
JAKARTA, Supersemar News – Berbagai sumber di Indonesia melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan telah menggandakan pesanan jet tempur J-10C buatan China.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari program modernisasi pertahanan yang lebih luas.
Seperti dikutip Military Watch Magazine, media lokal menyoroti bahwa pesawat tersebut diharapkan mampu memberikan kemampuan tempur yang lebih maju untuk menghadapi jet tempur generasi kelima yang dioperasikan negara-negara di kawasan.
J-10C yang digunakan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF) sebelumnya telah menunjukkan kemampuan untuk menghadapi pesawat generasi kelima secara efektif dalam berbagai latihan militer.
Menteri Sjafrie pertama kali mengonfirmasi rencana pembelian J-10C pada 16 Oktober 2025.
Kesepakatan ini menjadi terobosan besar pertama bagi ekspor jet tempur China ke Asia Tenggara. Indonesia merupakan pelanggan kedua J-10C setelah Pakistan.
Namun, sejumlah laporan yang belum terkonfirmasi menyebutkan bahwa Mesir juga telah memesan pesawat tersebut. Sebelumnya, Sudan dilaporkan menjadi pelanggan pertama sebelum pemerintahan negara itu digulingkan dalam kudeta yang didukung Barat pada 2019.
Prestise industri penerbangan militer China meningkat pesat dalam satu dekade terakhir. Hal ini terutama setelah China menjadi negara kedua di dunia yang mengoperasikan jet tempur generasi kelima buatan dalam negeri melalui J-20 pada 2017.
Reputasi tersebut semakin menguat ketika China menjadi negara pertama yang memperkenalkan prototipe jet tempur generasi keenam pada Desember 2024.
Saat ini China dipandang berpotensi memimpin dunia hingga satu dekade dalam pengoperasian pesawat tempur generasi keenam.
Karena itu, reputasi industri jet tempurnya dan permintaan internasional terhadap produk-produk pertahanannya diperkirakan akan terus meningkat.
Meski demikian, tekanan politik dari negara-negara Barat terhadap calon pembeli masih menjadi hambatan utama bagi ekspor senjata China.
Indonesia sendiri pernah membatalkan rencana pembelian jet tempur Rusia Su-35 akibat ancaman sanksi dari Amerika Serikat.
Sejak awal dekade ini, Jakarta juga telah mengambil berbagai langkah untuk membuat ekonominya lebih tahan terhadap sanksi, termasuk mengurangi ketergantungan pada sistem pembayaran Barat.
J-10 merupakan jet tempur ringan bermesin tunggal yang dikembangkan sebagai pasangan bagi jet tempur berat bermesin ganda J-11 dan J-16 dalam konsep kombinasi kekuatan tinggi-rendah (high-low mix).
Varian J-10C merupakan versi generasi 4+ yang telah dibekali berbagai teknologi yang dikembangkan untuk program jet tempur generasi kelima J-20, antara lain:
• Material komposit canggih
• Radar Active Electronically Scanned Array (AESA)
• Rudal udara-ke-udara jarak dekat PL-10
• Rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-15
Sejumlah sumber melaporkan bahwa J-10C yang dioperasikan Pakistan meraih kemenangan telak atas jet tempur Rafale milik India dalam pertempuran udara pada Mei 2025.
Peristiwa tersebut menjadi ujian tempur intensitas tinggi pertama bagi pesawat itu.
Dalam latihan militer Zilzal-II di Qatar pada Januari 2024, J-10C milik Angkatan Udara Pakistan juga dilaporkan mendominasi simulasi pertempuran udara melawan Eurofighter Typhoon milik Qatar.
Hasil tersebut disebut menunjukkan kemampuan canggih J-10C sekaligus tantangan yang dihadapi program jet tempur Eropa dalam bersaing dengan produk Amerika Serikat dan China.
Pada awal Mei, perancang utama J-10C, Li Jun, menegaskan bahwa pesawat tersebut masih memiliki ruang besar untuk ditingkatkan dan diperkirakan tetap relevan selama dua hingga tiga dekade ke depan. (DK)
Sumber : IDNFinancials