohon kelapa mulai dari kisaran 25 sampai 40 sentimeter.

‎​Untuk masa mendatang sistem rack dan pinion akan diadopsi guna mengatur dan menyesuaikan cengkeraman kedua lengan penyeimbang alat terhadap batang pohon. Sistem ini dapat membuat pelukan alat ke pohon lebih presisi.

‎​Tak lupa ia mengutamakan sisi ergonomis agar masyarakat pengguna dapat lebih mudah dan familiar untuk melakukan perawatan.

‎​Itu sebabnya penggunaan rantai dipilih karena masyarakat desa sudah familiar dan mudah merawatnya.

‎​Terkait dengan produksi Mocits, tim turut menggandeng PT Smarttech Reborn 2007 sebagai produsen. Perusahaan ini merupakan perusahaan manufaktur milik salah satu alumnus Teknik Mesin ITS.

‎Terkait dengan produksi Mocits, tim turut menggandeng PT Smarttech Reborn 2007 sebagai produsen. Perusahaan itu merupakan perusahaan manufaktur milik salah satu alumnus Teknik Mesin ITS. Kemudian pemasaran produk dijalankan melalui ITS Science Techno Park untuk dimasukkan ke dalam e-katalog Kementan.

Sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *