YOGYAKARTA, Supersemar News – Pengurus rumah pahlawan nasional dr Sardjito berharap aset bersejarah di Jalan Cik Di Tiro Nomor 16, Terban, Yogyakarta dibeli oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) atau Universitas Islam Indonesia (UII). Untuk diketahui, Sardjito merupakan sosok perintis dan Rektor pertama UGM pada 1950-1961. Ia juga pernah menjadi Rektor UII selama sembilan tahun pada 1961-1970. Bangunan rumah mengusung gaya klasik dengan atap segitiga runcing ini memiliki nilai historis tinggi.  Rumah tersebut tidak hanya menjadi hunian pribadi Sardjito, tetapi juga tempat diskusi kebangsaan para tokoh politik nasional.

‎Namun, ahli waris sepakat untuk menawarkan rumah tersebut kepada pihak lain. Menurut Budhi Santoso yang sudah merawat rumah Sardjito sejak 1980, keputusan ini diambil untuk mencegah potensi perselisihan keluarga di masa depan terkait pengelolaan warisan. “Dengan berat hati saya sampaikan kepada para ahli waris, dan mereka setuju kalau ini dilepas. Saya berharap yang membeli adalah orang terbaik,” kata Budhi dikutip dari Kompas.com, Rabu (13/5/2026). Budhi menambahkan, jika rumah peninggalan Sardjito dibeli oleh UGM atau UII, bangunan ini bisa digunakan sebagai rumah dinas rektor, museum, atau fasilitas pelayanan masyarakat, seperti Puskesmas karena masih selaras dengan semangat dr Sardjito. “Itu kan masih selaras dengan semangat dr Sardjito. Rektor UGM juga sudah sempat berkunjung ke sini,” imbuhnya.

‎Rumah dr Sardjito Jatuh ke Tangan Cucu Hingga kini, kondisi rumah Sardjito masih sangat terawat dengan lantai ubin merah mengkilap dan nuansa lawas yang dijaga.  Budhi mengaku sudah merawat rumah ini selama 46 tahun. Namun, ia merasa sudah saatnya aset ini beralih ke tangan yang lebih mampu menjaganya. “Saya juga sudah 70 tahun, sudah masuk generasi ketiga dan keempat, sudah sampai ke cicit,” kata Budhi dikutip dari TribunJogja, Kamis (14/5/2026). “Saya merasa sudah tua. Kalau yang namanya warisan, nanti suatu saat menjadi masalah. Ahli waris juga tidak bisa merawat, di Jakarta,” tambahnya.

‎Berdasarkan pengakuan Budhi, dr Sardjito memiliki seorang istri bernama Soeko Emmi dan anak tunggal bernama Pek Poedjioetomo. Setelah Pek Poedjioetomo wafat, hak waris kini berada pada cucunya, Alita Poedjioetomo dan Dyani Poedjioetomo.  Budhi sendiri mulai dipercaya mengelola rumah sejak usia 24 tahun untuk menemani Soeko Emmi. “Bu Sardjito punya anak putra tunggal, Pak Pek Poedjioetomo. Ketika itu ke luar negeri dan sebagainya, sini kosong,” ungkap Budhi. “Akhirnya saya diberi tugas suruh menemani Ibu Sardjito. Waktu itu saya usianya 24 tahun mungkin,” tambahnya.

‎Berharap Rumah dr Sardjito Tak Jadi Kafe Budhi merasa keberatan jika rumah Sardjito yang penuh kenangan diubah fungsinya menjadi tempat komersial.  “Kalau dibeli oleh siapa pun lalu dipakai untuk kafe, saya susah menerima, rasanya mengelus dada. Saya lebih rela jika tetap digunakan sebagai hunian atau fungsi sosial,” terang Budhi. Selain merawat rumah, Budhi juga melanjutkan warisan obat tradisional Sardjito dengan mendirikan PT Perusahaan Jamu Tradisional dr Sardjito.

‎Ia berharap semangat dr Sardjito tetap terjaga karena rumah ini pernah dikunjungi tokoh besar bangsa. “Pak Karno, Sri Sultan Hamengku Buwono, Pak Hatta, termasuk ayahnya Bapak Prabowo yang sekarang Presiden pernah ke sini,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *