
JAKARTA, Supersemar News – Masuknya Papua menjadi salah Provinsi di Indonesia melewati berbagai perjuangan. Dilansir dari keterangan Penkodam XVII/Cendrawasih, Sabtu (23/5) disebutkan ada tiga tokoh penting yang mempeloporinya.
“Perjuangan bergabungnya Papua ke dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tumbuh di tanah Papua dan dipelopori oleh tokoh-tokoh kunci. Mereka berjuang untuk meruntuhkan belenggu kolonial Belanda dan kedaulatan dan integrasi Papua bukanlah kado, ia diperjuangkan dengan tegak oleh masyarakat dan semangat putra daerah yang menginginkan persatuan,” tulis keterangan Penkodam XVII/Cendrawasih.
Berikut tiga tokoh tersebut berdasarkan keterangan Penkodam XVII/Cendrawasih.
1. Silas Papare.
Silas Papare disebut membangun fondasi politik perlawanan di Papua melalui pembentukan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) pada tahun 1946. Perjuangan Silas menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dilakukan secara terorganisir melalui jalur diplomasi dan penggalangan dukungan masyarakat lokal. Tujuannya adalah melepaskan diri dari belenggu penjajahan untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Silas adalah arsitek pergerakan yang membuktikan bahwa aspirasi integrasi telah mengakar kuat dalam kesadaran politik masyarakat Papua.
2. Frans Kaisiepo.
Tokoh berikutnya adalah Frans Kaisiepo. Ia membangun identitas nasional dan perlawanan simbolik terhadap narasi kolonial Belanda. Ia berani mempopulerkan nama “IRIAN” yang merupakan akronim dari “Ikut Republik Indonesia Anti-Nederland” dalam Konferensi Malino tahun 1946, sebuah tindakan yang secara semantik menegaskan keberpihakan rakyat Papua kepada Indonesia. Perjuangan Frans adalah semangat untuk mempertahankan jati diri bangsa yang antipenjajah, memperkuat ikatan emosional antara Papua dan NKRI melalui simbol dan kata yang kuat.
3. Johannes Abraham (J.A.) Dimara.
Johannes adalah tokoh yang menjembatani dan menghubungkan perjuangan rakyat lokal dengan operasi militer pembebasan. la memobilisasi kekuatan pemuda dan rakyat Papua di Biak untuk melakukan aksi gerilya, menghadapi medan Papua yang sangat berat untuk menunjukkan bahwa perlawanan terhadap Belanda didukung penuh oleh keberanian putra-putra daerah di lapangan. (rr)
