
SUKABUMI, Supersemar News – Di tengah ramainya perbincangan mengenai pemadaman listrik bergilir di kawasan perkotaan Sukabumi, ada kisah berbeda yang datang dari pelosok daerah.
Pemadaman listrik tak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga turut mengganggu berbagai layanan publik.
Namun, jauh dari hiruk-pikuk keluhan akibat padamnya aliran listrik, berdiri dua rumah dan sebuah mushala yang tetap terang tanpa bergantung pada pasokan listrik dari PLN. Bangunan-bangunan tersebut milik Sarnuh, warga Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Melalui mekanisme sederhana berupa kincir air yang dihubungkan dengan dinamo, energi yang dihasilkan kemudian dialirkan melalui jaringan kabel ke rumah dan mushala. Sistem itu mampu memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari secara mandiri.
“Jadi itukan air maju menggerakkan kincir ada gesekan di dalam kumparan jadi itu tenaga listrik yang kemudian dialirkan ke rumah,” kata Mbah Sarnuh saat ditemui Kompas.com di kediamannya pada Minggu (14/6/2026) siang.
Mbah Sarnuh mengaku bahwa ia mulai datang untuk menetap di Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi itu pada tahun 1998.
Ia kemudian membuka lahan untuk bertani. Sejak ia menetap, dia hanya mengandalkan cahaya saat malam hari dari api petromak. Namun, sejak tahun 2007, ia mengubah caranya untuk menghangatkan rumah dari kegelapan. “Tahun 1998 masih menggunakan lampu petromak dengan bahan bakar minyak tanah, dari situ kan minyak tanah susah didapat.
Jadi cari alternatif, kalau misal pakai disel kan harus ada solar atau bensin, saya kan bukan orang bergaji,” tutur Mbah Sarnuh “Terus sempat ditawarin pasang listrik dari PLN itu tahun 2007, tapi harus beli kabel dengan panjang 3.200 meter, 1 meter kabel itu per meternya 100.000 jadi Rp 3,2 juta kalau mau pasang listrik, dan kalau ada yang sabotase kabel kan harus punya uang lagi,” ujar Mbah Sarnuh.
Ciptakan listrik sendiri
Dari minyak tanah yang sulit didapat serta mahalnya memasang aliran listrik dari PLN, saat itu akhirnya Mbah Sarnuh menemukan cara untuk mendapatkan listrik secara gratis alias nol rupiah.
“Saya akhirnya pergi ke Kota Sukabumi untuk beli dinamo dan alat lainnya, dengan harganya yang sama Rp 3,2 Juta sudah bisa dapat listrik dan itu sampai sekarang (tidak mengeluarkan biaya lagi,” ucap Mbah Sarnuh.
Selama memakai kincir air dan dinamo untuk dijadikan listrik, Mbah Sarnuh tidak mengalami kendala yang berarti, termasuk pada musim kemarau.
Kini, Mbah Sarnuh menikmati masa tuanya. Sambil bertani, ia ditemani sang istri serta anak anaknya yang kini sudah memiliki kehidupan masing-masing. “Listrik di sini mah bisa diatur besar kecil volume yang diinginkan.
Kalau kendala mah enggak ada, paling hanya ganti lampu saja karena usianya mungkin, di sini juga sambil bertani dan sekarang enggak usah turun ke bawah untuk jual hasilnya, suka sudah ada yang beli dan datang ke sini untuk langsung diangkut,” ucap Mbah Sarnuh.
Kediaman Mbah Sarnuh dapat dicapai dengan berjalan kali dari parkiran dekat tempat wisata Vila Kaca Pasir Datar selama kurang lebih 1 jam.
Akses jalan yang menanjak serta dipenuhi bebatuan sulit ditempuh dengan sepeda motor.
Di sepanjang jalan, hanya terlihat sepeda motor yang sudah dimodifikasi dengan gaya motor trail untuk mengangkut sayuran.
Sumber : kompas.com