Salah Kaprah Kritik Militer: Merendahkan Bintara-Tamtama Itu Disinformasi


JAKARTA, Supersemar News – TNI Angkatan Darat melalui Komando Resor Militer (Korem) 074/Warastratama (Wrt) meluruskan narasi negatif yang merendahkan pangkat Bintara dan Tamtama. Narasi keliru tersebut sempat beredar luas di berbagai jejaring media sosial.

‎​Berdasarkan ulasan yang dikutip dari akun Instagram resmi @korem074wrt_solo, Senin (22/6), dijelaskan bahwa narasi yang menyudutkan Bintara dan Tamtama bukanlah bentuk kritik, melainkan sebuah disinformasi yang dikemas seolah-olah sebagai opini publik.

‎​Menyikapi fenomena ini, Korem 074/Wrt menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami realitas tugas militer di lapangan. Pangkat Bintara merupakan sosok pemimpin lapangan yang memimpin regu, melatih prajurit baru, sekaligus menjaga stabilitas di titik-titik paling kritis.

‎​Sementara itu, pangkat Tamtama adalah lini pertahanan nyata bagi kedaulatan negara. Kehadiran mereka di batas wilayah, pos pengamanan, hingga operasi kemanusiaan memegang peran yang sangat krusial.

‎​”Mereka yang berdiri di garis paling depan—baik di batas wilayah, lokasi bencana, maupun situasi krisis—bukanlah pelaksana perintah buta. Mereka adalah pengambil keputusan dalam hitungan detik, menghadapi situasi sulit yang tidak pernah kita bayangkan dari balik layar,” tulis Penerangan Korem (Penkorem) 074/Wrt dalam keterangannya.

‎​Menepis Asumsi Keliru di Masyarakat

‎​Lebih lanjut, Korem 074/Wrt membeberkan beberapa asumsi keliru yang sering beredar di tengah masyarakat. Pertama terkait ​mitos pangkat rendah sama dengan kemampuan rendah.

‎“Faktanya, pangkat hanya mencerminkan jalur karier, bukan menjadi ukuran mutlak atas kapabilitas atau dedikasi seseorang,” tulis Penkorem 074/Wrt.

‎Kedua, ​mitos anggapan hanya pelaksana perintah. Nyatanya, saat berada di lapangan, seorang Bintara justru dituntut untuk mampu mengambil keputusan mandiri dalam hitungan detik demi keselamatan negara dan pasukannya.

‎Ketiga, ​mitos kritik sistem sama dengan menghina individu. Menurut Korem 074/Wrt, harus ada garis tegas yang memisahkan antara evaluasi terhadap institusi dan serangan personal yang merendahkan martabat prajurit.

‎​Lebih dari Sekadar Angkat Senjata

‎​Di luar tugas tempur, para personel ini juga menjadi pelopor dalam membangun masa depan bangsa. Sebagai contoh nyata, personel dari Satgas Yonif 721/MKS Pos Pirime turut terjun langsung menjadi tenaga pendidik bagi anak-anak di SDN 1 Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Papua.

‎​Dedikasi ini bahkan tak jarang harus dibayar mahal dengan nyawa. Korem 074/Wrt mengingatkan kembali pengorbanan luar biasa para prajurit di garda depan.

‎​”Prajurit TNI mengorbankan jiwa dan raganya. Kadang mereka pulang tinggal nama. Salah satu contohnya adalah Pratu (Anumerta) Sirwandi yang gugur setelah tertembak ketika ia bersama 11 rekannya dihadang oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) OPM pada 16 Agustus 2019 lalu,” tutup Korem 074/Wrt.

Sumber : Indonesiadefence.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *