
JAKARTA, Supersemar News – PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dinilai memiliki struktur biaya rendah dan margin yang relatif tangguh. Ini membuat BYAN lebih tahan banting ketimbang BUMI, ITMG, PTBA, dan GEMS.
Bayan Resources (BYAN) dimiliki oleh Low Tuck Kwong, orang terkaya se-Indonesia saat ini, dengan kepemilikan saham mencapai 40,2%. Elaine Low, putri dari Low Tuck Kwong, turut menguasai 22% saham.
Bayan Resources merupakan produsen batu bara termal terbesar ketiga di Indonesia berdasarkan volume produksi. Bayan Resources juga menjadi salah satu perusahaan batu bara dengan operasi paling terintegrasi di Asia Tenggara.
Emiten berkode saham BYAN tersebut memanfaatkan skala produksi yang besar, serta rantai logistik milik sendiri dari area tambang hingga pelabuhan.
Integrasi tersebut memungkinkan BYAN mempertahankan struktur biaya yang rendah dan margin yang relatif tangguh,” tulis analis KB Valbury Sekuritas, Adolf RB Setiadi dalam risetnya, dikutip pada Selasa (21/7/2026).
Operasi yang terintegrasi membuat proses pengangkutan dan pengiriman batu bara BYAN menjadi lebih efisien. Pada 2025, biaya tunai (cash cost) BYAN sebesar US$ 32,5 per metrik ton (MT), lebih rendah dibandingkan panduan sebesar US$ 39,1/MT.
Pencapaian itu didukung oleh rasio pengupasan tanah penutup (stripping ratio/SR) sebesar 3,9 kali, lebih rendah dari target 4,5 kali – sekaligus menjadi salah satu yang terendah di industri batu bara Indonesia.
Sebagai perbandingan, stripping ratio PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mencapai 5,4 kali, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar 6 kali, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 6,1 kali, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar 9,4 kali.
Keunggulan BYAN tersebut berlanjut pada kuartal I-2026. Meski volume penjualan lebih rendah, cash cost BYAN tetap berada di level US$ 33,1/MT atau lebih rendah dari panduan yang sebesar US$ 36,8/MT.
Efisiensi biaya itu pada akhirnya menopang profitabilitas yang sangat kuat. Pada 2025, margin EBITDA BYAN mencapai 33,9% dan margin laba bersih sebesar 22,9%. Ini merupakan salah satu yang tertinggi di industri batu bara Indonesia.
“Rendahnya biaya tunai menunjukkan kemampuan BYAN mengelola kegiatan produksi dan logistik secara efisien. Keunggulan ini juga memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk mempertahankan margin ketika harga batu bara berfluktuasi,” jelas Adolf.
Pada kuartal I-2026, BYAN mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 0,5% secara tahunan. Laba bersih juga turun 16,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan pendapatan dan laba tersebut terjadi di tengah berbagai hambatan yang dihadapi perusahaan. Meski demikian, BYAN masih mampu membukukan EBITDA sebesar US$ 285,6 juta, lebih tinggi dibandingkan estimasi internal perusahaan yang sebesar US$ 247 juta.
“Capaian EBITDA yang melampaui estimasi menunjukkan bahwa efisiensi biaya dan integrasi operasional BYAN masih mampu menopang kinerja di tengah tekanan terhadap pendapatan dan laba bersih,” sebut Adolf.
Ke depan, penguatan harga batu bara berpotensi memberikan dukungan tambahan terhadap kinerja BYAN.
Prospek tersebut diperkuat oleh keunggulan perusahaan dalam mengendalikan biaya produksi dan mengelola rantai logistik. Kombinasi harga jual yang lebih baik dan struktur biaya rendah dapat membantu Bayan Resources (BYAN) menjaga profitabilitas serta margin operasional.
Sumber : Investor.id
