KOTA BANDUNG, Supersemar News
Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadziq menghadiri acara Lailatul Ijtima sekaligus Talkshow Pra-Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di halaman Kantor PCNU Kota Bandung pada Ahad (19/7/2026) malam.

Di hadapan ratusan nahdliyin yang memadati lokasi, cucu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari itu mengingatkan pesan legendaris sang kakek pendiri NU mengenai komitmen dalam berorganisasi, yakni ‘Siapa yang mau ngurus NU, saya anggap santriku, dan siapa yang jadi santriku, saya doakan husnul khatimah,’.

“Ngurus NU dan menjadi pengurus itu harus dibedakan, dan memang beda. Ngurus NU itu tidak harus dan tidak wajib jadi pengurus. Tapi pengurus NU wajib mengurusi NU, harus bisa dan punya kemampuan ngurus NU. Jangan minta diurusi, apalagi jadi urusan,” tegasnya.

Gus Fahmi menuturkan bahwa ngurus NU itu tidak harus menjadi pengurus NU. Ia mencontohkan ​​​​​​​saat warga yang hadir dalam acara-acara keagamaan atau pengajian NU.

“Walaupun enggak jadi pengurus, datang di acara NU saja, itu sudah bagian daripada ngurus NU. Seperti acara ini ya, yang menata meja, kursi, menyiapkan sound system, yang angkat-angkat dan sebagainya, itu adalah bagian dari ngurus NU walaupun enggak jadi pengurus,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Fahmi mengajak semua pihak untuk mulai bersikap jujur saat berbicara tentang perkembangan Nahdlatul Ulama saat ini.

​​​​​​​
“Saya mau tanya, PCNU Kota Bandung ini sudah punya RSNU atau belum? Sudah atau belum? Kenapa saya tanya? Karena saya sudah tahu jawabannya, pasti belum. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita,” tuturnya.​​​​​​​​​​​​​​

​​​​​​​Gus Fahmi mengungkapkan bagaimana awal mula didirikannya RSNU di Jombang Jawa Timur yang baru berusia sekira 10 tahun. Ia menyebutkan, persiapan membangun RSNU di Jombang itu sejak tahun 1970. Adapun lokasi tanah yang akan dijadikan sebagai RSNU pada tahun tersebut terletak di Mojoagung, yang kini menjadi gedung kantor PCNU Jombang.

Ia berharap, pengurus NU terutama di tingkat PBNU, dapat memberikan contoh yang baik dengan tidak membuat program kerja yang muluk-muluk.

“Nah, kita berharap agar pengurus-pengurus, ya terutama di PBNU, kasih contoh yang baik. Misalnya, programnya NU itu enggak usah yang muluk-muluk, karena kebanyakan itu adalah warga di pedesaan. Iya kan? Di pedesaan. Sebenarnya kalau fokus, dakwahnya NU itu tiga saja: pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Wah, itu luar biasa itu,” saran Gus Fahmi.

Di sektor pendidikan, Gus Fahmi juga menekankan pentingnya NU memiliki sekolah yang bagus secara kelembagaan. Menurutnya, banyaknya sekolah yang saat ini berdiri di satu kampung namun bukan milik NU secara organisasi, melainkan milik perorangan warga NU yang kadang justru saling bersaing. Ia juga berharap pembenahan sistem pendidikan dan kesehatan berupa kepemilikan rumah sakit adalah tugas nyata para pemikir NU ke depan.

​​​​​​​Sementara di sektor ekonomi, NU sudah harus mulai mandiri agar organisasi bisa tegak berdiri sendiri. ​​​​​​​”Ekonomi, ya NU sudah harus berpikir tentang ekonomi. Supaya apa? Supaya bisa mandiri,” katanya.

Selain itu, Gus Fahmi menyampaikan bahwa warga NU patut berbangga dengan identitas mereka, yang kerap diwujudkan melalui pemasangan atribut organisasi.

“Kita ini bangga menjadi warga NU itu bangga, ya. Sehingga saking bangganya kita itu, objek kita ini rata-rata lambangnya NU, di kopyah, baju, sarung, semuanya ada logo NU. Tapi tentu kita itu lebih bangga ketika logo NU itu nempel di sekolah yang bagus, universitas yang bagus, di ambulans, di rumah sakit, di perusahaan. Ada perusahaan air kemasan, ada logonya NU. Kenapa? Memang berkah, berkah,” paparnya.

​​​​​​​Gus Fahmi mengisahkan keteladanan masa lalu saat NU dipimpin oleh Rais Akbar PBNU Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari dan Ketua Umum PBNU H Hasan Gipo. Haji Hasan Gipo merupakan seorang ulama yang lebih menonjol sebagai saudagar kaya yang rela menjual dan mewakafkan aset-aset pribadinya demi kebesaran NU. Begitu pula dengan KH Wahab Chasbullah yang mertuanya merupakan tuan tanah dengan lahan membentang dari Surabaya hingga Mojokerto, namun habis dijual demi membiayai perjuangan organisasi.

Menurutnya, pengorbanan para pendiri tersebut menunjukkan bahwa seorang Ketua Umum atau pengurus PBNU idealnya harus rela berkorban demi umat. Ia menilai, ketulusan berjuang di NU secara garis besar akan membuat pengurusnya menafkahkan hartanya untuk organisasi hingga kian merugi secara materi demi kemaslahatan, bukannya malah memanfaatkan NU untuk memperkaya diri sendiri.

Sumber : NU Online Jabar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *