BMKG Kotim Sebut Kekeringan Masih Berpotensi Meningkat

- Jurnalis

Rabu, 26 Agustus 2026 - 05:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

SAMPIT, Supersemar News – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyebut potensi kekeringan di wilayah setempat masih dapat terus meningkat hingga akhir Agustus 2026.

“Prakiraan cuaca kita beberapa hari kedepan masih panas, lalu sampai 30 Agustus itu tingkat kemudahan kebakarannya sangat tinggi,” kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Selasa.

Sebelum itu, ia menyampaikan akumulasi titik hotspot 24 jam terakhir, Senin (24/8), ada 259 titik dan terbanyak berada di Mentaya Hilir Selatan.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena pergerakan angin berpotensi membawa asap kebakaran menuju wilayah Sampit sehingga dapat menurunkan jarak pandang, terutama apabila arah angin bergerak dari kawasan selatan.

Mulyono menjelaskan, berdasarkan kondisi angin, sebaran asap di wilayah Kalimantan Tengah bergerak mengikuti arah angin dominan dari tenggara menuju barat, barat laut, hingga utara.

Kondisi ini menjadi perhatian karena wilayah Kotim masih menghadapi periode kering dengan suplai hujan yang sangat terbatas, sementara kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah daerah.

Berdasarkan data BMKG yang dipaparkan dalam rapat koordinasi penanganan bencana karhutla dan kekeringan Kotim pada 24 Agustus 2026, pemantauan curah hujan dalam 24 jam terakhir menunjukkan hujan masih sangat terbatas dan lebih banyak terjadi di wilayah utara.

Baca Juga :  28 September 2026: Hari Kereta Api Nasional dan Tiga Peringatan Penting

“Di wilayah Tualan Hulu juga ada hujan, masih sekitar 0,1 sampai maksimum 5 milimeter dalam 24 jam terakhir. Itu dominan di wilayah utara, sedangkan wilayah selatan masih belum ada kemungkinan hujan,” ujarnya.

Mulyono mengungkapkan, citra satelit pada 23 dan 24 Agustus juga menunjukkan kondisi tutupan awan di Kalimantan Tengah, khususnya Kotim, relatif cerah sehingga belum mendukung pembentukan awan hujan secara signifikan.

Kondisi tersebut diperkuat prakiraan angin lapisan 3.000 kaki yang menunjukkan dominasi angin dari tenggara menuju barat laut dan utara.

Selain itu, terdapat bibit siklon tropis di wilayah utara yang dinilai berpotensi ikut mempengaruhi kondisi atmosfer dengan menyerap uap air, sehingga wilayah Kotim berpotensi menjadi semakin kering.

“Di utara ada bibit tropical cyclone, itu berpotensi menyerap uap udara lagi. Jadi kita kering, semakin kering,” jelasnya.

Dari sisi potensi kebakaran, BMKG menggunakan sejumlah indikator, di antaranya Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang menggambarkan tingkat kemudahan bahan bakar permukaan untuk terbakar.

Mulyono menyebut pada periode 24 hingga 30 Agustus, potensi kemudahan terbakar pada lapisan permukaan atau sekitar 1-2 sentimeter berada pada kategori sangat tinggi.

Baca Juga :  Polisi mendalami penyebab kebakaran di Terminal NPCT1 Jakut

Kondisi serupa juga mulai terlihat pada lapisan tanah yang lebih dalam. Pada lapisan sekitar 2-5 sentimeter, potensi kebakaran dinilai semakin meningkat karena dalam beberapa waktu terakhir wilayah Kotim belum memperoleh suplai hujan yang memadai.

“Apalagi kalau sudah merambat, posisinya akan menyebar lebih cepat,” sebutnya.

Sementara itu, pada lapisan lebih dalam atau sekitar 10 sentimeter ke bawah, tingkat kemudahan terbakar di bagian selatan Kotim juga berada pada kondisi sangat tinggi hingga akhir Agustus.

Kondisi ini menunjukkan kekeringan tidak hanya berdampak pada bahan bakar permukaan, tetapi juga telah meningkatkan kekeringan pada lapisan tanah yang lebih dalam sehingga api berpotensi bertahan dan meluas ketika terjadi kebakaran.

BMKG juga memprakirakan peluang pertumbuhan awan hujan masih terbuka secara terbatas pada 24-25 Agustus, terutama di wilayah utara Kotim, dengan peluang sekitar 50-70 persen.

Namun, peluang tersebut menurun drastis mulai 25 hingga 30 Agustus. Potensi pertumbuhan awan hujan pada periode tersebut diperkirakan sangat rendah hingga nihil.

“Jadi untuk prakiraan cuaca kita seminggu ke depan masih panas,” imbuhnya.

Dengan kondisi tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat dan seluruh pihak terkait agar meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kemudahan terbakar tinggi.

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SILATURAHIM SUPERSEMAR LAW FIRM DAN NEWS KE BAKAMLA RI, PERKUAT KOMUNIKASI DAN SINERGI ANTARLEMBAGA
Kabut Asap Selimuti Sungai Mentaya, Motoris Klotok Diimbau Waspada
Batal Tinjau Karhutla, Pemkab Kotim Mengaku Dipersulit Bertemu Menhut RI Raja Juli
Krisis Air Bersih di Baamang dan MB Ketapang, Dinkes Ingatkan Bahaya Konsumsi Air Payau
Kendaraan Roda Tiga Berpotensi Jadi Alternatif Transportasi Nasional, Pemerataan Akses dan Keselamatan Jadi Sorotan
Fakta-fakta OTT KPK di BNPB
Gerindra Respons Hasil Survei Evaluasi 2 Tahun Prabowo
Panglima Korpasgat Pimpin Upacara Purnabakti 26 Prajurit Korpasgat
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:47 WIB

SILATURAHIM SUPERSEMAR LAW FIRM DAN NEWS KE BAKAMLA RI, PERKUAT KOMUNIKASI DAN SINERGI ANTARLEMBAGA

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:13 WIB

Kabut Asap Selimuti Sungai Mentaya, Motoris Klotok Diimbau Waspada

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:35 WIB

Batal Tinjau Karhutla, Pemkab Kotim Mengaku Dipersulit Bertemu Menhut RI Raja Juli

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:32 WIB

Krisis Air Bersih di Baamang dan MB Ketapang, Dinkes Ingatkan Bahaya Konsumsi Air Payau

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:47 WIB

Kendaraan Roda Tiga Berpotensi Jadi Alternatif Transportasi Nasional, Pemerataan Akses dan Keselamatan Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Berita utama

Kabut Asap Selimuti Sungai Mentaya, Motoris Klotok Diimbau Waspada

Rabu, 14 Okt 2026 - 14:13 WIB