
CARACAS, Supersemar News – Setelah dua minggu perundingan yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS), pemerintah dan pihak oposisi Venezuela sepakat untuk bersama-sama mengupayakan penarikan 31 ton emas senilai USD4 miliar yang disimpan di Bank of England sejak 2018.
Mengutip laporan Euronews, Selasa (18/8/2026), pemerintah Venezuela yang dipimpin oleh presiden sementara Delcy Rodríguez dan sejumlah elemen oposisi telah mencapai kesepakatan langka: bekerja sama untuk mengambil kembali 31 ton emas yang telah disimpan Venezuela di brankas Bank of England selama hampir delapan tahun.
Inggris berhenti mengakui pemerintah Venezuela pada tahun 2018, yang secara praktis menghalangi akses terhadap emas-emas tersebut. Sekarang, aset mahal itu terikat dalam sengketa hukum yang belum terselesaikan.
Anggota Parlemen Ramón López, yang merupakan bagian dari delegasi Majelis Nasional 2015 dalam forum dialog dengan pemerintah, mengatakan kepada saluran televisi nasional bahwa pelepasan aset 31 ton emas itu akan bergantung pada semua mekanisme perencanaan dan pengendalian yang diperlukan, di bawah rencana yang berfokus pada perumahan, pusat kesehatan, dan sekolah di wilayah-wilayah terdampak.
López menambahkan bahwa dana dari aset emas tersebut akan disimpan di rekening Departemen Keuangan AS dan diaudit oleh perusahaan internasional sebagai syarat pencairannya.
Tokoh politik tersebut menegaskan bahwa kesepakatan itu tidak melibatkan pertukaran antara pelepasan emas dengan reformasi Mahkamah Agung—sebuah isu yang juga dibahas dalam pertemuan teknis bersamaan dengan penguatan lembaga peradilan dan otoritas pemilihan umum.
Ekonomi Terpukul oleh Krisis dan Gempa
Ekonomi Venezuela, yang sebelumnya telah melemah akibat salah urus, korupsi, dan sanksi AS selama bertahun-tahun, kini terus merasakan dampak dari gempa bumi tersebut. Bank sentral negara tersebut melaporkan bahwa bencana itu turut mendorong inflasi bulanan naik menjadi 19,9% pada bulan Juli, dari 13,8% pada bulan Juni, dengan inflasi tahunan diperkirakan oleh para ekonom berada di kisaran 575%.
Rodríguez telah menyurati Raja Charles bulan lalu untuk meminta pelepasan cadangan emas yang disimpan Bank of England yang berlokasi di Threadneedle Street. Sumber dari pihak oposisi yang dimintai keterangan oleh Financial Times mengatakan bahwa mekanisme transparansi akan diterapkan untuk mencegah dana tersebut dicuri oleh pemerintah, sembari mengakui bahwa mereka tidak naif mengenai sifat pemerintahan sementara tersebut.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Inggris menegaskan bahwa pemerintah Inggris bukan pihak dalam kasus pengadilan yang akan menentukan kendali atas 31 ton emas tersebut.”Pemerintah mengulangi dukungannya terhadap transisi kekuasaan yang demokratis di Venezuela yang mencerminkan kehendak rakyat Venezuela,” katanya.
Bank of England, yang sedang menunggu putusan hukum sebelum melepas 31 ton emas batangan tersebut, menolak berkomentar.
Konteks Negosiasi
Pembicaraan ini berlangsung di saat Amerika Serikat telah menangguhkan sejumlah sanksi terhadap Venezuela dan bekerja sama erat dengan Rodríguez—yang pernah menjabat sebagai wakil presiden Nicolas Maduro—untuk membuka akses investasi asing terhadap sumber daya alam negara tersebut.
Putaran dialog ini tidak melibatkan María Corina Machado, pemimpin oposisi paling populer dan peraih Hadiah Nobel Perdamaian, yang telah tinggal di Washington sejak akhir tahun lalu dan dilarang kembali ke Venezuela setelah terjadinya gempa bumi. Proses ini telah memicu perpecahan, baik di dalam kubu oposisi maupun di antara faksi garis keras partai yang berkuasa.
Sejak penangkapan Maduro oleh pasukan AS, Venezuela secara bertahap kembali mendapatkan akses ke dana internasional, termasuk dana sebesar 350 juta dolar yang dicairkan pada bulan Juli dari bagian dana yang disimpan di IMF.
Pemerintah Rodríguez juga berupaya mendapatkan akses ke dana Special Drawing Rights (SDR) sebesar 4,6 miliar dolar—aset cadangan IMF yang dapat ditukarkan oleh negara anggota dengan mata uang lain—sesuatu yang sebelumnya telah disetujui oleh pihak oposisi dalam negosiasi terdahulu yang sempat gagal. Utang negara tersebut diperkirakan mencapai sekitar 240 miliar dolar, yang akan menjadikan proses restrukturisasi yang sedang berlangsung ini sebagai yang terbesar dalam sejarah.
Sumber : SINDONews Internasional
