
DELI SERDANG, Supersemar News – Pertarungan batin sering dirasakan Panji Muhammad saat menjadi guru honorer. Bayang-bayang masa depan semakin menghantui, karena upah guru honorer dirasa tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kini pria berusia 26 tahun itu telah mantap memilih untuk ubah haluan. Ia nekat melamar pekerjaan menjadi seorang karyawan gudang milik salah satu ritel (minimarket), meskipun dirinya merupakan Sarjana Pendidikan Teknik Bangunan.
”Faktor finansial tentu menjadi salah satu pertimbangan yang sangat realistis, di mana biaya hidup terus meningkat, kan? Tapi, keputusan saya yang gak melanjutkan profesi sebagai guru honorer ini bukan sekadar melihat nominal angka, melainkan tentang keberlanjutan hidup jangka panjang dan kepastian masa depan karier,” kata Panji kepada Kompas, Senin (29/6/2026).
Ia menyadari bahwa perkembangan karier harus berjalan selaras dengan stabilitas finansial. Panji mengatakan bahwa menjadi guru honorer saat ini dihadapkan pada tantangan perlindungan kesejahteraan yang belum ideal.
Selain itu, tantangan dunia kerja sekarang menuntut siapa pun untuk adaptif dan tangguh. Dengan beralih ke sektor korporasi ini, Panji mengatakan bahwa ia tidak hanya mencari pendapatan yang lebih layak, tapi juga ruang yang lebih luas untuk mengembangkan keterampilan baru sesuai dengan kebutuhan industri.
”Pada saat mengajar sebagai guru honorer sekolah swasta, saya memegang beban kerja penuh dengan honor senilai Rp 35.000 per jam. Kalau ditotal, ya, pendapatan bersih yang saya terima setiap bulannya cuma Rp 840.000,” rincinya.
Nominal ini menjadi tantangan yang luar biasa besar baginya untuk bisa mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari. Terlebih, ia tinggal seorang diri di rumahnya yang berada di Kecamatan Tanjung Morawa sejak masih kuliah. “Realita juga semakin berat karena sistem pembayaran honorer sering kali gak turun tepat waktu setiap bulannya, melainkan dirapel per beberapa bulan. Sekarang kalau mengandalkan pendapatan dengan hal kayak gitu membuat saya harus memutar otak demi bisa bertahan hidup tanpa membebani orang lain,” sebut Panji.
Minim Jurusan Teknik Bangunan di SMK
Deli Serdang Jurusan Teknik Bangunan yang Panji ajar, jarang ada di SMK Deli Serdang. Oleh sebab itu, dirinya pernah berubah haluan menjadi pengajar Bimbingan Konseling (BK).
”Jurusan saya teknik bangunan memang bisa dibilang langka dan bisa dihitung dengan jari di sekolah. Mayoritas SMK di daerah Deli Serdang ini lebih memilih membuka jurusan yang langsung terserap oleh kawasan industri sekitar, kayak Teknik Otomotif, Teknik Mesin, TKJ, atau Bisnis dan Manajemen,” rincinya.
Akibat minimnya sekolah yang menyediakan jurusan ini, alokasi atau formasi lowongan untuk Guru Teknik Bangunan menjadi hampir mustahil. Kondisi minimnya sekolah linear inilah yang memaksa Panji untuk bersikap realistis demi bisa tetap bertahan hidup dan mengabdi di dunia pendidikan.
”Hal inilah yang membuat saya saat itu menjadi Guru Bimbingan Konseling. Langkah pindah haluan seperti ini biasa dan menjadi strategi bertahan bagi banyak sarjana teknik di daerah kita, karena kebutuhan Guru BK di sekolah jauh lebih merata dan selalu ada di setiap sekolah dibandingkan guru produktif teknik,” tutur pria lulusan salah satu Universitas Negeri itu. Meskipun begitu, pengalaman menjadi guru honorer selama ini tak menguap begitu saja.
Panji menganggapnya sebagai pelajaran berharga mengenai pentingnya efisiensi, manajemen keuangan yang ketat, sekaligus memicu kesadaran untuk mencari ekosistem kerja yang baik.
”Saat ini saya memilih bekerja di satu perusahaan besar yang bergerak di bidang ritel, di mana saya ditempatkan pada bagian gudang (Warehouse). Di posisi ini, saya belajar banyak mengenai manajemen logistik, supply chain, kontrol inventaris, serta efisiensi kerja dalam skala besar, lah,” ungkapnya.
Saat disinggung soal rencana masa depan seperti studi Magister atau alih profesi, Panji tak memiliki rencana itu. Fokus utamanya adalah memperkuat posisi dan keahlian di bidang logistik yang saat ini sedang ia geluti.
”Saya belum memprioritaskan S2 karena sekarang orang-orang lebih menghargai kemampuan praktis atau keahlian di lapangan. Daripada ambil profesi keguruan lagi, ya, saya memilih untuk tetap di perusahaan ritel ini sebagai modal karier ke depan,” bebernya.
Panji juga punya impian untuk membangun bisnis sendiri. Pengalaman manajemen operasional gudang yang ia dapatkan di Alfamidi saat ini, dianggapnya bisa dikombinasikan dengan kemampuan komunikasi saat menjadi guru honorer dulu.
”Sekurang-kurangnya, ya, menjadi pondasi kuat untuk mengelola usaha sendiri demi mencapai kemandirian finansial yang saya idam-idamkan. Doakan, ya,” harapnya.
Sumber : kompas.com
