
SUPERSEMAR NEWS – BEKASI – Ancaman peredaran narkoba di sekitar lingkungan sekolah kembali menjadi perhatian serius. Modus penyebaran narkoba dengan memanfaatkan bentuk, kemasan, atau tampilan yang menyerupai makanan dan permen dinilai dapat menjadi ancaman nyata bagi anak-anak, khususnya siswa sekolah dasar yang masih memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap lingkungan di sekitarnya.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala SDN Jatisampurna VI Kota Bekasi, Lilis Suharti, S.Pd., saat memberikan arahan dalam Rapat Sosialisasi Program Kelas VI SDN Jatisampurna VI Kota Bekasi, Sabtu (25/07/2026).
Menurut Lilis, orang tua dan pihak sekolah tidak boleh menganggap remeh berbagai bentuk ancaman yang dapat muncul di sekitar anak. Salah satunya adalah peredaran zat berbahaya dengan modus yang dirancang sedemikian rupa agar menyerupai makanan ringan atau permen.
“Oleh karena itu, kolaborasi antara pihak sekolah dan orang tua harus diperkuat. Hati-hati membeli permen yang tidak jelas, dikhawatirkan ada kandungan narkoba,” ujar Lilis Suharti.
Peringatan tersebut menjadi penting karena anak-anak berada pada fase perkembangan yang sangat membutuhkan pendampingan. Pada usia sekolah dasar, anak mulai mengenal lingkungan sosial yang lebih luas. Mereka tidak hanya berinteraksi dengan keluarga dan guru, tetapi juga dengan teman sebaya serta berbagai informasi yang beredar di ruang publik dan dunia digital.
Karena itu, pengawasan terhadap anak tidak cukup hanya dilakukan di dalam rumah. Sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat harus membangun sistem perlindungan bersama.
Modus Menarik Perhatian Anak Harus Diwaspadai
Peredaran narkoba dengan menggunakan bentuk atau kemasan yang menarik merupakan salah satu pola yang perlu diwaspadai. Anak-anak dapat menjadi sasaran karena secara psikologis mereka masih berada dalam tahap perkembangan rasa ingin tahu.
Namun demikian, masyarakat juga perlu memahami bahwa setiap informasi mengenai dugaan narkoba dalam bentuk makanan atau permen harus ditangani secara hati-hati. Orang tua tidak boleh langsung menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Apabila menemukan benda atau makanan yang mencurigakan, langkah paling tepat adalah tidak mengonsumsinya, mengamankan informasi yang tersedia, serta melaporkan kepada pihak berwenang.
Di sisi lain, edukasi kepada anak harus diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Anak perlu mengetahui bahwa tidak semua makanan, permen, minuman, atau barang yang diberikan oleh orang yang tidak dikenal dapat diterima begitu saja.
Pendidikan mengenai bahaya narkoba tidak harus selalu dilakukan dengan pendekatan menakut-nakuti. Sebaliknya, orang tua dan guru perlu membangun pemahaman bahwa tubuh anak harus dijaga dari zat yang tidak diketahui kandungannya.
Dengan demikian, anak dapat belajar mengambil keputusan secara mandiri ketika berada di luar pengawasan orang tua.
Sekolah Dinilai Rentan terhadap Tekanan Teman Sebaya
Lilis Suharti juga mengingatkan bahwa masa transisi dari sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama merupakan fase penting dalam perkembangan anak.
Perubahan lingkungan sosial, pertemanan, pola komunikasi, dan tuntutan psikologis dapat memengaruhi cara anak mengambil keputusan. Pada fase tersebut, rasa ingin tahu anak biasanya semakin berkembang.
“Sekolah sering kali menjadi target utama bandar narkoba karena usia remaja sangat rentan terhadap tekanan teman sebaya dan rasa penasaran,” ujar Lilis.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak dapat hanya mengandalkan penindakan setelah terjadi pelanggaran. Pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui pendidikan keluarga, penguatan karakter, literasi kesehatan, dan pemahaman mengenai risiko penyalahgunaan zat terlarang.
Dalam konteks ini, sekolah memiliki posisi strategis. Guru merupakan salah satu pihak yang setiap hari berinteraksi dengan siswa. Guru dapat melihat perubahan perilaku, pola pergaulan, dan kondisi psikologis anak yang mungkin tidak selalu terlihat oleh orang tua.
Akan tetapi, guru juga tidak dapat bekerja sendirian. Setiap perubahan perilaku anak harus dibicarakan secara proporsional dengan keluarga. Pendekatan yang terlalu menghakimi justru dapat membuat anak semakin tertutup.
Karena itu, komunikasi menjadi kunci utama.
Dialog Orang Tua Menjadi Benteng Perlindungan Anak
Lilis menekankan pentingnya orang tua membangun hubungan yang sehat dengan anak. Orang tua tidak cukup hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga harus menjadi teman diskusi.
“Di era digital saat ini sumber negatif ada di mana-mana, sumber ilmu ada di mana-mana. Berarti pengaruh buruk dan pelajaran hidup bisa kita temukan di setiap tempat. Oleh karena itu, kehadiran orang tua sebagai teman diskusi, ruang dialog menjadi benteng utama anak,” tegas Lilis.
Pernyataan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi. Anak-anak saat ini dapat memperoleh informasi dengan sangat cepat. Berbagai informasi positif maupun negatif dapat muncul melalui perangkat digital yang mereka gunakan sehari-hari.
Oleh sebab itu, larangan semata tidak selalu cukup. Anak perlu diberikan kemampuan untuk memahami risiko, mengenali situasi berbahaya, serta berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang mencurigakan.
Orang tua juga perlu menciptakan suasana rumah yang terbuka. Anak harus merasa aman untuk bercerita mengenai masalah yang dihadapi, termasuk persoalan pertemanan, tekanan kelompok, atau pengalaman yang membuat mereka tidak nyaman.
Apabila komunikasi di rumah berjalan baik, orang tua akan lebih mudah mendeteksi perubahan yang terjadi pada anak.
SDN Jatisampurna VI Perkuat Sinergi Sekolah dan Orang Tua

Rapat Sosialisasi Program Kelas VI SDN Jatisampurna VI Kota Bekasi tersebut dihadiri para guru wali kelas dan orang tua siswa yang kini duduk di kelas akhir.
Sejumlah guru yang hadir antara lain Asan Suryana, S.Pd., selaku Guru Wali Kelas VI-A, Sakim Sunarya, S.Pd., selaku Guru Wali Kelas VI-B, serta Wardah Nur Aziza, S.Pd., selaku Guru Wali Kelas VI-C.
Forum tersebut tidak hanya membahas persoalan keamanan dan perlindungan anak. Pihak sekolah juga menyampaikan berbagai program kegiatan belajar-mengajar yang mencakup aspek akademik maupun nonakademik.
Kehadiran orang tua dalam forum tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesamaan pemahaman antara sekolah dan keluarga.
Sebab, pendidikan anak tidak berhenti ketika siswa meninggalkan gerbang sekolah. Nilai-nilai yang dibangun di ruang kelas harus mendapatkan penguatan di lingkungan keluarga.
Sebaliknya, pola pendidikan di rumah juga perlu berjalan searah dengan pembinaan yang dilakukan sekolah.
Gebyar Pasar Nusantara Jadi Program Unggulan Sekolah

Dalam kesempatan tersebut, SDN Jatisampurna VI Kota Bekasi juga memperkenalkan Program Unggulan Gebyar Pasar Nusantara.
Program tersebut dirancang sebagai wadah edukatif, interaktif, dan menyenangkan untuk mengenalkan serta melestarikan kekayaan budaya Indonesia kepada para siswa sejak dini.
Asan Suryana menjelaskan bahwa program tersebut akan dikemas dalam bentuk festival sekolah dan pekan kebudayaan.
“Program ini dikemas dalam bentuk festival sekolah, pekan kebudayaan, bersifat edukatif, interaktif, dan menyenangkan. Melibatkan seluruh civitas akademik, guru dan para orang tua,” terang Asan Suryana.
Program tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. Anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan melalui kegiatan akademik, tetapi juga melalui pengalaman sosial, kebudayaan, kreativitas, dan kerja sama.
Dalam konteks pencegahan berbagai pengaruh negatif, kegiatan positif seperti festival budaya dapat menjadi ruang bagi anak untuk menyalurkan energi dan kreativitas.
Anak yang memiliki ruang untuk beraktivitas secara positif akan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, dan rasa tanggung jawab.
Persiapan Data SPMB Harus Dilakukan Sejak Dini
Selain membahas perlindungan anak dan program sekolah, rapat tersebut juga membahas persiapan data siswa untuk menghadapi masa transisi dari sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama.
Sakim Sunarya, S.Pd., mengingatkan bahwa persiapan data menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam proses pendaftaran sekolah.
Dokumen yang perlu dipastikan antara lain Kartu Keluarga, ijazah atau surat kelulusan, serta Nomor Induk Siswa Nasional.
“Ketidaklengkapan atau perbedaan data pada dokumen ini sering menyebabkan kegagalan sistem verifikasi,” terang Sakim Sunarya.
Menurutnya, persoalan data administrasi dapat muncul dalam berbagai bentuk. Pada dokumen Kartu Keluarga, misalnya, terdapat kemungkinan perbedaan alamat atau tanggal penerbitan dokumen yang belum sinkron dengan data kependudukan.
Sementara itu, pada data NISN dan Dapodik, perbedaan ejaan nama, tempat lahir, atau tanggal lahir juga dapat menjadi persoalan apabila tidak segera diperbaiki.
Perbedaan data antara akta kelahiran, rapor, dokumen kependudukan, dan sistem pendidikan dapat menghambat proses verifikasi.
Karena itu, orang tua diminta tidak menunggu hingga pendaftaran sekolah dibuka untuk memeriksa dokumen anak.
“Untuk mengatasi data yang salah segera koordinasi ke sekolah agar data diperbaiki dan sinkron dengan sistem pusat sebelum pendaftaran dibuka,” imbau Sakim.
Akta Kelahiran hingga NISN Harus Dipastikan Sinkron
Akta kelahiran, Kartu Keluarga, Kartu Identitas Anak, dan Nomor Induk Siswa Nasional merupakan dokumen penting dalam administrasi pendidikan.
Keempat dokumen tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi. Data kependudukan menjadi dasar penting dalam berbagai layanan publik, termasuk pendidikan dan sejumlah program bantuan sosial.
Oleh karena itu, orang tua perlu memeriksa data anak secara berkala. Nama lengkap, tempat lahir, tanggal lahir, dan data keluarga harus dipastikan konsisten.
Apabila terdapat kesalahan, perbaikan sebaiknya dilakukan sedini mungkin melalui koordinasi dengan sekolah dan instansi terkait.
Langkah tersebut penting karena proses digitalisasi layanan pendidikan membuat keakuratan data semakin menentukan.
Perlindungan Anak Membutuhkan Gerakan Bersama
Peringatan mengenai dugaan ancaman narkoba bermodus permen di sekitar lingkungan anak harus menjadi momentum untuk memperkuat kewaspadaan masyarakat.
Namun, kewaspadaan harus dibangun berdasarkan informasi yang benar dan tidak menimbulkan kepanikan.
Orang tua perlu mengajarkan anak agar tidak menerima makanan atau barang dari orang yang tidak dikenal tanpa sepengetahuan orang dewasa. Anak juga perlu dibiasakan untuk berani bercerita ketika mengalami situasi yang mencurigakan.
Sekolah, di sisi lain, harus terus memperkuat edukasi mengenai bahaya narkoba, kesehatan, keamanan diri, dan kemampuan mengambil keputusan.
Sementara itu, masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak.
Pada akhirnya, pencegahan penyalahgunaan narkoba bukan hanya tugas aparat penegak hukum. Pencegahan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.
Pesan yang disampaikan SDN Jatisampurna VI Kota Bekasi menjadi pengingat bahwa perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan pendidikan akademik. Mereka juga membutuhkan pendampingan, dialog, pengawasan, keteladanan, serta lingkungan sosial yang sehat.
Karena itu, kewaspadaan terhadap berbagai modus peredaran zat berbahaya harus berjalan beriringan dengan pendidikan karakter dan penguatan komunikasi keluarga.
Dengan kolaborasi yang kuat, anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih kritis, berani mengambil keputusan, serta mampu melindungi dirinya dari berbagai ancaman di lingkungan sekitar.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
Sumber : SDN Jatisampurna VI Kota Bekasi
Keterangan berita berdasarkan pernyataan Kepala SDN Jatisampurna VI, Lilis Suharti, S.Pd., serta guru dan peserta rapat sosialisasi program kelas VI.
