Supersemar News – Ananda Krishnan adalah konglomerat asal Malaysia yang dikenal membangun kerajaan bisnis besar di sektor telekomunikasi melalui Maxis, media lewat Astro, serta minyak dan gas serta energi.

Selain dikenal sebagai pengusaha papan atas, Ananda Krishnan juga aktif dalam kegiatan filantropi di bidang pendidikan, seni, dan kemanusiaan melalui perusahaan investasinya, Usaha Tegas.

Ananda Krishnan meninggal dunia pada 28 November 2024 dalam usia 86 tahun, saat berada di Pegunungan Alpen, Swiss.

Biodata Ananda Krishnan

  • Nama lengkap: Tatparanandam Ananda Krishnan
  • Nama panggilan: Ananda Krishnan, AK
  • Tempat, tanggal lahir: Brickfields, Kuala Lumpur, Malaysia, 1 April 1938
  • Zodiak: Aries
  • Agama: Hindu
  • Orang tua: Tatparanandam Krishnan (ayah, pegawai negeri asal Sri Lanka)
  • Pasangan: Pernah menikah dengan putri kerajaan Thailand
  • Anak: 3 orang (salah satunya Ven Ajahn Siripanyo, seorang biksu)
  • Pendidikan: Sarjana Ilmu Politik, University of Melbourne, Master of Business Administration (MBA), Harvard Business School (1964)
  • Kewarganegaraan: Malaysia
  • Pekerjaan: Konglomerat, investor, pengusaha

Peran Ananda Krishnan dalam pembangunan Kuala Lumpur City Centre (KLCC) dan Menara Petronas menjadi salah satu warisan terbesarnya.

Ananda Krishnan merupakan penggagas awal pengembangan kawasan tersebut, bermula dari penguasaan lahan hingga memimpin proyek transformasi menjadi pusat kota modern.

Ia kemudian bermitra dengan Petronas, sebelum akhirnya melepas kepemilikan mayoritasnya, meski grup usahanya masih memiliki Menara Maxis di kawasan KLCC.

Perjalanan Karier Ananda Krishnan
Ananda Krishnan adalah pengusaha asal Malaysia kelahiran 1 April 1938 di Brickfields, Kuala Lumpur, keturunan Tamil, yang dikenal luas sebagai salah satu taipan paling berpengaruh di Asia Tenggara dan kerap disandingkan dengan Robert Kuok.

Ia membangun kerajaan bisnis bernilai miliaran dolar dari nol, berbekal pendidikan internasional dan pengalaman profesional yang matang.

Ananda Krishnan menempuh pendidikan Ilmu Politik di University of Melbourne, Australia, sebelum melanjutkan studi ke Harvard Business School dan meraih gelar Master of Business Administration (MBA) pada tahun 1964.

Karier Ananda Krishnan dimulai sebagai konsultan di MAI Holdings Sdn Bhd, sebelum akhirnya terjun ke dunia perdagangan minyak, sektor yang menjadi pijakan awal kekayaannya.

Langkah besar Ananda dimulai ketika ia mendirikan Tegas Group, kelompok usaha yang awalnya bergerak di bidang ekspor-impor minyak.

Melalui Tegas Group, ia memperoleh konsesi pengeboran minyak di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Dari sinilah fondasi bisnis dan modal ekspansinya terbentuk, sekaligus membuka jalannya menjadi pemain besar di sektor energi.

Tidak berhenti di minyak dan gas, Ananda Krishnan secara agresif memperluas bisnis ke berbagai sektor lain, mulai dari telekomunikasi, multimedia, pertanian, properti, hiburan, hingga perjudian di Malaysia.

Namanya semakin dikenal luas pada awal 1990-an, saat ia membangun kerajaan multimedia yang kemudian menjadi tulang punggung industrinya, yakni:

  • Maxis Communications, operator seluler terbesar kedua di Malaysia
  • MEASAT, operator satelit nasional
  • Astro All Asia Networks (Astro Malaysia Holdings), penyedia televisi berbayar terbesar di Malaysia

Selain itu, Ananda Krishnan juga memiliki kepentingan bisnis internasional, di antaranya Aircel di India, SLTMobitel di Sri Lanka, serta Bumi Armada, perusahaan penyedia layanan ladang minyak lepas pantai.

Namun, investasinya di Aircel, yang diperkirakan mencapai US$7 miliar atau setara Rp98 triliun, mengalami kemunduran setelah perusahaan tersebut mengajukan perlindungan kebangkrutan pada tahun 2018 dan diambil alih oleh UV Asset Reconstruction.

Di sektor energi nasional, Ananda tercatat sebagai salah satu direktur pendiri Petronas, perusahaan minyak dan gas milik negara Malaysia.

Pada 1970, Ananda Krishnan berkenalan dengan Mahathir Mohamad melalui Tengku Razaleigh Hamzah.

Pada awal 1990-an, Ananda bahkan mengusulkan pembangunan Menara Kembar Petronas, yang kini menjadi simbol kebanggaan nasional Malaysia.

Meski dikenal sangat tertutup dan menghindari sorotan publik, Ananda sempat menarik perhatian dunia internasional pada pertengahan 1980-an ketika ia membantu pendanaan konser amal Live Aid yang digagas Bob Geldof.

Ia juga dikenal sebagai donatur dermawan, aktif mendukung pendidikan, seni, olahraga, dan kegiatan kemanusiaan melalui perusahaan investasinya, Usaha Tegas.

Ananda Krishnan meninggal dunia pada Kamis, 28 November 2024, dalam usia 86 tahun.

Kabar duka ini disampaikan oleh perusahaan investasi pribadinya, Usaha Tegas, yang menyebut bahwa Ananda wafat dengan tenang.

Kontroversi dan Permasalahan Hukum Terkait Ananda Krishnan
Ananda Krishnan pernah terseret dalam kasus hukum besar di India yang dikenal sebagai Aircel-Maxis, terkait akuisisi operator seluler Aircel oleh Maxis pada tahun 2006.

Otoritas India menduga proses pengambilalihan tersebut melibatkan penyalahgunaan kewenangan oleh pejabat pemerintah, yang disebut menekan pemilik Aircel agar melepas perusahaannya.

Dalam perkara ini, perusahaan yang terafiliasi dengan Ananda Krishnan dituding terkait dengan aliran dana bernilai ratusan crore rupee ke entitas bisnis milik keluarga pejabat terkait.

Meski demikian, pihak Maxis secara konsisten membantah seluruh tuduhan tersebut.

Kasus ini sempat memicu tindakan hukum dari pengadilan India, termasuk upaya pemanggilan terhadap Ananda Krishnan dan orang kepercayaannya.

Namun proses hukum berjalan panjang karena kendala lintas negara.

Dari sisi bisnis, investasi Ananda Krishnan di Aircel berakhir buruk. Setelah gagal bertahan secara finansial, Aircel mengajukan kebangkrutan pada tahun 2018, menyebabkan kerugian besar yang diperkirakan mencapai sekitar US$7 miliar atau setara Rp98 triliun dengan asumsi kurs tahun 2018 di kisaran Rp14.000 per dolar AS.

Fakta-Fakta Menarik Ananda Krishnan
Berikut adalah fakta-fakta menarik yang wajib Anda ketahui tentang Ananda Krishnan:

  • Sosok sangat tertutup: Berbeda dari banyak konglomerat lain, Ananda Krishnan dikenal sangat menghindari sorotan media dan hampir tidak pernah memberikan wawancara publik.
    Keterlibatan dalam aksi kemanusiaan global: Ia pernah berkontribusi dalam pendanaan konser amal Live Aid yang digagas Bob Geldof, sebuah gerakan kemanusiaan berskala dunia.
    Pilihan hidup anaknya: Salah satu putranya, Ven Ajahn Siripanyo, memilih jalan spiritual sebagai biksu Buddha dan menjalani kehidupan monastik selama lebih dari dua dekade.
    Kekayaan Ananda Krishnan
    Berdasarkan data Forbes per 15 April 2024, kekayaan bersih Ananda Krishnan tercatat sebesar US$4,9 miliar atau setara dengan sekitar Rp79 triliun, asumsi kurs Rp16.100 per dolar AS.

Dengan nilai tersebut, ia menempati peringkat ke-6 dalam daftar Malaysia’s 50 Richest 2024 versi Forbes.

Berikut adalah catatan kekayaan Ananda Krishnan dari tahun ke tahun dengan asumsi kurs berdasarkan masing-masing tahun:

  • 2015: US$9,7 miliar atau setara dengan Rp135 triliun
  • 2016: US$7,4 miliar atau setara dengan Rp100 triliun
  • 2017: US$6,5 miliar atau setara dengan Rp88 triliun
  • 2018: US$7,2 miliar atau setara dengan Rp104 triliun
  • 2019: US$6,2 miliar atau setara dengan Rp89 triliun
  • 2020: US$4,7 miliar atau setara dengan Rp68 triliun
  • 2021: US$5,8 miliar atau setara dengan Rp83 triliun
  • 2022: US$5,7 miliar atau setara dengan Rp85 triliun
  • 2023: US$5,2 miliar atau setara dengan Rp81 triliun
  • 2024: US$4,9 miliar atau setara dengan Rp79 triliun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *