SAMPIT, Supersemar News – Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, AKBP Resky Maulana Zulkarnain bersama Wakil Bupati Kotim Irawati turun langsung melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan MT Haryono Barat, Kota Sampit.

“Ini bentuk kolaborasi antara pemerintah daerah, Polri dan TNI. Sejauh ini kita melihat dan mengetahui bersama bahwa hotspot di Kotim cukup banyak dan terbagi di beberapa desa dan kecamatan,” kata Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain di Sampit, Senin.

Dalam kegiatan tersebut turut terlibat Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel, personel Satgas Karhutla serta Lurah Mentawa Baru Hulu dan jajaran.

Resky menjelaskan, kondisi karhutla menjadi perhatian bersama sehingga penanganannya tidak hanya mengandalkan pemadaman di lokasi kejadian, tetapi juga membutuhkan langkah terkoordinasi melalui Satgas Udara dan Satgas Darat.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan BPBD Kotim untuk menentukan langkah yang tepat dalam menghadapi peningkatan titik panas maupun kebakaran lahan.

Polres Kotim akan memperkuat personel di lapangan dengan melakukan penebalan dan penerjunan anggota ke sejumlah lokasi yang membutuhkan penanganan, sekaligus menjalankan upaya pencegahan dan penegakan hukum.

“Kami mendukung penuh dengan menurunkan penebalan anggota, penerjunan anggota, berikut juga tetap melaksanakan sosialisasi, preventif dan tindakan represif,” ujarnya.

Dalam penanganan karhutla, kepolisian juga melakukan penyelidikan terhadap setiap lokasi yang diduga menjadi tempat pembakaran lahan. Sejumlah area yang terbakar telah dipasang garis polisi untuk mengamankan lokasi sekaligus mendukung proses penyelidikan.

Resky mengungkapkan, jumlah lokasi yang telah dipasang garis polisi meningkat dari sebelumnya 15 titik menjadi 18 titik. Lokasi tersebut tersebar di sejumlah kecamatan yang terdapat hotspot dan titik kebakaran.

“Kemarin ada 15 titik, sekarang sudah meningkat menjadi 18 titik. Ini tersebar di seluruh kecamatan yang ada hotspot,” sebutnya.

Dari 18 titik tersebut, kepolisian mencatat beberapa wilayah yang saat ini menjadi perhatian karena terdapat cukup banyak titik kebakaran.

Kecamatan Seranau menjadi salah satu wilayah dengan titik yang cukup banyak, disusul Kecamatan Kota Besi dan kawasan Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.

Kepolisian juga menemukan salah satu lokasi yang berada di dalam area konsesi Hak Guna Usaha (HGU), tepatnya di Kecamatan Kota Besi.

Namun, polisi masih melakukan pengecekan untuk memastikan sumber kebakaran, termasuk kemungkinan api berasal dari tanaman atau lahan masyarakat yang masuk ke dalam area konsesi maupun dari areal konsesi itu sendiri.

“Untuk yang berada di wilayah konsesi itu di Kecamatan Kota Besi. Kami masih mengecek apakah ini berasal dari tanaman masyarakat yang masuk konsesi atau memang dari konsesi,” ungkapnya.

Terkait penyebab kebakaran di sejumlah titik, Resky mengatakan pihaknya masih melakukan pemeriksaan di lapangan. Saat ini, fokus utama tim gabungan adalah melakukan pemadaman dan pendinginan agar api tidak kembali menyala maupun meluas ke area lain.

Sementara itu, dugaan adanya unsur kesengajaan dalam pembakaran lahan masih didalami melalui proses olah tempat kejadian perkara (TKP). Kepolisian belum menyimpulkan penyebab kebakaran sebelum seluruh hasil pemeriksaan dan penyelidikan diperoleh.

“Indikasi penyebabnya masih sama-sama kita cek di lapangan. Tim saat ini berfokus pada bagaimana pemadaman dan pendinginan. Dugaan unsur kesengajaan masih kita gali dari hasil olah TKP,” tegas Resky.

Dalam proses penanganan tersebut, Polres Kotim telah menetapkan satu orang sebagai tersangka terkait kasus karhutla. Penegakan hukum ini menjadi bagian dari langkah represif kepolisian untuk memberikan efek jera sekaligus mencegah terjadinya pembakaran lahan secara sengaja.

Di sisi lain, Wakil Bupati Kotim Irawati menyampaikan bahwa pemerintah daerah bersama unsur terkait terus memperkuat penanganan karhutla dengan turun langsung ke lokasi. Peninjauan dilakukan untuk memastikan kondisi lapangan serta proses pemadaman berjalan secara maksimal.

“Hari ini saya bersama Kapolres dan Kalaksa BPBD Kotawaringin Timur turun langsung ke lokasi lahan yang mengalami kebakaran,” ucap Irawati.

Ia menegaskan, kehadiran langsung unsur pemerintah dan aparat di lapangan diperlukan untuk melihat perkembangan kebakaran sekaligus memastikan personel gabungan dapat bekerja sesuai kondisi dan kebutuhan di lokasi.

Irawati mengapresiasi kerja keras seluruh personel yang terus berjibaku melakukan pemadaman. Menurutnya, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama karena kebakaran yang tidak segera ditangani dapat meluas dan menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat.

“Saya mengapresiasi kerja keras seluruh personel dan tim gabungan yang terus berjibaku di lapangan. Sinergi pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, pemadam kebakaran dan seluruh unsur terkait sangat penting,” tuturnya.

Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama ketika kondisi cuaca semakin kering.

Masyarakat diminta tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar karena api dapat dengan cepat menjalar pada lahan yang kering.

Irawati mengajak seluruh masyarakat ikut berperan menjaga lingkungan dengan mencegah munculnya titik api sejak awal. Upaya pencegahan dinilai menjadi kunci agar beban penanganan karhutla tidak semakin besar.

Pemkab Kotim bersama TNI-Polri, BPBD dan unsur terkait akan terus melakukan pemantauan serta penanganan terhadap titik-titik kebakaran. Selain pemadaman, langkah sosialisasi dan pencegahan juga terus dilakukan untuk menekan munculnya titik api baru di wilayah Kotim.

“Mari kita jaga Kotawaringin Timur bersama. Jangan membuka lahan dengan cara membakar,” demikian Irawati.

Sumber : ANTARANews Kalteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *