SAMPIT, Supersemar News – Rona merah masih menghiasi langit malam di Desa Sungai Paring dan Luwuk Bunter. Dari kejauhan, cahaya kobaran api memantul di balik pepohonan, menjadi penanda bahwa kebakaran hutan dan lahan belum benar-benar padam. Di tengah gelapnya malam, suara letupan api yang melumat semak belukar sesekali memecah kesunyian.

‎​Di balik kepulan asap itu, puluhan warga memilih tidak pulang. Mereka menggelar tikar di tanah, sebagian hanya beralaskan tanah yang kering. Nyamuk, asap pekat, dan hawa panas menjadi teman sepanjang malam.

‎​Sudah dua hari dua malam mereka bertahan di hutan. Bukan untuk berburu atau berkebun, melainkan menjaga satu-satunya harapan penghidupan mereka agar tidak habis dilalap api.

‎​Sawit yang bertahun-tahun dirawat kini berdiri gosong. Pohon-pohon karet menghitam tak bersisa. Ada warga yang menangis melihat kebunnya hangus, ada pula yang hanya terdiam memandangi api yang terus bergerak.

‎​”Kami tetap jaga sampai malam karena api masih menyala dari kejauhan. Takutnya kembali menjalar ke lahan,” ujar Anto, warga Sungai Paring, Senin malam, 24 Agustus 2026.

‎​Bagi warga, api di lahan gambut tidak pernah benar-benar selesai. Setelah terlihat mereda, bara bisa kembali muncul dari dalam tanah dan menjalar ke bagian lain. Karena itu mereka bergantian berjaga hingga dini hari.

‎​Selama dua hari warga terpaksa tidak bekerja. Seluruh tenaga dan waktu dicurahkan untuk memadamkan api yang terus membesar di sekitar kebun mereka.

‎​Perjuangan itu tidak mudah. Parit-parit di lokasi telah mengering kerontang sehingga sumber air nyaris tidak ada. Air harus dibawa secara estafet dari permukiman. Bantuan dari PT TASK hanya berupa pasokan air, sementara selang, mesin alkon, dan peralatan pemadaman lainnya sangat terbatas.

‎​Bau asap menyengat hidung dan mata. Napas terasa berat, tetapi warga tetap bertahan. Dius, salah seorang warga kehilangan selera makan karena terus memikirkan kebunnya yang masih terancam.

‎​Sebagian kebun bahkan baru ditanam. Aldi, warga lainnya, hanya bisa melihat tanaman sawit yang baru ditanam dengan biaya tidak sedikit kini habis terbakar tanpa sisa.

‎​”Sudah keluar biaya jutaan untuk merawat kebun. Kalau terbakar lagi, kerugiannya semakin besar,” kata Anto.
‎​Kepala Desa Sungai Paring, Yusuf, mengatakan kebakaran di wilayahnya mulai mereda saat siang hari setelah ada tambahan suplai air untuk pemadaman.

‎​”Api mulai padam, ad suplai air dari PT, untuk luasan saya belum bisa memastikan,” ujarnya ketika dikonfirmasi.

‎​Namun menurut warga, api di daerah bawah memang sudah padam, tetapi kobaran masih terus bergerak ke daerah atas.

‎​”Di bawah memang padam, tapi api masih bergerak ke atas. Jadi kami tetap berjaga,” ujarnya.

‎​Malam demi malam berlalu dengan kegelisahan yang sama. Setiap kali bara mendekat, warga kembali berlari membawa ember, selang, dan peralatan seadanya. Mereka hanya berharap api segera benar-benar padam, agar kebun yang tersisa masih bisa diselamatkan dan mereka kembali menjalani kehidupan seperti biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *