SEOUL, Supersemar News – Korea Selatan mengungkap sejumlah tantangan bagi perusahaan Negeri Ginseng untuk masuk dan menanam modal di Indonesia.

‎Ketua Komite Persahabatan Korea-Indonesia, Kim Gi-Hyeon menyampaikan hubungan ekonomi kedua negara menghadapi sejumlah tantangan dalam beberapa tahun terakhir.

‎”Ada lebih banyak ketentuan sertifikasi di Indonesia yang meningkatkan hambatan non-tarif sehingga perusahaan Korea sulit masuk ke pasar Indonesia dan penghapusan insentif kendaraan listrik yang membuat Hyundai ragu membuat investasi tambahan,” kata Kim dalam diskusi The Indonesian Next-Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Majelis Nasional Republik Korea, Seoul, Selasa (9/6).

‎Akibat perubahan kebijakan insentif itu, ia menyebut manfaat tersebut justru lebih dirasakan oleh perusahaan asal China.

‎Padahal, Kim menyampaikan bahwa raksasa otomotif Korea, Hyundai Motor Company telah memproduksi kendaraan listrik di Indonesia, seperti Kona EV dan IONIQ 5.

‎”Namun, setelah sistem insentif dihapuskan, manfaat yang tersedia cenderung lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan China,” ucap dia.

‎Ia pun berharap agar ke depannya kedua negara dapat meningkatkan pengembangan kemitraan yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

‎Kim menyatakan Indonesia dan Korea harus terus memperbesar peluang mulai dari investasi ekonomi, transfer teknologi, hingga pengembangan talenta antara Indonesia dan Korea.

‎Volume perdagangan Indonesia dan Korea Selatan pada 2025 mencapai US$18 miliar dengan Indonesia surplus sebanyak 25 persen, sedangkan pada 2024 mencapai 20,09 miliar dolar AS. Meski begitu, angka itu masih menempatkan Korea sebagai mitra dagang terbesar ke-7 bagi Indonesia.

‎Sementara itu, untuk angka realisasi investasi Korea di Indonesia dalam 5 tahun terakhir mencapai US$11,5 miliar dengan growth mencapai 8,7 persen, dan menempatkan Korea sebagai sumber investasi asing terbesar ke-7 bagi Indonesia.

‎Terpisah, Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan menyampaikan ke depannya peluang investasi antar kedua negara masih terbuka lebar di berbagai industri strategis.

‎Ia menyampaikan bahwa peluang itu berpotensi terjadi di mana, teknologi Korea dipadukan dengan sumber daya Indonesia yang memadai.

‎”Masih terbuka lebar terutama di sektor kendaraan listrik, semikonduktor, energi terbarukan, dan hilirisasi industri,” ucap Cecep.

Sumber : CNN Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *