SEMARANG, Supersemar News – Di tengah ratusan wisudawan yang merayakan kelulusan, sosok Dr. J L M Siahaan mencuri perhatian. Pada usia 73 tahun, ia menjadi wisudawan paling senior yang turut dilantik pada prosesi wisuda ke-183 Universitas Diponegoro tahap 5 yang digelar pada Jumat, 31 Juli 2026 di gedung Muladi Dome kampus UNDIP Tembalang. Dr. J L M Siahaan berhasil menyelesaikan studi pada Program Doktor Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.

Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNDIP, Prof. Dr. rer.nat. Ir. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T. menyampaikan apresiasi kepada JLM Siahaan yang berhasil lulus program doktor sejarah di usia 73 tahun. “Kelulusan ini menjadi bukti bahwa semangat menuntut ilmu tidak dibatasi oleh usia,” ujarnya.

Bagi Dr. J L M Siahaan, belajar merupakan proses yang berlangsung sepanjang hayat, terlebih ketika ilmu yang dimiliki masih dibutuhkan oleh masyarakat.

Sebelum menempuh pendidikan doktor, Dr. J L M Siahaan telah meniti karier panjang sebagai konsultan survei dan perencanaan jalan raya serta jembatan. Lulusan Sarjana (S1) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kemudian melanjutkan pendidikan Magister (S2) di University of Pennsylvania pada bidang Transportation Economic Development.

Di luar profesinya sebagai praktisi, Dr. J L M Siahaan juga aktif menulis dan menjadi narasumber dalam berbagai seminar yang membahas sejarah dan budaya, khususnya mengenai kawasan Toba. Aktivitas tersebut menjadi alasan utama dirinya memilih melanjutkan studi ke jenjang doktor di Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro.

“Selama ini saya masih sering diminta menjadi narasumber mengenai sejarah dan budaya Toba. Karena itu, saya ingin memperdalam ilmu agar apa yang saya sampaikan memiliki landasan akademik yang semakin kuat,” ujarnya.

Perjalanan menyelesaikan studi doktor di usia senja bukan tanpa tantangan. Namun, dukungan dari lingkungan akademik UNDIP membuatnya mampu melalui proses pendidikan dengan baik hingga meraih gelar doktor.

Menurutnya, atmosfer akademik di UNDIP sangat mendukung mahasiswa untuk terus berkembang, baik melalui bimbingan dosen maupun lingkungan belajar yang kondusif. Baginya, keberhasilannya meraih gelar doktor bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga pesan bahwa pendidikan tidak memiliki batas usia.

Ia berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi, terutama bagi generasi muda, untuk tidak pernah berhenti belajar. “Jangan pernah berhenti belajar. Usia bukan penghalang untuk terus menuntut ilmu. Selama masih ada kesempatan, teruslah belajar dan berkarya,” pesannya.

Kisah Dr. J L M Siahaan menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah perjalanan seumur hidup. Di usia 73 tahun, ia membuktikan bahwa tekad, rasa ingin tahu, dan semangat untuk terus berkembang mampu mengalahkan batasan usia. Kelulusannya menjadi inspirasi bahwa belajar tidak mengenal kata terlambat. (Komunikasi Publik/UNDIP/Ut)

Sumber : undip.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *