
Supersemar News – Dari toko kecil di Kalimantan, Lim Hariyanto berhasil mengubah usaha kecil menjadi perusahaan besar yang bergerak di sektor pertambangan, perkebunan, hingga industri pengolahan.
Di dunia bisnis, Harita Group dikenal sebagai salah satu perusahaan induk besar yang bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari pertambangan hingga perkebunan.
Di balik kesuksesan perusahaan ini, ada sosok hebat yang mengabdi selama puluhan tahun untuk membuat usaha yang dirintisnya dari kecil hingga besar seperti sekarang.
Sosok tersebut adalah Lim Hariyanto, pengusaha asal Tiongkok.
Berkat kecerdikannya, ia berhasil mengubah bisnis toko kelontong milik sang ayah menjadi perusahaan besar yang kini dikenal sebagai Harita Group.
Sosok Pemilik Harita Group

Pemilik Harita Group adalah Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, salah satu orang terkaya Indonesia dengan harta kekayaan sebesar US$5,1 miliar, setara dengan Rp84,4 triliun (kurs US$1 = Rp16.549) menurut situs majalah Forbes pada tahun 2025.
Lim adalah seorang imigran asal Tiongkok yang hijrah ke Kalimantan pada awal abad ke-20, mengikuti ayahnya, Lim Tju King.
Di Kalimantan, keluarganya memulai hidup dari bawah, di mana sang ayah bekerja serabutan sampai akhirnya bisa membuka toko kelontong pada tahun 1915.
Usaha kecil itu kian lama berkembang pesat dan diwariskan kepada Lim Hariyanto.
Di bawah kepemimpinan Lim, toko kelontong itu mengalami pengembangan yang jauh lebih pesat dan memperluas jangkauan usahanya ke berbagai sektor, mulai dari pertambangan, perkebunan, dan industri pengolahan.
Lahir dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, membuat Lim hanya mendapatkan fasilitas pendidikan yang sangat minim di masa mudanya.
Keterbatasan ekonomi ini membuatnya harus mengesampingkan mimpinya untuk bersekolah tinggi.
Setelah sukses membangun kerajaan bisnisnya, semangat belajar Lim tidak pernah padam.
Menurut laporan dari majalah Forbes, Lim berhasil menyelesaikan pendidikan tertingginya pada tahun 2005, tepat di usia 77 tahun, di mana ia berhasil meraih gelar doktor di bidang administrasi bisnis dari Shanghai Jiao Tong University.
Perjalanan Lim Hariyanto dan Keluarga Membangun Harita Group
Terlahir dari keluarga dengan ekonomi terbatas, membuat ayahnya, Lim Tju King, mengajak keluarganya untuk merantau dari Tiongkok ke Kalimantan Timur.
Setibanya di Kalimantan, sang ayah bekerja serabutan, mulai dari berdagang keliling hingga menjadi kuli.
Dari hasil jerih payahnya, pada tahun 1915 Lim Tju King berhasil mendirikan sebuah toko kelontong sederhana yang menjual kebutuhan rumah tangga. Seiring berjalannya waktu, toko kecil itu pun berkembang pesat.
Setelah ayahnya meninggal di tahun 1980, Lim mengambil alih toko kelontong itu bersama putranya, Lim Gunawan Hariyanto.
Di bawah kepemimpinan ayah dan anak ini, bisnis itu perlahan berubah total, dari toko kelontong menjadi tempat usaha di sektor perkayuan yang menjual kayu log, melalui PT Tirta Mahakam Resources.
Sukses dengan bisnis kayunya ini, Lim secara agresif mulai merambah usaha di berbagai sektor strategis.
Di antara semua pilihan, Lim memutuskan untuk merambah sektor pertambangan emas dan batu bara yang menjanjikan di Kalimantan.
Di bisnis ini, Lim menjalin kerja sama dengan perusahaan multinasional seperti Rio Tinto dan Lanna Resources dari Thailand, pada tahun 1988.
Tak puas di pertambangan, Harita terus berekspansi ke sektor kelapa sawit dengan mengakuisisi lahan seluas 17.500 hektare di Kalimantan Tengah pada tahun 1996, disusul kemudian oleh sektor tambang bauksit pada tahun 2003.
Kini, dari sebuah toko kelontong sederhana, Harita Group telah menjelma menjadi konglomerasi besar.
Perusahaan ini mengelola berbagai anak usaha yang terintegrasi, mulai dari sektor hulu hingga hilir, mencakup:
- Pertambangan: PT Gane Tambang Sentosa dan PT Karya Tambang Sentosa
- Smelter (pengolahan bijih tambang): PT Megah Surya Pertiwi dan PT Halmahera Jaya Feronikel
- Refinery (pemurnian): PT Halmahera Persada Lygend
- Kawasan Industri: PT Dharma Cipta Mulia
(inilah.com)
(Lilis Susanti)