WASHINGTON DC, Supersemar News – Amerika Serikat (AS) mengerahkan pesawat pengebom strategis B-1 Lancer untuk menyerang target-target milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Pengerahan bomber jarak jauh itu menjadi penggunaan pertama B-1 sejak pertempuran kembali pecah 12 hari lalu.

Menurut pejabat AS yang dikutip Axios, sedikitnya satu pesawat B-1 diterbangkan dari pangkalan udara di Inggris pada Selasa (21/7/2026) sebelum menyerang sasaran di Iran.

Dalam keterangannya, CENTCOM hanya menyatakan bahwa pasukannya menyerang pusat operasi militer Iran, kemampuan maritim, hanggar pesawat, fasilitas penyimpanan drone, serta infrastruktur logistik militer untuk semakin melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Kekuatan bomber B-1
B-1 Lancer merupakan pesawat pengebom strategis supersonik yang memiliki salah satu kapasitas muatan senjata konvensional terbesar dalam arsenal militer AS. Pesawat ini mampu membawa hingga dua lusin bom seberat 2.000 pon atau puluhan rudal jelajah dalam satu misi.

Menurut laporan Ynet News, B-1 juga dapat membawa hingga 84 bom luncur berpemandu presisi atau 36 rudal jelajah jarak jauh, serta mampu bertahan lebih dari enam jam di atas zona pertempuran.

Pesawat tersebut dilengkapi sistem penargetan canggih untuk menyerang beberapa sasaran dalam satu operasi.

Meski tidak dapat membawa bom penghancur bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator yang hanya dapat diangkut pesawat siluman B-2 Spirit, B-1 tetap dinilai efektif untuk menyerang berbagai target militer secara bersamaan.

Serangan terus berlanjut

CENTCOM menyatakan, operasi terbaru merupakan malam ke-12 berturut-turut serangan AS terhadap Iran.

Pentagon sebelumnya mengatakan bahwa puluhan target militer Iran telah dihantam sejak operasi kembali dimulai, meski hanya sedikit rincian misi yang dipublikasikan.

Media Iran melaporkan salah satu serangan terbaru menghantam area perbatasan Shalamcheh di dekat Irak dan menewaskan dua orang. Sasaran lain dilaporkan berada di sekitar Andimeshk, dekat perbatasan Irak.

Video yang dirilis CENTCOM juga memperlihatkan serangan udara terhadap sebuah kendaraan yang sedang bergerak, kawasan bandara, dermaga, dan sebuah kapal yang terbakar setelah dihantam. Namun, militer AS tidak menjelaskan identitas target-target tersebut.

Di tengah meningkatnya serangan AS, Iran belum menunjukkan tanda-tanda melunak terkait Selat Hormuz dan masih terus melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan.

Pada Rabu (22/7/2026), Presiden AS Donald Trump mengancam akan membombardir jembatan dan pembangkit listrik di Iran, termasuk di Teheran, jika Iran kembali menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz.

Sebagai balasan, Iran mengancam infrastruktur negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Washington.

Sementara itu, pejabat AS menyebut mediator Qatar masih berupaya mempertemukan pejabat AS, Iran, dan Oman untuk mencapai kesepakatan baru guna membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan pertempuran.

Namun, menurut sumber regional, kepemimpinan Iran belum menerima proposal terbaru yang diajukan para mediator.

Sumber : Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *