PALANGKARAYA, SupersemarNews-– Sejak awal tahun ini, langit Lamandau tak lagi dipenuhi debu tambang. Suara gemuruh alat berat yang dulu menjadi denyut nadi ekonomi warga sekitar, kini telah lama padam. Di antara hamparan tanah berbukit, hanya segelintir pekerja yang masih bertahan sekitar seratus orang, menjaga sisa kehidupan di areal tambang milik PT Kapuas Prima Coal (KPC) itu.

“Kami sudah berhenti sejak Januari 2025. Mandatori dari UU Minerba tidak bisa kami langgar,” ujar Padli Noor, Direktur Operasional PT KPC, saat ditemui di sebuah sudut lobi Hotel Best Western Palangka Raya, Rabu (22/10/2025) pagi.

Nada suaranya datar, tapi di baliknya tersirat beban berat. Perusahaan tambang yang selama ini menjadi tumpuan banyak keluarga di Kabupaten Lamandau, terpaksa menghentikan produksi akibat kewajiban baru yang tak bisa ditawar: hilirisasi.

Sejak Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba diberlakukan, setiap pemegang izin tambang diwajibkan mengolah dan memurnikan hasil tambang di dalam negeri. Penjualan bahan mentah, apalagi ekspor tanpa pemurnian, dilarang keras.

“Kami tidak bisa menjual ke smelter lain, jadi mau tak mau harus membangun sendiri,” kata Padli.

Mereka kini tengah menyiapkan pembangunan smelter timbal (Pb) dan seng (Zn) di Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat. Proyek besar yang diharapkan menjadi jalan pembuka bagi tambang Lamandau untuk kembali hidup—meski penyelesaiannya baru diproyeksikan rampung pada tahun 2026.

Namun perjalanan ke sana tidak mudah. Selain dana investasi yang besar, perusahaan juga menghadapi kendala pelepasan kawasan hutan yang masih dalam proses.

“Itu kendala non-teknis yang cukup berat. Tapi kami terus berupaya,” tambahnya.

Di tengah situasi ini, Pemerintah Kabupaten Lamandau hanya bisa berharap. Dalam Rakor Optimalisasi PAD Sektor Pertambangan 2025 yang digelar di Aula Jayang Tingang, Selasa (21/10/2025), Bupati Rizky Aditya Putra menyampaikan keinginannya agar KPC segera kembali beroperasi.

“Kami tentu berharap PT Kapuas Prima Coal dapat kembali beroperasi agar bisa memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah dan masyarakat sekitar,” ujar Rizky kepada media ini.

Bagi warga sekitar tambang, keheningan Lamandau bukan sekadar berhentinya alat berat, tapi juga terhentinya harapan. Namun di ujung sana, di Kumai, pondasi smelter sedang disiapkan menjadi simbol kebangkitan baru industri mineral daerah.(AF/Rahayu)

By Rahayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *