SURABAYA, Supersemar News – Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya, KH Mas Muhammad Maftuh (Gus Maftuh), angkat bicara merespons polemik dan berbagai tafsir yang berkembang di tengah masyarakat terkait buku Islam Ala Prabowo: Cara Presiden Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam yang diluncurkan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Menurut Gus Maftuh yang juga sebagai ketua Umum Forum Komunikasi Kyai kampung Indonesia (FK3I), buku tersebut semestinya dibaca secara utuh dan proporsional, bukan hanya berdasarkan judulnya. Ia menilai istilah “Islam Ala Prabowo” tidak bermaksud menciptakan mazhab, aliran, ataupun bentuk Islam baru yang berbeda dari ajaran Islam yang telah dianut umat Muslim Indonesia.

“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh, Sabtu (5/9/2026).

Ia menjelaskan, buku tersebut justru mengupas dimensi keislaman Prabowo Subianto dari berbagai sisi, mulai dari kehidupan pribadi, perjalanan karier, hingga kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Buku itu juga menghimpun pandangan dan tulisan dari sejumlah tokoh agama, ulama, akademisi, politisi, dan tokoh nasional.

“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Gus Maftuh menilai kehadiran buku tersebut penting dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan masyarakat yang majemuk. Menurutnya, Islam Indonesia harus mampu menjadi kekuatan moral yang membawa kemajuan, kedamaian, kerukunan dan persatuan, bukan menjadi sumber perpecahan.

“Islam yang kita inginkan adalah Islam yang membuat Indonesia maju, Islam yang rukun, Islam yang menjaga persatuan dan mampu hidup berdampingan dengan rukun, damai dan memegang erat konsesi kebangsaan bersama dengan umat umat beragama lainnya. Itulah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.

Ia juga meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh potongan informasi, meme, maupun komentar di media sosial yang hanya mengambil judul buku tanpa membaca dan memahami substansinya.

“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” kata Gus Maftuh.

Menurutnya, keterlibatan sejumlah tokoh nasional dalam buku tersebut juga menunjukkan bahwa pembahasan mengenai keislaman Prabowo dilakukan melalui berbagai perspektif. Di antara nama yang tercantum dalam rangkaian penyusunan dan kontribusi buku tersebut adalah Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. KH Noor Ahmad, KH Anwar Iskandar, dan Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.

Gus Maftuh menegaskan, terlepas dari adanya pro dan kontra, substansi terpenting yang perlu diambil adalah bagaimana nilai-nilai agama dapat hadir dalam kehidupan kebangsaan.

“Kalau agama hanya berhenti pada simbol, kita kehilangan substansinya. Islam harus menghadirkan akhlak, keadilan, kepedulian kepada rakyat, persaudaraan dan perdamaian. Kalau nilai-nilai itu bisa diwujudkan dalam kepemimpinan, tentu itu sesuatu yang harus kita apresiasi,” ujarnya.

Gus Maftuh berharap buku tersebut tidak dijadikan alat untuk mempertajam polarisasi politik maupun sentimen keagamaan. Sebaliknya, buku itu diharapkan menjadi ruang dialog untuk melihat bagaimana nilai keislaman dapat berjalan seiring dengan nasionalisme, demokrasi, kebinekaan dan cita-cita kemajuan bangsa.

“Jangan jadikan Islam sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Justru Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, perdamaian, menghormati sesama dan membangun kemaslahatan. Indonesia ini rumah bersama. Umat Islam harus menjadi bagian penting dalam menjaga agar Indonesia tetap maju, rukun, damai dan bersatu,” pungkas Gus Maftuh.

Sumber : beritajatim.com

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *