Rombongan Kesultanan Banjar disambut secara resmi oleh jajaran pimpinan Departemen Sejarah FIB UGM. (SUPERSEMAR NEWS/FAUJI)

YOGYAKARTA, Supersemar News — Kesultanan Banjar melaksanakan kunjungan resmi ke Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam rangka misi kesejarahan dan kebudayaan. Kegiatan ini dilaksanakan 29-30 Januari 2026.

Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya strategis Kesultanan Banjar dalam memperkuat kajian sejarah, memperluas jejaring akademik, serta menjalin kolaborasi ilmiah guna pelestarian dan pengembangan warisan budaya Banjar.

Rombongan Kesultanan Banjar disambut secara resmi oleh jajaran pimpinan Departemen Sejarah FIB UGM, yaitu Dr. Abdul Wahid selaku Ketua Departemen Sejarah, Dr. Mutiah Amini selaku Ketua Program Studi Sarjana (S1) Sejarah, serta Dr. Farabi Fakih selaku Ketua Program Studi Magister (S2) Sejarah. Pertemuan berlangsung dalam suasana akademis, dialogis, dan penuh semangat kebersamaan.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas berbagai isu strategis terkait sejarah Kesultanan Banjar, dinamika historiografi Kalimantan Selatan, serta pentingnya penguatan kajian sejarah lokal melalui pendekatan ilmiah yang kritis dan berbasis sumber primer.

Diskusi juga menyoroti peluang kerja sama dalam bidang penelitian kolaboratif, penulisan dan publikasi ilmiah, pendokumentasian arsip serta manuskrip kuno Banjar, hingga penyelenggaraan seminar dan diskusi kesejarahan.

Kesultanan Banjar dalam kesempatan ini menegaskan komitmennya untuk terus merawat dan menghidupkan ingatan sejarah sebagai bagian integral dari identitas dan jati diri masyarakat Banjar.

“Sejarah dipandang bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sebagai sumber nilai, kearifan, dan pijakan moral dalam membangun kebudayaan serta memperkuat kesadaran sejarah generasi muda,“ kata Kesultanan, Kamis (30/1/2026).

Pihak Departemen Sejarah FIB UGM menyambut baik kunjungan tersebut dan memberikan apresiasi atas inisiatif Kesultanan Banjar dalam menjalin sinergi dengan dunia akademik.

“Ditekankan pula pentingnya kolaborasi antara institusi adat dan perguruan tinggi dalam memperkaya narasi sejarah nasional, khususnya dengan menghadirkan perspektif lokal yang selama ini kurang mendapatkan ruang yang memadai,“ ujar Pihak Depertemen Sejarah.

Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi terbangunnya kerja sama berkelanjutan antara Kesultanan Banjar dan Departemen Sejarah FIB UGM, baik dalam bentuk riset bersama, pengembangan kurikulum berbasis sejarah lokal, program edukasi publik, maupun upaya pelestarian warisan budaya Banjar secara berkelanjutan, jelasnya.

Melalui misi kesejarahan dan kebudayaan ini, Kesultanan Banjar kembali menegaskan perannya sebagai institusi adat dan budaya yang aktif menjaga kesinambungan sejarah, merawat tradisi leluhur, serta membuka ruang dialog antara warisan nilai masa lalu dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, pungkasnya.

(Fauji)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *