
SUPERSEMAR NEWS — SOLO.
Ketua Dewan Penasehat Himpunan Petani Sejahtera Mandiri Indonesia (HPSMI), Nasrudin Tueka, menegaskan bahwa kunci utama menuju swasembada pangan nasional terletak pada rekayasa perbenihan unggul, baik melalui adopsi domestikasi maupun kawin silang.
Menurutnya, struktur perbenihan harus diperkuat untuk memastikan kualitas dan kuantitas produksi per lahan tanam dapat meningkat secara signifikan. Strategi ini dinilai penting untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan di tengah perubahan iklim dan keterbatasan lahan produktif.
Perkuat Rekayasa Genetika dan Domestikasi Benih
Nasrudin menilai perlu dilakukan koreksi komprehensif terhadap proyek penelitian dan pengembangan di bidang rekayasa genetika. Langkah ini, katanya, bertujuan menyempurnakan hipotesa terapan dan memperkuat kapasitas benih lokal yang potensial.
“Banyak benih domestikasi dan basic lokal yang mampu mengisi kebutuhan pangan bergizi nasional. Jangan lagi dianggap alternatif, karena sejatinya mereka adalah sumber pangan utama,” tegas Nasrudin Tueka.
Salah satu contoh nyata ialah tanaman sorgum — bahan pangan yang telah lama tumbuh di lahan marginal kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sorgum memiliki adaptasi tinggi terhadap cuaca ekstrem dan kini telah menjadi pangan utama masyarakat lokal.

Sorgum: Pilar Baru Swasembada Pangan Nasional
Dalam struktur food estate nasional dan program usaha tani di lahan marginal Jawa Tengah, sorgum terbukti tumbuh subur dengan dukungan rekayasa genetika 7–12 varietas domestikasi unggul.
Hasil produksinya telah meningkat pesat dan diolah dalam berbagai jenis produk pangan olahan, pakan ternak, serta bahan baku industri biokimia. Dengan demikian, sorgum bukan sekadar tanaman alternatif, tetapi telah menjelma menjadi komoditas strategis nasional yang menopang ketahanan pangan Indonesia.
Kunci Hilirisasi: Industri Rumah Tangga Tangguh
Lebih lanjut, Nasrudin menegaskan bahwa ketangguhan industri rumah tangga pertanian merupakan soko guru hilirisasi nasional. Tanpa fondasi kuat dari sektor ini, pilar hilirisasi pangan akan rapuh dan sulit menopang kebijakan nasional secara berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya menata ulang struktur internal HPSMI, memperkuat basis kapital nilai, dan membangun budaya organisasi yang efisien, transparan, serta berorientasi pada kesejahteraan petani.
“Langkah strategis menuju kebahagiaan petani adalah dengan memperkuat sistem, mengelola aset secara efektif, dan menjaga stabilitas organisasi. Tanpa itu, kemandirian pangan hanya akan menjadi slogan,” ujar Nasrudin.
Menuju Kemandirian dan Kedaulatan Pangan Nasional
Gagasan Nasrudin Tueka selaras dengan visi HPSMI untuk mewujudkan pertanian mandiri, berdaulat, dan berkelanjutan. Melalui sinergi riset genetika, pemberdayaan petani, dan inovasi industri rumah tangga, Indonesia diyakini mampu mencapai kemandirian pangan nasional.
Dengan memperkuat rekayasa perbenihan dan hilirisasi berbasis komunitas, masa depan pangan Indonesia akan lebih tangguh, inklusif, dan berdaya saing di pasar global.
SupersemarNewsTeam
Reporter: R/Rifay Marzuki
