
SAMPIT, Supersemar News – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyebut potensi kekeringan di wilayah setempat masih dapat terus meningkat hingga akhir Agustus 2026.
“Prakiraan cuaca kita beberapa hari kedepan masih panas, lalu sampai 30 Agustus itu tingkat kemudahan kebakarannya sangat tinggi,” kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Selasa.
Sebelum itu, ia menyampaikan akumulasi titik hotspot 24 jam terakhir, Senin (24/8), ada 259 titik dan terbanyak berada di Mentaya Hilir Selatan.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena pergerakan angin berpotensi membawa asap kebakaran menuju wilayah Sampit sehingga dapat menurunkan jarak pandang, terutama apabila arah angin bergerak dari kawasan selatan.
Mulyono menjelaskan, berdasarkan kondisi angin, sebaran asap di wilayah Kalimantan Tengah bergerak mengikuti arah angin dominan dari tenggara menuju barat, barat laut, hingga utara.
Kondisi ini menjadi perhatian karena wilayah Kotim masih menghadapi periode kering dengan suplai hujan yang sangat terbatas, sementara kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah daerah.
Berdasarkan data BMKG yang dipaparkan dalam rapat koordinasi penanganan bencana karhutla dan kekeringan Kotim pada 24 Agustus 2026, pemantauan curah hujan dalam 24 jam terakhir menunjukkan hujan masih sangat terbatas dan lebih banyak terjadi di wilayah utara.
“Di wilayah Tualan Hulu juga ada hujan, masih sekitar 0,1 sampai maksimum 5 milimeter dalam 24 jam terakhir. Itu dominan di wilayah utara, sedangkan wilayah selatan masih belum ada kemungkinan hujan,” ujarnya.
Mulyono mengungkapkan, citra satelit pada 23 dan 24 Agustus juga menunjukkan kondisi tutupan awan di Kalimantan Tengah, khususnya Kotim, relatif cerah sehingga belum mendukung pembentukan awan hujan secara signifikan.
Kondisi tersebut diperkuat prakiraan angin lapisan 3.000 kaki yang menunjukkan dominasi angin dari tenggara menuju barat laut dan utara.
Selain itu, terdapat bibit siklon tropis di wilayah utara yang dinilai berpotensi ikut mempengaruhi kondisi atmosfer dengan menyerap uap air, sehingga wilayah Kotim berpotensi menjadi semakin kering.
“Di utara ada bibit tropical cyclone, itu berpotensi menyerap uap udara lagi. Jadi kita kering, semakin kering,” jelasnya.
Dari sisi potensi kebakaran, BMKG menggunakan sejumlah indikator, di antaranya Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang menggambarkan tingkat kemudahan bahan bakar permukaan untuk terbakar.
Mulyono menyebut pada periode 24 hingga 30 Agustus, potensi kemudahan terbakar pada lapisan permukaan atau sekitar 1-2 sentimeter berada pada kategori sangat tinggi.
Kondisi serupa juga mulai terlihat pada lapisan tanah yang lebih dalam. Pada lapisan sekitar 2-5 sentimeter, potensi kebakaran dinilai semakin meningkat karena dalam beberapa waktu terakhir wilayah Kotim belum memperoleh suplai hujan yang memadai.
“Apalagi kalau sudah merambat, posisinya akan menyebar lebih cepat,” sebutnya.
Sementara itu, pada lapisan lebih dalam atau sekitar 10 sentimeter ke bawah, tingkat kemudahan terbakar di bagian selatan Kotim juga berada pada kondisi sangat tinggi hingga akhir Agustus.
Kondisi ini menunjukkan kekeringan tidak hanya berdampak pada bahan bakar permukaan, tetapi juga telah meningkatkan kekeringan pada lapisan tanah yang lebih dalam sehingga api berpotensi bertahan dan meluas ketika terjadi kebakaran.
BMKG juga memprakirakan peluang pertumbuhan awan hujan masih terbuka secara terbatas pada 24-25 Agustus, terutama di wilayah utara Kotim, dengan peluang sekitar 50-70 persen.
Namun, peluang tersebut menurun drastis mulai 25 hingga 30 Agustus. Potensi pertumbuhan awan hujan pada periode tersebut diperkirakan sangat rendah hingga nihil.
“Jadi untuk prakiraan cuaca kita seminggu ke depan masih panas,” imbuhnya.
Dengan kondisi tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat dan seluruh pihak terkait agar meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kemudahan terbakar tinggi.
