
PALANGKA RAYA, Supersemar News – Resmi menyandang gelar dokter usai dilantik dan disumpah, dr Shava Shavira mengungkapkan tekadnya untuk kembali mengabdi di daerah asal.
Lahir di Muara Teweh pada 7 September 2000, Shava mengaku besar di Barito Timur dan telah menetapkan hati untuk mengabdi di Tamiang Layang.
“Setelah dilantik dan disumpah hari ini, insya Allah saya akan mengabdi di Tamiang Layang,” ujarnya saat ditemui usai prosesi pelantikan, di Palangka Raya, Senin (28/4).
Ia menjelaskan bahwa sistem penempatan dokter saat ini mengutamakan KTP domisili masing-masing, meski prestasi akademik juga menjadi pertimbangan.
“Sebenarnya kalau kita punya nilai yang lebih tinggi, peluang untuk memilih wahana, dalam artian tempat penempatan itu lebih besar. Tapi karena saya memang ingin kembali ke daerah, saya memilih kembali ke Barito Timur,” tuturnya.
Prestasi akademik Shava memang membanggakan. Ia lulus dengan IPK 3,86 pada profesi dokter, setelah sebelumnya meraih gelar sarjana kedokteran dengan IPK 3,94.
“Saya masuk kuliah pada tahun 2019, dan untuk profesi dokter saya mulai tahun 2023, selesai dalam waktu 2 tahun 2 bulan,” ujarnya.
Shava mengungkapkan, menjadi dokter adalah cita-cita masa kecil yang terus diperjuangkan.
“Dari kecil, kayaknya kalau ditanya mau jadi apa, saya jawabnya pengin jadi dokter,” katanya sambil tersenyum.
Dukungan keluarga juga menjadi penyemangat baginya untuk terus maju.
Menjadi dokter, menurut Shava, bukan hanya tentang status sosial, tetapi juga tentang peluang untuk berbuat kebaikan.
“Awalnya saya pikir dokter itu punya kualitas hidup yang lebih baik. Tapi setelah dijalani, ternyata ini adalah profesi yang bisa membawa banyak amal sekaligus banyak tanggung jawab,” ucapnya.
Shava menegaskan, dalam menjalani profesinya, ia berusaha menjaga integritas, mengingat nama baik diri sendiri maupun almamater, Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya (UPR).
Terkait penempatannya nanti, Shava menyebut sistemnya dikelola langsung oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Pendaftaran untuk penempatan akan dibuka sekitar dua bulan lagi. Penempatan kami berdasarkan sistem dari pusat, mempertimbangkan KTP dan prestasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagai lulusan program beasiswa penuh dari Pemerintah Kabupaten Barito Timur, ia memang berkewajiban untuk kembali dan mengabdi.
“Sebenarnya Kabupaten Barito Timur sudah punya program beasiswa penuh bagi mahasiswa kedokteran, jadi kami jelas akan kembali ke sana,” ungkapnya.
Shava pun menyatakan kesiapannya bila harus mengabdi di daerah pelosok. “Tamiang Layang itu termasuk DTPK Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan. Saya memang siap mengabdi di daerah terpencil,” katanya mantap.
Shava berharap adanya pemerataan tenaga kesehatan di daerah serta peningkatan fasilitas.
“Saran saya kepada pemerintah, alangkah lebih baiknya jika pemerataan dokter dilakukan, dengan gaji dan fasilitas yang memadai,” ucapnya.
Menutup perbincangan, Shava mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan spesialis, khususnya di bidang neurologi.
“Saya sangat ingin menjadi Spesialis Neurologi. Semoga ada kesempatan dan dukungan untuk melanjutkan pendidikan lagi, mungkin melalui program beasiswa,” pungkasnya.
(tabengan.co.id)
(Lilis Susanti)
