
Ketua Umum HIPMAPI sekaligus Mantan Ketua DPP IKAL Lemhannas Jambi dari Sarolangun, Gerakan Petani Merah Putih Mulai Digerakkan
SUPERSEMAR NEWS – JAMBI — Ketahanan pangan nasional tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar di tingkat pusat. Justru, kekuatan paling mendasar dapat tumbuh dari kebun keluarga, halaman rumah, lingkungan tetangga, hingga kelompok masyarakat yang mampu mengembangkan sumber pangan secara mandiri.
Gagasan itulah yang mengemuka dalam wawancara eksklusif Rifay Marzuki, CEO Faytastic Pro sekaligus Dewan Pembina Supersemar News, bersama H. M. Gunther Gemparalam Ketua Umum HIPMAPI, dan Mayjen TNI (Purn) Muhammad Nizam, mantan Pangdam Wirabuana Makassar, dalam rangkaian kunjungan kerja HIPMAPI di Sarolangun, Jambi.
Kunjungan tersebut tidak sekadar berbentuk seremoni penanaman. Di balik kegiatan menanam buah naga, kelapa kopyor, serta pengembangan tanaman kacang-kacangan, terdapat gagasan yang lebih besar: membangun ketahanan ekonomi keluarga sebagai fondasi ketahanan ekonomi masyarakat dan pada akhirnya memperkuat ketahanan nasional.
Perspektif ini relevan dengan pemikiran strategis mengenai ketahanan pangan. Lemhannas RI sendiri menempatkan diversifikasi pangan, penguatan produksi domestik, serta pembangunan sistem pangan yang tangguh sebagai bagian penting menuju kemandirian pangan Indonesia.
Wawancara Eksklusif Rifay Marzuki: Dari Sarolangun untuk Indonesia
Dalam wawancara tersebut, H. M. Gunther Gemparalam menjelaskan bahwa kunjungan kerja HIPMAPI ke Sarolangun merupakan bagian dari upaya membangun gerakan ekonomi berbasis masyarakat.
Menurut Gunther, kegiatan dimulai dengan penanaman buah naga secara simbolis di kebun milik Mayjen TNI (Purn) Muhammad Nizam. Selanjutnya, dilakukan penanaman kelapa kopyor sebanyak 60 pohon serta tanaman yang disebut sebagai “Saca inci”, dengan bibit yang dibawa dari Bogor oleh Jenderal Jahari Siregar.
Bagi Gunther, aktivitas tersebut bukan sekadar aktivitas pertanian.
Ia melihat penanaman sebagai pintu masuk untuk membangun budaya produksi. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi konsumen. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan menghasilkan sebagian kebutuhan ekonominya sendiri.
Di titik inilah gagasan petani Merah Putih yang tangguh, unggul, dan bermartabat memperoleh konteks yang lebih luas.
Gunther juga menjelaskan keterkaitannya dengan Ikatan Alumni Lemhannas atau IKAL Lemhannas di Jambi. Ia menegaskan bahwa dirinya memiliki posisi sebagai penasihat, sementara Muhammad Nizam berada dalam struktur DPD IKAL Jambi.
Penjelasan tersebut penting agar publik tidak keliru memahami hubungan kelembagaan antara kegiatan HIPMAPI dan IKAL Lemhannas. Dalam konteks kegiatan di Sarolangun, HIPMAPI menjadi pihak yang menjalankan agenda kunjungan kerja, sedangkan keterlibatan Gunther dan Nizam dalam lingkungan IKAL Lemhannas merupakan kapasitas yang melekat pada keduanya.
Dengan demikian, terdapat dua konteks yang berjalan beriringan: agenda organisasi HIPMAPI dan kapasitas kepengurusan atau penasihatan dalam lingkungan IKAL Lemhannas.

Muhammad Nizam: Ketahanan Ekonomi Harus Dimulai dari Keluarga
Sementara itu, Mayjen TNI (Purn) Muhammad Nizam memberikan tekanan yang lebih spesifik pada aspek ekonomi.
Ia memandang ketahanan ekonomi harus dibangun secara bertahap. Titik awalnya adalah individu, kemudian keluarga, tetangga, lingkungan, masyarakat, dan akhirnya berkembang menjadi kekuatan ekonomi nasional.
Gagasan tersebut terlihat sederhana. Namun, justru kesederhanaan itu menjadi kekuatannya.
Sebuah keluarga yang mampu menghasilkan pangan sendiri akan memiliki ketergantungan yang lebih rendah terhadap pasar. Jika model tersebut diterapkan oleh sepuluh keluarga, dampaknya menjadi lebih besar. Jika berkembang menjadi seratus keluarga, terbentuklah kelompok produksi. Apabila kemudian kelompok tersebut mampu mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, maka lahirlah aktivitas ekonomi baru.
Inilah mata rantai yang ingin dibangun.
Nizam mencontohkan pengembangan tanaman kacang-kacangan yang nantinya diarahkan untuk mendukung produksi pangan olahan, termasuk tahu dan tempe.
Ia menjelaskan bahwa bibit yang saat ini tersedia masih terbatas. Karena itu, bibit tersebut terlebih dahulu dikembangkan di kebunnya. Setelah berkembang, sebagian tanaman akan dibagikan kepada tetangga.
Pola tersebut dapat membentuk mekanisme sederhana:
bibit → ditanam → dikembangkan → dibagikan → diperluas → dipanen → diolah → menghasilkan nilai ekonomi.
Konsep itu jauh lebih penting daripada sekadar jumlah pohon yang ditanam pada satu hari tertentu.
Kacang-Kacangan dan Tantangan Ketergantungan Kedelai
Pernyataan mengenai upaya mencari alternatif bahan baku tahu dan tempe juga menarik untuk dicermati.
Indonesia memiliki industri tahu dan tempe yang sangat besar. Kedelai menjadi salah satu bahan baku utama dalam industri tersebut. Karena itu, perubahan harga dan pasokan kedelai dapat berpengaruh langsung terhadap produsen serta konsumen.
Pada April 2026, Kementerian Pertanian memfasilitasi kesepakatan antara importir dan pengrajin tahu-tempe mengenai harga acuan penjualan kedelai sebesar Rp11.500 per kilogram di tingkat importir. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas harga bahan baku industri tahu dan tempe di tengah dinamika rantai pasok global.
Artinya, gagasan diversifikasi bahan baku bukan persoalan yang muncul tanpa konteks.
Penelitian pertanian Indonesia juga telah mengkaji pemanfaatan berbagai jenis kacang-kacangan lokal sebagai bahan substitusi untuk produk pangan berbasis kedelai. Namun, setiap jenis kacang memiliki karakteristik fisik, kimia, rasa, tekstur, dan tingkat kecocokan pengolahan yang berbeda. Karena itu, gagasan substitusi harus melewati tahap penelitian, pengujian, standardisasi, dan pengembangan teknologi pangan sebelum dapat diterapkan secara luas.
Di sinilah pentingnya kehati-hatian.
Pernyataan bahwa tanaman tertentu dapat menggantikan kedelai untuk tahu dan tempe tidak boleh langsung dipahami sebagai kesimpulan ilmiah final. Pernyataan tersebut lebih tepat dibaca sebagai gagasan pengembangan dan diversifikasi pangan yang perlu diuji lebih lanjut.
Dengan kata lain, gerakan lapangan perlu bertemu dengan riset.
Dari Menanam ke Hilirisasi
Kekuatan utama gagasan Gunther dan Nizam sebenarnya bukan hanya pada aktivitas menanam.
Yang lebih penting adalah bagaimana hasil pertanian tersebut memiliki hilirisasi.
Petani tidak berhenti pada tahap menghasilkan bahan mentah. Hasil pertanian perlu diproses, dikemas, dipasarkan, dan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat.
Dalam konteks ini, rencana Nizam untuk mengembangkan pengolahan tahu dan tempe menjadi menarik. Sebab, apabila bahan baku berasal dari lingkungan sendiri, kemudian diolah oleh masyarakat sendiri, lalu dipasarkan kembali kepada masyarakat, maka terbentuklah rantai ekonomi lokal.
Model semacam itu sejalan dengan pentingnya hilirisasi yang kini juga mendapat perhatian dalam kebijakan nasional. Lemhannas RI pada Juli 2026 menekankan bahwa hilirisasi seharusnya tidak berhenti pada produk setengah jadi, tetapi diarahkan sampai kepada pengguna akhir.
Dengan demikian, petani tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah.
Petani harus memperoleh posisi sebagai bagian dari rantai nilai.
HIPMAPI dan Petani Merah Putih
Pernyataan Gunther mengenai rencana mengajak petani di berbagai wilayah Indonesia menjadi bagian penting dari agenda tersebut.
Kunjungan kerja HIPMAPI ke Sarolangun dapat dibaca sebagai sebuah contoh kecil tentang bagaimana organisasi masyarakat mencoba menerjemahkan gagasan besar ketahanan nasional ke dalam aktivitas ekonomi produktif.
Konsep Petani Merah Putih yang disebut Gunther bukan sekadar istilah simbolik. Secara substansi, konsep itu menempatkan petani sebagai aktor strategis pembangunan.
Petani harus tangguh menghadapi perubahan harga.
Petani harus unggul dalam produktivitas.
Petani harus bermartabat karena memperoleh nilai ekonomi yang layak dari pekerjaannya.
Namun, konsep tersebut membutuhkan ekosistem.
Petani membutuhkan bibit berkualitas. Petani membutuhkan pengetahuan budidaya. Petani membutuhkan akses pembiayaan. Petani membutuhkan teknologi pascapanen. Petani membutuhkan kepastian pasar. Petani juga membutuhkan akses terhadap industri pengolahan.
Tanpa itu semua, gerakan menanam berpotensi berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Catatan Investigatif: Tantangan Terbesar Ada Setelah Penanaman
Dari perspektif jurnalistik, bagian paling penting dari kegiatan Sarolangun justru bukan ketika bibit ditanam.
Pertanyaan kritisnya adalah: apa yang terjadi enam bulan, satu tahun, atau tiga tahun setelah penanaman?
Apakah tanaman tumbuh?
Berapa tingkat keberhasilannya?
Berapa biaya perawatan?
Berapa hasil panennya?
Siapa yang membeli?
Berapa pendapatan petani?
Apakah hasilnya mampu membiayai produksi berikutnya?
Apakah masyarakat benar-benar memperoleh peningkatan ekonomi?
Pertanyaan tersebut penting karena ketahanan pangan tidak dapat diukur hanya berdasarkan jumlah bibit yang dibagikan atau jumlah tanaman yang ditanam.
Ketahanan pangan membutuhkan kesinambungan.
Karena itu, HIPMAPI dapat memperkuat program tersebut dengan membangun sistem pendataan dan pemantauan. Setiap kelompok penerima bibit dapat memiliki data sederhana mengenai luas lahan, jumlah tanaman, tingkat pertumbuhan, biaya produksi, hasil panen, serta nilai penjualan.
Jika data itu dikumpulkan secara konsisten, gerakan yang awalnya bersifat lokal dapat berkembang menjadi model pembangunan pertanian berbasis bukti.
Sarolangun Bisa Menjadi Laboratorium Ekonomi Kerakyatan
Sarolangun memiliki peluang untuk menjadi contoh bagaimana ketahanan ekonomi dibangun dari bawah.
Kebun Muhammad Nizam dapat menjadi titik awal pengembangan bibit. Setelah itu, bibit dapat disebarkan kepada masyarakat sekitar. Masyarakat kemudian mengembangkan tanaman tersebut. Hasilnya dapat dikumpulkan dan diolah melalui unit usaha bersama.
Pada tahap berikutnya, produk dapat diberi merek, dikemas, dan dipasarkan secara lebih luas.
Jika rantai tersebut berjalan, maka terjadi transformasi:
dari kebun menjadi produksi, dari produksi menjadi industri, dan dari industri menjadi kesejahteraan.
Inilah makna strategis yang jauh lebih besar daripada seremoni penanaman.
Momentum HUT RI ke-81 dan Ketahanan Nasional
Gunther menyebut agenda ini sebagai tindak lanjut dari hasil Sarasehan Nasional HIPMAPI dalam menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Momentum tersebut semestinya tidak berhenti pada slogan.
Kemerdekaan ekonomi harus diterjemahkan ke dalam kemampuan masyarakat menghasilkan pangan, mengembangkan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan.
Dalam perspektif ketahanan nasional, pangan merupakan salah satu unsur strategis. Kajian Lemhannas RI menyebut sejumlah tantangan ketahanan pangan, antara lain diversifikasi pangan, kemandirian produksi, logistik, kesejahteraan petani, penyusutan lahan pertanian, serta belum terpadunya kebijakan pangan.
Karena itu, gerakan berbasis keluarga dan komunitas tetap membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih luas.
Pemerintah, organisasi masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan kelompok petani perlu berada dalam satu ekosistem.
Wawancara Rifay Marzuki Menunjukkan Pentingnya Kolaborasi
Wawancara eksklusif Rifay Marzuki dengan Gunther Gemparalam dan Muhammad Nizam memperlihatkan satu pesan utama: ketahanan nasional tidak hanya dibangun di ruang-ruang kebijakan, tetapi juga di kebun masyarakat.
Gunther membawa perspektif organisasi dan gerakan petani.
Nizam membawa perspektif pengalaman kepemimpinan serta penguatan ekonomi dari lingkup keluarga dan lingkungan.
Sementara itu, Rifay Marzuki melalui wawancara tersebut menghadirkan ruang bagi gagasan tersebut untuk diketahui publik secara lebih luas.
Namun, pekerjaan terbesar justru dimulai setelah wawancara selesai.
Bibit harus tumbuh.
Petani harus mendapatkan pendapatan.
Produk harus memiliki pasar.
Industri pengolahan harus berjalan.
Dan masyarakat harus merasakan manfaat nyata.
Jika semua tahapan itu berhasil, kegiatan di Sarolangun tidak lagi sekadar menjadi dokumentasi kunjungan kerja.
Ia dapat menjadi prototipe.
Prototipe tentang bagaimana ketahanan pangan dibangun dari keluarga, ketahanan ekonomi tumbuh dari tetangga, kelompok usaha lahir dari masyarakat, dan kekuatan ekonomi nasional diperkuat dari desa.
Penutup: Menanam Hari Ini, Memanen Kedaulatan Esok Hari
Indonesia tidak kekurangan tanah, manusia, maupun pengetahuan untuk membangun ketahanan pangan. Tantangannya adalah menghubungkan seluruh potensi tersebut menjadi sistem yang konsisten dan berkelanjutan.
Karena itu, gagasan HIPMAPI untuk mendorong petani Merah Putih perlu ditempatkan sebagai gerakan jangka panjang.
Menanam bukan tujuan akhir.
Menanam adalah awal.
Tujuan akhirnya adalah kemandirian.
Ketika satu keluarga mampu menghasilkan pangan, satu tetangga ikut menanam, satu kelompok mampu mengolah hasil pertanian, dan satu kawasan mampu membangun pasar sendiri, maka ketahanan ekonomi mulai terbentuk.
Dari situlah ketahanan pangan mendapatkan fondasi sosialnya.
Dan dari ketahanan pangan itulah ketahanan nasional memperoleh salah satu benteng terpentingnya.
Sarolangun hari ini mungkin hanya sebuah titik di peta. Namun, jika gerakan ini konsisten, terukur, berbasis ilmu pengetahuan, dan benar-benar berpihak kepada petani, titik kecil tersebut dapat menjadi bagian dari peta besar perjuangan Indonesia membangun petani Merah Putih yang tangguh, unggul, mandiri, dan bermartabat.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
Sumber utama: Wawancara langsung Rifay Marzuki dengan H. M. Gunther Gemparalam dan Mayjen TNI (Purn) Muhammad Nizam dalam rangkaian kegiatan HIPMAPI di Sarolangun, Jambi.
