Jakarta Jadi Kota dengan Penurunan Tanah Tercepat, Ilmuwan Sarankan Belajar dari Tokyo


Supersemar News – Selama ini, proyeksi kenaikan permukaan air laut yang digunakan oleh para perencana kota di seluruh dunia didasarkan pada satu asumsi mutlak bahwa daratan tetap diam, sementara volume air laut yang meningkat.

‎Asumsi inilah yang menjadi dasar pembangunan tanggul laut, pemetaan zonasi wilayah, hingga linimasa pembangunan infrastruktur di sepanjang ribuan mil garis pantai. Namun, data pengukuran satelit terbaru menunjukkan bahwa asumsi tersebut keliru bagi sebagian besar masyarakat yang terdampak.

‎Di wilayah pesisir berpenduduk padat tempat miliaran orang tinggal dekat dengan air, daratan justru sama sekali tidak diam, melainkan terus ambles atau mengalami penurunan tanah, dilansir dari laman Earth, Rabu (27/5/2026).

‎Penurunan tanah lebih cepat dari kenaikan laut Tim peneliti dari Munich, Jerman, dan New Orleans, Amerika Serikat, mengukur pergerakan tanah pesisir dalam skala global.

‎Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan pesisir padat penduduk mengalami penurunan tanah rata-rata sekitar 0,64 sentimeter per tahun. Angka ini tiga kali lebih besar dibanding rata-rata penurunan garis pantai global, bahkan hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding laju kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim yang umum digunakan dalam berbagai proyeksi.

‎Artinya, sebagian wilayah pesisir di dunia perlahan tenggelam bukan hanya karena laut naik, tetapi juga karena daratannya turun. Penelitian yang dipimpin Dr. Julius Oelsmann dari German Geodetic Research Institute (DGFI-TUM) bersama Tulane University menemukan sekitar 71 persen populasi pesisir global tinggal di wilayah yang terdampak penurunan tanah.

‎Jakarta termasuk kota dengan amblesan tercepat Jakarta menjadi salah satu kota dengan laju penurunan tanah tercepat di dunia, yakni rata-rata lebih dari 1,3 sentimeter per tahun. Kondisi serupa juga terjadi di Tianjin, China, dan Bangkok, Thailand. Namun, penurunan tanah di Jakarta tidak merata. Di beberapa wilayah, tanah ambles lebih dari 3,8 sentimeter per tahun, sementara kawasan lain justru mengalami kenaikan.

‎Fenomena ini baru terlihat jelas setelah teknologi satelit radar mampu memantau perubahan permukaan tanah hingga skala sangat kecil. Secara nasional, wilayah pesisir Bangladesh, Thailand, Mesir, dan Nigeria mengalami penurunan tanah rata-rata sekitar 0,76 sentimeter per tahun. Sementara Amerika Serikat, Belanda, dan Italia mencatat penurunan sekitar 0,5 sentimeter per tahun.

‎Penyebab daratan pesisir terus turun Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications menyebut beberapa faktor utama penyebab penurunan tanah di wilayah pesisir: penyedotan air tanah secara berlebihan, produksi minyak dan gas bumi, beban gedung dan infrastruktur perkotaan, pemadatan alami sedimen di wilayah delta, serta proses geologi dan pergeseran tektonik.

‎Penyedotan air tanah menjadi salah satu faktor terbesar karena menyebabkan lapisan tanah di bawah kota memadat secara perlahan.

‎Satelit radar ubah cara ilmuwan memantau pesisir Sebelumnya, pengukuran pergerakan tanah hanya mengandalkan stasiun GPS dan alat pengukur pasang surut laut. Meski akurat, jumlah alat tersebut terbatas sehingga banyak wilayah pesisir, terutama di Asia dan Afrika, tidak terpantau dengan baik.

‎Kini, satelit radar mampu mendeteksi perubahan permukaan tanah hingga ukuran sangat kecil, termasuk pergerakan bangunan dan kawasan kota. Data penelitian terbaru ini mencakup sekitar 65 persen populasi pesisir dunia dan memberi gambaran lebih rinci tentang kondisi kota-kota pesisir global.

‎Ada wilayah yang justru naik Meski sebagian besar wilayah pesisir mengalami penurunan tanah, beberapa kawasan di Eropa Utara seperti Swedia dan Finlandia justru mengalami kenaikan daratan. Fenomena ini terjadi karena wilayah tersebut masih mengalami pemulihan alami setelah mencairnya lapisan es besar sejak akhir Zaman Es.

‎Akibatnya, kenaikan daratan di wilayah itu lebih cepat dibanding kenaikan permukaan laut global sehingga permukaan laut lokal justru terlihat menurun. Namun, wilayah seperti ini sangat sedikit. Kurang dari 10 persen populasi pesisir dunia tinggal di daerah yang mengalami kenaikan tanah signifikan.

‎Belajar dari Tokyo dan Houston

‎Penelitian ini juga menyoroti keberhasilan Tokyo, Jepang, dalam menghentikan penurunan tanah ekstrem. Pada masa lalu, Tokyo pernah ambles hingga lebih dari 10 sentimeter per tahun. Pemerintah Jepang kemudian melarang pemompaan air tanah skala besar dan mengganti pasokan air menggunakan sumber air permukaan.

‎Kebijakan tersebut berhasil menghentikan penurunan tanah secara signifikan.

‎Keberhasilan serupa juga terjadi di Houston, Amerika Serikat, setelah pemerintah membatasi penggunaan air tanah sejak 1975.

‎Para peneliti menilai pengalaman kota-kota tersebut menunjukkan bahwa penurunan tanah sebenarnya masih bisa diperlambat melalui kebijakan pengelolaan air yang ketat.

‎Bagi kota-kota pesisir seperti Jakarta, hasil studi ini dinilai menjadi dasar ilmiah penting untuk mempercepat reformasi pengelolaan air tanah demi mengurangi risiko tenggelam di masa depan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *